Berita Salingka Kampus


Kolaborasi Lembaga Adat, Ninik Mamak, serta Orangtua Dibutuhkan Tangkal LGBT

Salingka Kampus | Jumat, 09/11/2018 22:14 WIB | Geniva (Mg), Nari (Mg)

dfsdfdsfg

Suarakampus.com- Dosen Islam dan Budaya Minangkabau Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Imam Bonjol Padang, Yulizal Yunus mengatakan penanggulangan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bisa dilakukan dengan menghidupkan kembali adat dan memperkuat agama. Menurutnya, kolaborasi lembaga adat, ninik mamak, serta orangtua sangat dibutuhkan.


“Nilai adat itu kembali diaplikasikan dan disosialisasikan kepada anak muda, sehingga LGBT itu dapat dicegah, manusia lebih susah diawasi dari kerbau se-kandang,” ungkapnya saat diwawancarai suarakampus.com, Jumat (9/11).


Ia menyebutkan langkah awal memberantas LGBT di rumah dengan memisahkan tempat tidur antara anak perempuan dengan laki-laki. Katanya, rentang waktu memisahkannya ketika anak telah berumur sepuluh tahun.


“Kalau di Minang adik kakak sudah berumur sepuluh tahun tidak boleh berdekatan secara berlebihan,” kata budayawan sekaligus sastrawan yang akrab disapa Yuyu itu.


Ia menceritakan, perempuan di Minang dibagi kepada empat tingkatan. Yaitu, perempuan berumur 12 tahun ke bawah disebut batino. Jika lebih dan belum bersuami disebut gadih. Jika telah bersuami disebut padusi. Apabila telah lebih dewasa dan berwibawa disebut parampuan.


“Seorang gadis harus menjaga dirinya, gadis itu seperti bunga yang hanya dilihat kumbang dari jauh,” kata doktoral yang memertahankan disertasinya yang berjudul ‘Aspek-Aspek Pendidikan Islam dalam Sastra Ulama Minangkabau; Studi Syair Syekh Sulaiman al-Rasuli’ itu.


Kemudian, katanya, setelah di keluarga, seorang mamak (paruik) juga bertanggung jawab atas keberadaan kemenakannya. Sebab, jelasnya, di Minang nilai malu bukan berada pada ibu bapak melainkan pada mamaknya.


“Pola asuh di Minang dahulu adalah secara bersama, jadi jika berbuat aib yang malu adalah sukunya,” jelasnya.


Ia menyesalkan muda-mudi Minang yang belakangan ini kerap mengikuti serta tergoda dengan budaya luar. Berguru kepada google. Padahal, ungkapnya, adat Minangkabau telah mengatur harkat dan martabat baik laki-laki maupun perempuan.


“Sekarang gurunya gadget sehingga tidak berpegang pada adat lagi, anak zaman now,” katanya.


Harapannya, mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang mampu menonjolkan agama dan adat dalam kesehariannya sehingga menjadi teladan bagi masyarakat.


“Jadi kita yang memulai dari diri sendiri,” harap pentolan Persatuan Tarbiyah itu. (Sdq)



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code: