Berita Pekanbaru


Kelas Menulis Jurnalisme Sastrawi II 2018 Bahana

Pekanbaru | Selasa, 24/07/2018 10:06 WIB | Fitrah Al Sidiq

Lembaga Pers Mahasiswa Bahana Universitas Riau menggelar Kelas Menulis Jurnalism

Suarakampus.com- Lembaga Pers Mahasiswa Bahana Universitas Riau menggelar Kelas Menulis Jurnalisme Sastrawi II 2018 atau Kenal Sastrawi. Pematerinya, Bahana telah mengundang Direktur Indopress dan Koordinator Kompartemen Sindo Weekly Alfian Hamzah, editor tirto.id Fahri Salam. Keduanya akan menyampaikan materi seputar literary jurnalizm, tulisan panjang, atau feature.


Peserta kelas ini 15 mahasiswa dari berbagai lembaga persma di Indonesia yang telah dinyatakan berhak mengikuti kelas itu selama seminggu, Selas-Senin (17-23/06). Ummu Amnah dari LPM Teropong Medan, Asri Agustin LPM Aklamasi Riau, Dina Maulina LPM Dinamika Medan, Nadiah Asri Simbolon LPM Suara USU Medan, Yolanda Septia Putri SKK Ganto Padang, Silviana UKPM Teknokra Lampung, Madhihah LPM Solidaritas UIN Sunan Ampel, Irna Deviana LPM Gagasan Riau, Stefani Yulin LPM Gema Keadilan Semarang, Yanda Dewi Kurnia SKK Ganto Padang, Marlina LPM Washilah Makassar, Dicky Pangindra LPM Bahana Riau, Hamda Alfansuri LPM Perisai Jakarta, Fitrah Al Sidiq LPM Suara Kampus Padang, Suti Sri Handayani LPM Sketsa Umnul Kalimantan, dan Alfio Santos LPM Manunggal Universitas Diponegoro.

 

Acara kelas menulis ini sekaligus memeriahkan hari jadi Bahana ke-35. Pimpinan Umum Bahana Agus Alfinanda mengatakan pelatihan semacam ini akan terus diadakan tiap tahunnya. Namun, tempatnya akan dilaksanakan di daerah yang berbeda dari sebelumnya. "Rencananya kami akan ganti-ganti tempat tiap tahunnya. Tahun besok belum tahu kami akan mengadakannya di kabupaten mana," katanya saat sambutan peringatan Milad di gedung serbaguna Pascasarjana Universitas Riau, Selasa (17/06) malam.

 

Turut hadir malam itu Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UNRI Syapsan, Dinas Kominfo perwakilan Pemda Kampar, Keluarga Besar Ikatan Alumni Bahana, Badan Eksekutif Mahasiswa UNRI, dan Forum Pers Mahasiswa Riau.

 

Esok paginya, Bahana membawa peserta ke Taman Rekreasi Stanum, Bangkinang, Kabupaten Kampar menggunakan bus milik UNRI. Jaraknya dua jam perjalanan dari tempat kantor redaksi Bahana. Di Stanum ini peserta menginap di rumah Lontiok, rumah adat orang Riau. Di belakangnya ada ruang rapat. Di situ peserta mendapatkan materi dan teori-teori jurnalisme sastrawi.

 

Siang harinya, peserta langsung mendapatkan materi itu. Alfian Hamzah menjadi pemateri pertama. Ia menyampaikan tentang sejarah dan teknis menulis jurnalistik bergaya sastra. Katanya, gaya ini dapat menyajikan berita lebih dalam dan memikat pembaca. "Kalian harus mencari data dari berbagai sudut pandang dan harus menuliskannya seperti orang menulis novel," jelas Alfian.

 

Meskipun memikat, kita harus menuliskan kalimat per kalimat secara tegas, lugas, dan tidak berbunga-bunga yang dapat menimbulkan multitafsir bagi pembaca. Intinya, data-data yang kita beberkan merupakan fakta yang sebenarnya. "Soal fakta inilah yang membedakan tulisan ini dengan karya novel," katanya.

