Berita Salingka Kampus


Presma 2018 Diminta Tentukan Pilihan

Salingka Kampus | Jumat, 07/09/2018 21:56 WIB | Keke (Mg), Neni (Mg)

Kabar Presiden Mahasiswa UIN Imam Bonjol yang masuk dalam pemilihan calon legisl

Suarakampus.com- Kabar Presiden Mahasiswa UIN Imam Bonjol, Khairul Fajri, yang masuk dalam pemilihan calon legislatif menuai kontroversi kalangan aktifis kampus. Mereka menuntut agar Presma memilih salah satu antara jabatan Presma atau tetap nyaleg.


Ketua Senat Mahasiswa Universitas tahun 2016 Muhammad Rizky Darwan mengatakan, berdasarkan SK Dirjen 2016 mahasiswa yang tergabung dalam lembaga mahasiswa seperti Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa tidak boleh menjadi anggota atau kader maupun pengurus partai politik.


“Sesuai SK Dirjen 2016 yang saya baca memang tidak boleh, ini pelanggaran berat,” katanya saat diwawancarai, Jumat (07/09).


Risky juga mengatakan sebaiknya Presma bersangkutan memilih untuk tetap menjadi Presiden Mahasiswa yang berarti batal nyaleg atau berhenti ikut partai politik, atau memilih mengundurkan diri dari jabatan Presma. “Kalau yang bersangkutan bijaksana, ia harus menentukan pilihan,” katanya.


Ia berharap lembaga seperti senat mahasiswa harus tetap konsisten dengan aturan yang berlaku dan harus bergerak cepat dalam menindaklanjuti kabar yang beredar ini. Karena menurutnya, senat mahasiswa berwenang dalan menangani kasus ini.


Hal yang bisa dilakukan Ketua Senat 2017 adalah membicarakan hal ini ke Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan selaku penanggung jawab seluruh lembaga mahasiswa dalam kampus.


Sementara itu, Mukhsin Fikri, selaku demisioner Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang juga menjadi pesaing Fajri pada pemilihan presiden mahasiswa beberapa bulan lalu, juga mengatakan hal yang senada. Ia mengatakan ada baiknya Presma terkait memilih berjuang untuk kampus atau menjadi politikus. “Ada baiknya Presma memilih salah satu saja,” katanya ketika dihubungi via WhatsApp.


Namun, selagi berstatus mahasiswa hendaknya mahasiswa terhindar dari partai politik. Hal ini karena agar jati diri sebagai mahasiswa tetap terjaga. “Mahasiswa adalah jembatan masyarakat umum, bagaimana nantinya jika disetir kepentingan partai politik,” katanya. (Sdq)



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Berita Terkait