Berita Kota Bukittinggi


Jangan Cepat Percaya pada Satu Media

Luhak UMSB Bukittinggi gelar diskusi bersama Abdullah Khusairi

Kota Bukittinggi | Kamis, 13/12/2018 00:02 WIB | Nuafal Ash shidiq

Lembaga Kajian Hukum dan Korupsi (Luhak) Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

 

Jangan Cepat Percaya pada Satu Media! 

Naufal Asshidiq - Bukittinggi 
Suarakampus.com - Jangan langsung percaya pada satu media massa. Kini 
publik harus kritis. Memeriksa, memverifikasi setiap berita-berita 
yang ingin dikonsumsi. Percaya satu media massa berarti akan siap 
mendapat framing dari media massa tersebut. 
Demikian dikatakan Pegiat Literasi Media, Abdullah Khusairi ketika 
menjadi narasumber Diskusi Mingguan Lembaga Kajian Hukum dan Korupsi 
(Luhak) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB)  
Kampus Bukittinggi, Rabu (12/12). 
Abdullah Khusairi menyajikan beberapa data penting tentang kondisi 
media massa dan korelasi dengan keberadaan media sosial. Diskusi 
dengan tema "Cerdas Bermedia Massa: Daulat Rakyat vs Kuasa Media" 
tersebut diikuti para akademisi, aktivis dan mahasiswa. 
"Dipandang dari segi kepemilikan, kecenderungan pemberitaan politik 
dan kepentingan kekuasaan, media massa hari ini juga tak ubah dengan 
terbelahnya publik dalam polarisasi politik," ujar kandidat doktor 
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini. 
Menurutnya, hoak dan fake news yang bersileweran di media sosial 
adalah dampak dari rendahnya literasi media di era informasi. "Ada 
kesenjangan antara kemajuan teknologi yang kian murah didapatkan 
dengan kesiapan orang dalam memilikinya. Kadang-kadang fake news 
diproduksi sekadar untuk lucu-lucuan tetapi bisa dianggap benar bagi 
pihak yang menerima," ujar bekas pengurus Aliansi Jurnalis Independen 
(AJI) Padang ini. 
Sementara hoak berkembang karena aktivitas jurnalisme lamban 
mengantisipasi. Junalisme kini memasuki kisah suram di tengah deru dan 
riuh media sosial. "Selain eksekutif, legislatif, yudikatif, di media 
sosial publik juga mulai menggerus kepercayaan mereka terhadap media 
massa," kata Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol 
Padang ini. 
Mantan jurnalis Padang Ekspres, Padang TV, Posmetro Padang, Padang-
Today.com ini mengunci pendapatnya, kedaulatan rakyat yang diberikan 
kepada lembaga media massa akan terus mengalami pasang surut seiring 
dengan pola lembaga media massa. Sedangkan media sosial adalah wahana 
baru yang bisa dimanfaatkan sebagai kedaulatan baru jika dikelola 
dengan seksama. 
Direktur Luhak, Dr. Wendra Yunaldi, MH, yang memoderatori diskusi 
mingguan ini menyatakan, keterkaitan dengan mahasiswa hukum, anggota 
Luhak, Fakultas Hukum, terhadap kecerdasan bermedia ini sangat banyak. 
Salah satunya upaya pencerdasan hukum (literasi hukum) terhadap 
masyarakat agar jangan terjebak dalam kasus hukum karena gagap 
bermedia sosial, bermedia massa dengan gadget atau smartphone. 
"Sudah banyak bukti yang terkena UU ITE. Ini kerja akademik dan 
pengabdian bagi kita semua di Luhak. Selain itu tentu saja, membaca 
celah dan kesempatan atas perkembangan teknologi informasi untuk 
diberdayakan. Termasuk juga, pemahaman baru tentang kedaulatan rakyat 
hari ini yang ditumpangkan ke media massa,"ungkap jebolan hukum UI dan 
Unisula ini.
Salah seorang peserta diskusi, Taufik mengatakan, agenda literasi 
media harusnya menjadi bahan kampanye yang dilakukan secara masif. 
"Saya pribadi tidak begitu mengetahui secara mendalam tentang media 
jadi acara seperti ini menarik sekali," tutur anggota komunitas 
pengamen di Kota Bukittinggi itu. (sdq)

