Konsultasi Psikologi


Berpikir Kreatif Cara Aktif Menanggulangi Pengangguran

Psikologi | Selasa, 03/04/2018 | Pengasuh : Lisa Arischa, Ilsa (Mg), Agung (Mg)

Pertanyaan :

Bagaimana cara wisudawan mengendalikan stres pasca wisuda?


Jawaban :

Wisuda, sebagai "ritual" akademik mahasiswa merupakan agenda yang dinantikan. Dengan gelar sarjana yang diperoleh setelah proses yang melumat waktu bertahun-tahun itu, membuka kesempatan melangkah pada tahap kehidupan selanjutnya, bekerja. Namun demikian, pasca wisuda, tidak semua wisudawan yang merasa cukup bekal untuk melangkah, pasalnya beberapa wisudawan merasa belum mumpuni untuk bekerja atau belum melihat peluang bekerja dan masih menunggu untuk bekerja.


Keadaan seperti itu perlahan-lahan memberi tekanan pada wisudawan yang lambat-laun bisa berefek stres. Dalam Psikologi, stres merupakan suatu kewajaran saat seseorang berada dalam tekanan. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bagus jika orang tersebut tidak bisa mengendalikan stres. Melakukan hal-hal positif menjadi salah satu metode mengendalikan stres.


Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tiga wisudawan UIN Imam Bonjol Padang, mengindikasikan bahwa pasca wisuda, mereka merasa terbebani oleh dunia kerja sebagai konsekuensi gelar yang telah disandang.


Seperti yang dikatakan wisudawan angkatan ke-77, Muhammad Rasyid. Ia mengaku terbebani oleh tuntutan untuk bekerja dari orang-orang terdekatnya seperti orang tua dan teman-teman yang peduli dengannya.


"Saya termasuk orang yang cukup sering mendengar pertanyaan seputar pekerjaan dari orang terdekat, mulai dari di mana kerja? Kapan kerja? Sudah melamar kerja ke mana saja?," kata dia.


Namun demikian, Rasyid mengatakan hal itu merupakan suatu kewajaran bagi orang tua, karena sebagai anak ia wajib membahagiakan orang tuanya, salah satunya dengan mendapatkan pekerjaan yang layak.


"Saya rasa, 50 persen saya merasa terbebani, namun setengahnya lagi juga tidak terlalu terbebani," ungkap mahasiswa Jurusan Jurnalistik ini.


Wisudawan angkatan ke-78, Gusvia Mulyani juga merasakan hal yang sama. Sebagai anak pertama, ia merasa terbebani oleh tuntutan bekerja. "Tuntutannya pasti akan lebih, jadi yang saya pikirkan waktu itu, saya harus lebih gigih lagi mencari kerja," ungkapnya.


Begitu pula yang dialami wisudawan pasca sarjana angkatan ke-78 Muhammad Hadi. Pasca wisuda, Hadimerasa gamang dengan persaingan dunia kerja yang lambat-laun akan digelutinya. "Setelah lulus tentu saya juga pernah merasakan takut akan kompetisi dunia kerja yang begitu ketat dan takut tidak mendapatkan pekerjaan," tuturnya.


Dengan beban tuntutan bekerja yang dipikul wisudawan sehingga menyebabkan stres, lalu bagaimana upaya pengendalian stres bagi para wisudawan yang belum bekerja? Berikut beberapa tips yang diberikan oleh dosen pada Jurusan Psikologi Islam UIN Imam Bonjol Padang, Rahmadianti Aulia dan Widya.


Rahmadianti mengatakan, wisudawan yang belum bekerja harus berfikir kreatif untuk membuka peluang usaha di tengah-tengah masyarakat. "Hal ini bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi pengangguran yang melimpah ruah pada masyarakat," kata dia.


Ia juga mengatakan, sebelum mencari pekerjaan, wisudawan juga terlebih dahulu harus mengenali potensi diri dalam bekerja dan menjaga percaya diri menghadapi dunia kerja. Untuk melamar pekerjaan yang sesuai dengan bakat minat.


Rahmadianti mengatakan, jika digali dari sisi psikologis, terdapat dua faktor yang melatarbelakangi timbulnya stres, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal itu seperti, kurang percaya diri, dan pesimis. Sedangkan faktor eksternal dicontohkannya seperti tuntutan dari orang tua, teman atau lingkungan.


Pada faktor internal kurangnya percaya diri, Rahmadianti mengatakan, timbul karena wisudawan tidak memiliki skill (kemampuan) pada bidang selain keilmuan yang digelutinya. Hal ini menjadi penting karena selain kemampuan akademik, wisudawan juga sebaiknya memiliki kemampuan yang lain, sehingga peluang kerja tidak sempit. "Sebenarnya kuliah itu bukan sebatas nilai bagus dan cepat lulus, tapi yang terpenting juga skil," kata dia.


Terkait faktor eksternal berupa tuntutan dari orang tua, Rahmadianti menyarankan orang tua agar lebih mengerti dengan kondisi anak sembari memberikan nasehat guna mengurangi tekanan yang dirasakannya. "Jika orang tua membimbing anaknya dengan baik, maka sang anak tidak akan terlalu merasa tertekan dengan tuntutan orang tua setelah wisuda," ucapnya.


Rahmadianti berharap, wisudawan selalu optimis dan berusaha untuk mengasah potensi yang dimiliki untuk bekerja. "Kita harus percaya bahwa semua orang pasti memiliki potensi dalam dirinya," harap dosen yang mengajar mata kuliah Psikologi Perkembangan ini.


Salah seorang pakar Psikologi lainnya, Widya mengatakan, dalam usaha mencari pekerjaan, wisudawanjuga harus menjaga komunikasi dengan orangtua dan lingkungan sekitarnya. Pasalnya, hal itu akan memberikan kemudahan untuk mendapatkan pekerjaan.


"Tidak menutup kemungkinan ada informasi-informasi bekerja dari orang-orang disekeliling kita," tutur dia.


Selain itu, wisudawan juga harus berusaha maksimal, berdoa, pantang menyerah dan banyak bersabar. Pasalnya, tidak menutup kemungkinan lamaran kerja yang diajukan, ditolak oleh pihak-pihak bersangkutan. "Jangan mudah menyerah, serta yakinlah dengan usaha serta doa semua bisa dilalui," kata dia.


Jika telah mendapatkan peluang bekerja, wisudawan juga harus menekuni bidang yang akan digelutinya itu dan mempersiapkan diri dengan maksimal.


"Persiapkan diri untuk melakukan tes wawancara serta belajarlah ketik akan melakukan tes seleksi tulis dan wawancara," tegasnya.

 

 

 

 

 

 





• Konsultasi Terkait