Berita Salingka Kampus


WR I : Gay dan Lesbian Perilaku Zina

Salingka Kampus | Rabu, 09/03/2016 17:09 WIB | Siti Sundari (Mg)

LGBT Dari Tiga Sudut Pandang

Suarakampus.com- Islam memandang gay dan lesbian sebagai perilaku zina, dan menyalahi fitrah manusia. Hal ini disampaikan Wakil Rektor (WR) I IAIN Imam Bonjol Padang, Ikhwan Matondang dalam Seminar Nasional LGBT di Aula H. Mansur Dt. Nagari Basa, Rabu (09/03). 

 

Dalam seminar tersebut Ikhwan mengatakan, dari sudut pandang agama LBGT menyalahi fitrah manusia, Islam memandang bahwa gay dan lesbian itu disebut dengan zina, hukuman bagi pelakunya bisa dihukum mati, ditanzil, dan dipenjara. “Bukan hanya agama Islam yang melarang keberadaan penyakit ini, tetapi agama lain juga melarangnya,” jelasnya WR I ini.

 

Lanjut Ikhwan, awal sejarah terjadinya LGBT ini pada zaman Nabi Luth, oleh karena itu umat Nabi Luth diberikan ganjaran yang sangat besar, penanganan LGBT adalah perang agamis dengan seksual. “Namun, saat ini agama sudah terpinggirkan dari wilayah publik,” lanjutnya.

 

Ikhwan menambahkan, bagi penderita LGBT ada perasaan ingin berubah, tetapi itu tergantung kepada usaha dan dukungan dari lingkungan penderita, oleh karenanya  pendidikan sangat berperan penting dalam menangani kebiasaan dan perilaku agar tidak menyimpang. “Penderita LGBT jangan dihindari tapi jangan dilestarikan pula perbuatanya," tambahnya.  

 

Dari sudut pandang psikologi Mardenny menuturkan, LGBT telah populer sejak dahulu, awalnya penderita LGBT adalah korban namun selanjutnya juga akan mencari korban. Selain itu Pasangan LGBT Adalah pasangan yang possessive hingga bisa menyebabkan pembunuhan karena takut hehilangan. “LGBT itu ditolong, bukan diberantas karena mereka punya keinginan untuk sembuh,” tuturnya.

 

“Adapun faktor-faktor penyebab penyakit LGBT, diantaranya faktor biologi, kemudian pola asuh yang salah, pola asuh itu sebaiknya pada saat umur anak 0 sampai 2 tahun seorang anak dekat dengan Ibu, 2 sampai 7 anak harus dekat dengan Ayah dan Ibu, umur 7 sampai 10 anak laki-laki dekat dengan ayah dan sebaliknya,” lanjutnya.

 

Berbeda dengan Riki Saputra melihat dari sudut pandang Hak Azasi Manusia (HAM) negara tidak boleh memberikan tekanan kepada penderita LGBT, karena mereka mempunyai hak sebagai warga negara yang harus dilindungi dan diobati. “Jangan pandang HAM dari seksual, LGBT tidak ada diopsi hukum negara dan LGBT bukan HAM,” jelasnya. (Mii*)

 



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Berita Terkait