 

Selama tiga hari dengan Alfian, selain mendengarkan materi peserta juga mendapatkan tugas menulis. dan akan dievaluasi esoknya. Tugas seperti membuat tulisan dengan gaya orang pertama “aku” atau “saya” dan menuliskan sebuah kejadian dimulai dengan adegan tanpa penjelasan.

 

Ia sering menggelari peserta dengan sebutan ‘penulis spesialis penyiksa pembaca’ karena peserta menulis sampai empat hingga lima paragraf, padahal maksud intinya bisa tersampaikan hanya dalam satu paragraf. "Kenapa harus berpanjang-panjang dan berbunga-bunga," katanya, Jumat (20/06). Kata spesialis penyiksa pembaca jadi populer di kalangan peserta sehingga mereka sering mengulang kata itu kepada sesama mereka di penginapan.

 

Peserta juga menerima teknik-teknik mewawancarai narasumber. Katanya, kalau ingin mewawancarai seseorang kita harus mengenalkan diri sejelas-jelasnya dan juga mengenai lembaga kita berasal kepada narasumber. "Ini agar dia mau mendengarkan anda dan mau memberikan informasi kepada anda. Namun, anda juga perlu mengingat bahwa sebenarnya anda se-'level' dengan dia," ujarnya. 

 

Tiba di hari ke empat. Giliran Fahri Salam memberikan materi. Ia baru bekerja di tirto.id selama setahun setengah, katanya. Sebelum itu ia penulis freelance. Fahri mendapat bagian menerangkan struktur kepenulisan atau outline, proses menulis, etika reportase. Seperti waktu bersama Alfian, peserta juga harus membuat tulisan, kali ini tentang pendeskripsian sesuatu atau kejadian secara padat yang mewakili seluruh indera.

 

Ia mengatakan tulisan panjang itu kita boleh membaginya menjadi tiga kelompok. Pertama prolog, pembuka kata. Kedua, isinya. Ketiga epilog atau penutup. "Di paragraf pembuka pembaca sudah tahu apa yang kita tulis," jelasnya.

 

Ia menyarankan kepada peserta agar memulai menulis dari hal-hal terdekat, seperti tentang sekitar rumah, kos, kampus, dan lain sebagainya. Karena menurutnya, tulisan akan dapat mengesankan kalau kita dekat dengan objek atau peristiwa tersebut. "Kalau kita ingin menulis tentang sungai kecil yang kumuh, ya kita harus terjun juga ke dalamnya. Lalu gunakan juga sudut pandangmu," katanya, Minggu (22/06).

 

Yang terpenting dalam tulisan panjang adalah runut dan penulisan kalimatnya harus masuk akal. "Penulis atau editor harus jeli dan memikirkan logika kalimat," katanya. Ia menasihati, kalau tidak menjadi penulispun, menulis dapat melatih kita berpikir sistematis. Ia juga menceritakan tentang tirto.id dan pengalamannya bekerja di sana.

 

Materi bersama Fahri selesai selama dua hari. Esoknya, Bahana membawa peserta menuju candi Muara Takus, tempat pusat kerajaan Sriwijaya tempo dulu. Malamnya, peserta sudah berada di kantor redaksi Bahana kembali. Kelas menulis selama seminggu telah selesai.

 

“Semoga peserta dapat memahami jurnalisme sastrawi dan mengembangkannya di lembaga persnya masing-masing. Namun, yang paling penting adalah silaturahmi kita sesama persma tetap terjalin,” ungkap ketua panitia Rizki Ramadhan, redaktur /layouter lembaga persma Bahana.

 

Asri Agustin setelah ia mengikuti kelas ini mengatakan dengan jurnalisme sastrawi membuat pikirannya menjadi terbuka dan menambah wawasan tentang cara menulis yang bagus dan benar. “Dengan ikut kelas ini pikiran saya lebih terbuka, Selasa (24/06).



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code: