Berita Salingka Kampus


Bahasa Arab sebagai Basis Studi Kebudayaan Islam

Salingka Kampus | Rabu, 09/10/2019 20:21 WIB | Muhammad Nasir

Bahasa Arab sebagai Basis Studi Kebudayaan Islam

Suarakampus.com- Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Imam Bonjol Padang gelar Kuliah Umum bertajuk Pengembangan Kajian Ilmu-ilmu Keadaban dan Humaniora. Kegiatan ini mengawali penandatangan Perjanjian Kerjasama kampus ini dengan  Fakultas Adab dan Humaniora  UIN Sunan Ampel (FAHUM UINSA) Surabaya, Rabu (09/10/2019) di Aula FAH UIN Imam Bonjol Padang.

 

Dr. Agus Aditoni, Dekan FAHUM-UINSA yang menjadi pembicara pertama kuliah umum ini mengatakan mengatakan,  meskipun al Qur’an adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw,  bahasa Arab (al-Qur‘an) tetap merupakan bahasa manusia atau produk budaya bangsa Arab. Karenanya, “Bahasa Arab bukanlah semata bahasa tuhan atau malaikat,” tegasnya.

 

Al Qur’an di satu sisi mesti dipelajari dan dipahami sesuai dengan maksud Allah ketika mewahyukannya. Namun, jangan hanya berhenti sampai tahap mensakralkannya sebagai bahasa kitab suci dan terhormat saja.  Bahasa Arab lebih jauh merupakan bahasa budaya Islam  (lughah al-tsaqâfah al-Islâmiyyah). Karena itu, kita (akademisi) masih dapat mempelajari pesan al Qur’an dengan pendekatan kebudayaan. “Bagaimanapun, bahasa adalah bagian dari sistem kebudayaan,” tegasnya.

 

Lebih lanjut ia menguraikan, sebagai produk dan subsistem budaya, bahasa Arab mempunyai dimensi linguistik, humanistik, sosio-kultural, dan pragmatik. Bahasa Arab pada dasarnya tunduk kepada (mengikuti) sistem linguistik yang telah menjadi kesepakatan penutur bahasa ini (nâthiq bi al-Arabiyyah). Pandangan ini mengisyaratkan bahwa bahasa Arab adalah sebuah sistem sosial-budaya yang terbuka untuk dikaji, dikritisi, dan dikembangkan. Karena itu pula lah, bahasa Arab menjadi relevan sebagai bsis pengembangan studi kebudayaan Islam.

 

Belajar Bahasa Asing merupakan Seruan Ilahiyah

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Nasaruddin, M.Ed yang juga Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama FAHUM UINSA menyampaikan pokok-pokok pikirannya tentang bagaimana membangun epistemologi kajian ilmu-ilmu keadaban melalui ekspolarasi konsep yang bersumber dari lafadz al Qur’an.

 

Dalam slide presentasinya yang bertajuk “Konsep Ta’aaruf Dalam Alquran Dan Pengembangan Kajian  Ilmu-ilmu Keadaban” ia menguraikan secara ringkas tentang konsep “ta’aruf” dalam konteks ayat 13 Surat Al-Hujurat, untuk dijadikan sebagai landasan teologis dan filosofis bagi pengembangan kajian ilmu-ilmu keadaban, terutama kajian bahasa dan budaya.

 

Menurutnya, konsep ta’aruf yang ia eksplorasi lebih ditujukan sebagai  landasan pengembangan bahasa asing, termasuk bahasa Arab.  Khitab “Waja’alnaakum Syu’uuban Wa Qabaaila Lita’arafu” dalam surat Hujurat ayat 13 di atas secara tersirat menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda satu sama lain. Artinya, keberadaan bahasa asing adalah bagian tak terpisahkan dari penciptaan manusia.

 

Selanjutnya, Jika ta’aaruf antara suku bangsa adalah seruan ilahiyyah, maka belajar dan menguasai bahasa yang berbeda-beda sebagai media untuk mewujudkan itu juga harus dipandang sebagai seruan ilahiyyah. “Karena itulah, belajar bahasa asing merupakan media vital bagi proses ta’aaruf di antara mereka,” pungkas Alumni S3 Universitas Nelain Sudan ini. (aii)



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code: