Berita Salingka Kampus


Lebih Dekat dengan Rinda, Penyumbang Emas Semata Wayang bagi Kafilah Sumbar di MTQN ke- 27 Medan tahun 2018

Salingka Kampus | Jumat, 07/12/2018 17:02 WIB | Sintia Hariani

Lebih Dekat dengan Rinda, Penyumbang Emas Semata Wayang bagi Kafilah Sumbar di M

Suarakampus.com- Tak ada yang mustahil selagi berusaha dan berdoa. Begitulah yang terjadi dengan Astuti Mairinda, satu-satunya penyumbang medali emas pada MTQN ke-XXVII di Medan Sumatera Utara pada 6-12 Oktober 2018 pada cabang lomba Musabaqah Makalah Quran (MMQ) golongan putri. Menurut pengakuannya, belum pernah terpintas di hati Rinda bakal mengikuti lomba MMQ. Namun, perihal menulis sudah dilakukannya sewaktu Sekolah Dasar, menulis diary.


Awal prestasi Rinda bermula ketika Rinda hendak memberikan rekap nilai sebagai syarat untuk mengikuti KKN kepada Wakil Dekan III Zaim Rais. Lalu, dengan melihat nilai Rinda tinggi, Zaim menawarkan Rinda untuk mengikuti lomba MMQ. Kebetulan, saat itu Zaim sedang mencari calon peserta yang bisa ikut bertanding dalam MTQN ke-36 tingkat provinsi Sumatera Barat di Sawahlunto tahun 2015. “IP yang tinggi berarti bahwa Rinda mempunyai analisa yang dalam,” kata Zaim saat diwawancarai suarakampus.com beberapa waktu lalu.


Esoknya, setelah memantapkan hati, gadis berkelahiran 28 Juni 1994 itu bersedia dan menerima tawaran itu. Lalu ia mengikuti latihan, beberapa kali, dan bertanding sebagai utusan Kabupaten Sijunjung di MTQN Sawahlunto, dan meraih Juara 3. Dua tahun kemudian, Rinda kembali mengikuti cabang yang sama di MTQN ke-37 tahun 2018 di Kota Pariaman masih sebagai utusan Kabupaten Sijunjung dan berhasil meraih Juara 1. Raihan juara ini membuat Rinda bisa melaju ke MTQN Tingkat Nasional di Medan lalu.


Perjuangan memang tidak menghianati hasil. Siang malam Rinda berlatih memperbaiki tulisan yang sudah dikoreksi pelatihnya. Terlebih ketika hari menjelang datangnya waktu perlombaan. Sistem kebut. Buku-buku yang menjadi bahan bacaan harus tetap dibaca demi mendapat referensi. Kata Zaim, Rinda selalu memperlihatkan perkembangannya setiap diminta perbaikan tulisannya. “Kalau boleh saya berbicara, Rinda adalah hard working woman,” kata Zaim menggambarkan kegigihan Rinda.


Lebih lanjut Zaim menceritakan, Rinda adalah sosok yang selalu ceria, hormat, semangat belajarnya tinggi, selalu mendahului dalam menyapa, dan cepat tangkap. Hal ini terbukti ketika ia mampu memperbaiki tulisannya setelah dijelaskan kesalahannya. “Saat itu ketika Rinda telah menuliskan suatu tema hingga delapan halaman, setelah saya koreksi, esoknya Rinda langsung melihatkan perbaikkannya. Jadi saya merasa komunikasi itu nyambung,” katanya.


Zaim Rais bukanlah mentoring satu-satunya bagi Rinda. Selain itu, ada Faisal Zaini Dahlan yang juga dosen di tempat Rinda berkuliah, Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama, dan juga Wakidul Kohar Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Zaim fokus melatih Rinda ketika ajang lomba tingkat provinsi lalu. Sementara, Faisal menjadi pemimbing Rinda yang ikut menemani Rinda ketika ajang MTQN di Medan. Namun, keduanya sama-sama melatih Rinda ketika sehari-hari di gedung Fakultas.

 

Di Medan, kafilah Sumatera Barat yang juga warga Tanjung Ampalu Kecamatan Koto VII Kabupaten Sijunjung itu berhasil mengalahkan Affaf Fadhilla Rofiah dari Jawa Timur juara 2, dan Andini Aprilia dari tuan rumah Sumatera Utara, juara 3. Rinda keluar sebagai juara setelah berhasil mempresentasikan makalah berjudul dari ‘Revolusi Mental ke Revolusi Moral Sebagai Solusi Bangsa’ dengan perolehan nilai 352.00 dari tema awal perlombaan tentang ‘Revolusi Mental’.


Penampilan Mahasiswa Pascasarajana Prodi Ilmu Hadits UIN Imam Bonjol Padang itu merupakan peserta terakhir dari enam finalis yang terdiri dari golongan putra dan putri. Konon, ia lebih suka tampil di awal-awal perlombaan ketimbang peserta terakhir. Hari itu, ia terpaksa mencoba berdamai dengan takdir. Selama presentasi, ia, begitu juga yang lainnya, diuji oleh sembilan orang dewan hakim, yang masing-masingnya memiliki bidang penilaian, di Gedung Serba Guna Sumektro Djajanegara Politeknik Pariwisata Medan Sumatera Utara, gedung perlombaan khusus cabang MMQ. Masing-masingnya diberi kesempatan selama lima menit untuk presentasi dan dilanjutkan dengan tanya jawab sekitar 15 menit. Perlombaan di Medan menjadi ajang MTQN terakhir untuk cabang yang ia ikuti.


Rinda memang tidak pernah melupakan siapapun yang berjasa dalam hidupnya, Buktinya ia selalu menghubungi Zaim sebelum lomba berlangsung dan meminta doa restu agar lomba yang diikutinya berjalan lancar. Bahkan setelah keluar hasil babak penyisihan dan Rinda berhasil mendapat nilai tertinggi, Rinda pun tak lupa mengabari pelatihnya. Zaim tidak pernah meminta Rinda untuk selalu menghubunginya dan tidak pernah menuntut untuk dihormati oleh Rinda, namun memang itulah yang selalu dilakukan oleh Rinda, sifat yang selalu ingat dan hormat kepada gurunya.


“Dia selalu mohon doa dari saya dan itu membuat saya terharu, kemudian saya menyemangati Rinda dan mengatakan bahwa saya selalu mendoakan Rinda dan insya Allah Rinda bisa jadi yang terbaik,” katanya.


Pandangan yang hampir sama dari Faisal, pelatih yang menemani Rinda pada MTQN di Medan kemarin. Ia mengatakan bahwa Rinda adalah orang yang ulet, sungguh-sungguh dalam bekerja serta mempunyai kemauan yang tinggi dalam belajar dan optimisme yang tinggi. Ia juga mengatakan selama persiapan lomba Rinda memang benar-benar semangat dan bekerja keras untuk menguasai materi yang akan dilombakan nya.


“Latihan terakhir itu dilakukan di Jakarta untuk pemantapan materi dan ketika di Medan menjelang hari perlombaan memang sudah tidak ada lagi latihan. Disitulah saya melihat Rinda giat sekali menguasai tema dan bahan yang akan dilombakannya,” ujarnya.


Kedua pelatihnya berharap, melalui cabang lomba MMQ ini, semakin banyak penulis yang lahir, karena, tidak hanya ketika lomba, tetapi tulisan tersebut juga dapat dikembangkan melalui berbagai media. “Semoga dengan kemampuan yang dimiliki Rinda dapat mengembangkan tulisannya di koran dan media lain, karna jika hanya lomba tentu ada batasan terutama batas usia tetapi dalam menulis tidak ada batasan dan dapat dilakukan seumur hidup,” katanya.

 

Di Medan, Astuti Merinda berpasangan dengan Gusnanda untuk golongan putra. Gusnanda berhasil melaju ke MTQN Medan setelah meraih juara 1 pada MTQN Tingkat Provinsi di Kota Pariaman beberapa waktu lalu. Di Medan, Gusnanda berada pada harapan dua. Gusnanda membawakan karya berjudul 'Revolusi Mental Sebagai Resolusi Jihad Era Digital'. (Sdq)



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Berita Terkait