Berita Pekanbaru


Jurnalisme Sastrawi Lebih Dalam dan Memikat

Pekanbaru | Rabu, 18/07/2018 23:45 WIB | Fitrah Al Sidiq

Suarakampus.com- Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Bahana Universitas Riau adakan Kel

Suarakampus.com- Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Bahana Universitas Riau adakan Kelas Menulis Jurnalisme Sastrawi II 2018 Tingkat Nasional. Pemateri pertama diisi oleh pendiri Indopress juga Koordinator Kompartemen Sindo Weekly Alfian Hamzah dengan materi Sejarah dan Praktik Jurnalisme Sastrawi, Rabu (18/06).


Alfian Hamzah menyampaikan, Jurnalisme Sastrawi dalam sejarahnya baru dipopulerkan pada tahun 1973 oleh Tom Wolfe dengan tulisan artikelnya berjudul The Birth Of The New Journalism: An Eyewitneess, ini adalah tulisan jurnalisme bergaya kesastraan pertama. Di Indonesia, Andreas Harsono memperkenalkan gaya berita panjang ini sepulangnya dari Amerika dengan tulisan berjudul Feature: Ibarat Menggoreng Mata Sapi.


Alfian menjelaskan, gaya penulisan ini sama seperti menulis novel. Namun memiliki perbedaan dalam hal isi, novel kadang bersifat fiksi sementara kepenulisan jurnalisme sastrawi harus fakta.


“Tekniknya hampir sama dengan novel, juga memiliki unsur-unsur novel, jadi lebih butuh tenaga ekstra dibandingkan membuat berita biasa," katanya.


Ia juga mengatakan, terdapat banyak keuntungan reportase gaya sastrawi, seperti sering mengangkat nama-nama yang jarang terliput oleh media. Contohnya, seorang jurnalis Amerika  memberitakan prosesi pemakaman seorang presiden dengan mewawancarai penggali kuburnya. "Kuncinya, jurnalisme sastrawi menyajikan reportase lebih dalam dan memikat karena ada sastranya," ungkapnya.

 

Pelatihan ini diikuti oleh 15 orang perwakilan LPM yang tersebar di Indonesia. Di gelar di Kampar, 17-23 Juli 2018. (Rri)

 



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Berita Terkait