Berita Sumatera Barat


Penyuluh Balai Bahasa Sumbar, Wahyudi: Kurangi Penggunaan Bahasa Asing

Sumatera Barat | Selasa, 03/12/2019 19:37 WIB | Alif Ilham Fajriadi

 Penyuluh Balai Bahasa Sumbar, Wahyudi: Kurangi Penggunaan Bahasa Asing

Suarakampus.com- Penggunaan bahasa asing di kehidupan sehari-hari hendaknya dilakukan secukupnya saja, bukan digunakan setiap saat. Hal tersebut disampaikan oleh Wahyudi, selaku penyuluh di Balai Bahasa Sumatra Barat (Sumbar) pada Minggu (01/12), dalam kegiatan penyuluhan penggunaan bahasa media luar ruang di kota Padang.

 

Wahyudi mengatakan, sasaran pembaca atau pendengar harus diperhatikan dalam menggunakan bahasa di kegiatan sehari-hari. "Sasarannya harus kita lihat juga, kalau orang itu tidak mengerti bahasa asing, gunakan saja bahasa Indonesia," ucapnya di Aula Balai Bahasa.

 

Wahyudi menuturkan, banggalah menggunakan bahasa Indonesia, sebisanya bahasa asing itu dikuasai saja, bukan digantikan sebagai bahasa sehari-hari. "Banyak kita lihat, penggunaan bahasa di ruang publik yang tidak menggunakan bahasa Indonesia, tapi bahasa asing, padahal target pembacanya adalah rakyat Indonesia," tuturnya.

 

"Penggunaan bahasa Indonesia yang tidak tepat akan membuat masyarakat bingung, tumbuhkanlah kesadaran berbahasa yang baik dan benar," ucapnya.

 

Harusnya, masing-masing instansi lebih menggalakkan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik kata Wahyudi, seperti moto Balai Bahasa Sumbar, utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing.

 

Selain itu, Wahyudi menjelaskan jika penggunaan bahasa Indonesia telah diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 Tahun 2019, tentang penggunaan bahasa Indonesia. Di sana dituliskan bahwa penggunaan bahasa Indonesia harus memenuhi kriteria bahasa Indonesia yang baik dan benar.

 

"Penggunaan bahasa Indonesia telah diatur dan dibuat pedomannya oleh negara, harusnya itu menjadi pedoman kita, karena bahasa bisa disebut sebagai simbol negara," pungkasnya.

 

Wahyudi mengungkap, pada satu waktu memang bisa digunakan bahasa Indonesia yang tidak baku, namun dalam penulisannya harus dimiringkan. "Untuk ranah anak-anak muda, dibolehkan menggunakan bahasa tidak baku, misalnya di spanduk atau papan iklan di ruang publik, untuk menarik minat pembaca," ungkapnya di akhir pemberian materi. (Lif)



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Berita Terkait
Suarakampus