Berita Nasional


Priyo : Itu Betul-betul Menampar Kita

Nasional | Kamis, 28/04/2011 17:12 WIB | Ababil Gufron

Logo NII

Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso dan MUI sebenarnya sudah meminta penegak hukum, Polri untuk menindaklanjuti pergerakan Nasional Islam Indonesia (NII). Namun, hingga saat ini belum jelas tindaklanjut dari para penegak hukum.

 

Seperti yang dikutip dari kompas.com, Priyo Budi Santoso meminta pemerintah segera mengambil langkah-langkah strategis untuk melumpuhkan gerakan NII karena membahayakan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

"Itu betul-betul menampar kita, aparat kita juga teman-teman tokoh agama harus ada langkah dini yang dilakukan. Kalau tidak, taruhannya terlalu besar. Yang jelas, ini harus segera dilumpuhkan. Ada Indonesia kok ada negara lain," ungkapnya di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (28/4/2011).

 

Seperti dikutip dari detik.com, Ketua MUI mengatakan kecurigaan tersebut telah dilaporkan kepada Mabes Polri sejak 2002 silam, tetapi hingga kini belum jelas tindaklanjutnya. "Soal NII itu sudah kami laporkan ke Mabes Polri, tapi tidak ada kelanjutannya," ujar Ketua MUI, Amidhan, dalam diskusi bertajuk 'Radikalisme Berkedok Agama, Ancaman Bagi NKRI' di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (28/4/2011).

 

Kecurigaan tersebut berdasar hasil penelitian MUI ke Ponpes Al Zaytun pada 2002 silam. Sistem pendidikan yang diterapkan dinilai sama sekali tidak bermasalah, tetapi temuan MUI mengenai entitas NII memunculkan kegelisahan.

 

Seperti dikutip dari kompas.com, menurut Priyo, semua pihak terperanjat karena jaringan NII sudah cukup besar. Selain kewaspadaan masyarakat di lingkungan sekitarnya, pemerintah dan aparat intelijen memiliki peran yang lebih besar dalam menanggulangi gerakan-gerakan tersebut yang langsung maupun tidak langsung terhubung dengan aksi terorisme.

 

"Ini memang menjadi tugas kami di DPR, ormas agama untuk mendidik masyarakat. Tetapi tugas pemerintah dan intelijen jauh lebih penting menangkal itu. Kok bisa kecolongan dengan angka sebesar itu," ujarnya. 

 

Dalam dua pekan terakhir, berbagai kasus dugaan "cuci otak" oleh jaringan NII mulai bermunculan di sejumlah daerah, seperti Bogor, Malang, Bandung, dan Jakarta. Para korban umumnya mahasiswa semester awal. Mereka diajak berdiskusi dan dipengaruhi hingga dibawa ke sebuah tempat untuk dibaiat. (berbagai sumber)



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Berita Terkait