 

Suarakampus.com - Jangan langsung percaya pada satu media massa. Kini publik harus kritis. Memeriksa, memverifikasi setiap berita-berita yang ingin dikonsumsi. Percaya satu media massa berarti akan siap mendapat framing dari media massa tersebut. 


Demikian dikatakan Pegiat Literasi Media, Abdullah Khusairi ketika menjadi narasumber Diskusi Mingguan Lembaga Kajian Hukum dan Korupsi (Luhak) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB)  Kampus Bukittinggi, Rabu (12/12). 


Abdullah Khusairi menyajikan beberapa data penting tentang kondisi media massa dan korelasi dengan keberadaan media sosial. Diskusi dengan tema "Cerdas Bermedia Massa: Daulat Rakyat vs Kuasa Media" tersebut diikuti para akademisi, aktivis dan mahasiswa. 


"Dipandang dari segi kepemilikan, kecenderungan pemberitaan politik dan kepentingan kekuasaan, media massa hari ini juga tak ubah dengan terbelahnya publik dalam polarisasi politik," ujar kandidat doktor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini. 


Menurutnya, hoak dan fake news yang bersileweran di media sosial adalah dampak dari rendahnya literasi media di era informasi. "Ada kesenjangan antara kemajuan teknologi yang kian murah didapatkan dengan kesiapan orang dalam memilikinya. Kadang-kadang fake news diproduksi sekadar untuk lucu-lucuan tetapi bisa dianggap benar bagi pihak yang menerima," ujar bekas pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang ini. 


Sementara hoak berkembang karena aktivitas jurnalisme lamban mengantisipasi. Junalisme kini memasuki kisah suram di tengah deru dan riuh media sosial. "Selain eksekutif, legislatif, yudikatif, di media sosial publik juga mulai menggerus kepercayaan mereka terhadap media massa," kata Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang ini. 


Mantan jurnalis Padang Ekspres, Padang TV, Posmetro Padang, Padang-Today.com ini mengunci pendapatnya, kedaulatan rakyat yang diberikan kepada lembaga media massa akan terus mengalami pasang surut seiring dengan pola lembaga media massa. Sedangkan media sosial adalah wahana baru yang bisa dimanfaatkan sebagai kedaulatan baru jika dikelola dengan seksama. 


Direktur Luhak, Dr. Wendra Yunaldi, MH, yang memoderatori diskusi mingguan ini menyatakan, keterkaitan dengan mahasiswa hukum, anggota Luhak, Fakultas Hukum, terhadap kecerdasan bermedia ini sangat banyak. Salah satunya upaya pencerdasan hukum (literasi hukum) terhadap masyarakat agar jangan terjebak dalam kasus hukum karena gagap bermedia sosial, bermedia massa dengan gadget atau smartphone. 


"Sudah banyak bukti yang terkena UU ITE. Ini kerja akademik dan pengabdian bagi kita semua di Luhak. Selain itu tentu saja, membaca celah dan kesempatan atas perkembangan teknologi informasi untuk diberdayakan. Termasuk juga, pemahaman baru tentang kedaulatan rakyat hari ini yang ditumpangkan ke media massa,"ungkap jebolan hukum UI dan Unisula ini.

Salah seorang peserta diskusi, Taufik mengatakan, agenda literasi media harusnya menjadi bahan kampanye yang dilakukan secara masif. "Saya pribadi tidak begitu mengetahui secara mendalam tentang media jadi acara seperti ini menarik sekali," tutur anggota komunitas pengamen di Kota Bukittinggi itu.  (Sdq)**



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Berita Terkait