Berita Salingka Kampus


Pimpinan UIN Meragukan Input Pendapatan Orang Tua Mahasiswa Jalur SPAN-PTKIN

Salingka Kampus | Selasa, 29/05/2018 14:41 WIB | Siddq, Fadhil

 Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum Perencanaan dan Keuangan Firdaus mengatak

Suarakampus.com- Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum Perencanaan dan Keuangan Firdaus mengatakan, hampir 70% mahasiswa baru jalur SPAN-PTKIN mengisi pendapatan orang tua dengan gaji Rp 500.000.00,- sampai Rp 1.000.000.00. Ini memicu keraguan pimpinan UIN Imam Bonjol Padang.

 

“Jadi ini menjadi tantangan ekstra UIN untuk mengelompok-ngelompokkannya,” katanya, Rabu (23/05) saat diwawancarai di ruangannya.

 

Hal senada juga disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan Hetti Waluati. Ia mengatakan kebanyakan mahasiswa memasukkan pendapatan orang tua sebesar Rp 1.000.000.00, Rp 800.000, dan Rp 500.000.00 dengan jumlah delapan bersaudara.

 

“Coba pikirkan bagaimana caranya lagi? Sementara kita tidak bisa survei satu per satu. Tapi ada juga yang jujur, ” katanya saat audiensi Sema-U, Senin (28/05) di Rektorat.

 

Sementara itu, masing-masing mahasiswa telah melaporkan pendapatan orang tuanya ke Akademik Mahasiswa. Hal ini berdasarkan wawancara suarakampus.com dengan salah seorang calon mahasiswa Jurusan Hukum Ekonomi Syariah, Sonia Lovita.

 

Ia mengatakan seluruh mahasiswa yang telah lulus, memverifikasikan data itu di Akademik Mahasiswa. Di sana ia juga diwawancarai seputar kehidupan termasuk pendapatan orang tua. ”Kami juga melampirkan rekening listrik, Pajak Bumi dan Bangunan, Kartu Keluarga dan Surat Keterangan Tidak Mampu,” katanya.

 

Artinya, pihak UIN IB masih belum percaya dengan pendapatan orang tua mahasiswa baru. Ini mengakibatkan banyaknya mahasiswa baru itu yang mendapatkan Uang Kuliah Tunggal tidak sesuai dengan pendapatan orang tua.

 

Hetti menanggapi, jika hanya data yang diberikan mahasiswa untuk digunakan dalam mengelompokkan besaran UKT, maka tidak ada mahasiswa yang berhak mendapatkan UKT walaupun UKT kelompok I.

 

“Harusnya nol rupiah, tidak pantas diberikan UKT Rp 400.000, tapi harus bagaimana lagi, kita tidak hanya semata-mata melihat data itu, kebutuhan operasional kita untuk menjalankan universitas juga menjadi hal yang utama,” kata dia.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Berita Terkait