Life Style Pernak - Pernik


Batu Akik, Trend Semua Kalangan

Sabtu, 05/10/2013 23:16 WIB | Annisa Efendi

Batu Akik

Bicara gaya hidup mahasiswa artinya juga berbicara trend yang mengikuti perkembangan zaman. Tentu saja tidak bisa dinafikan keberadaan perhiasan sebagai pernak-perniknya. Seperti cincin, kalung, gelang, anting dan sejenisnya. Perhiasan bukan hanya emas dan perak, namun ada juga beberapa perhiasan yang terbuat dari batu mulia atau batu permata yang lebih dikenal sebagai batu akik.

 

Akhir-akhir ini, trend memakai perhiasan yang dihiasi batu akik sedang marak di kalangan mahasiswa. Batu akik adalah jenis batu permata yang berasal dari campuran mineral alam. Batuan jenis ini memiliki komposisi kimia alam yang berbeda-beda. Komposisi yang dikandungnya ini mempengaruhi struktur kristal di dalamnya, sehingga mempengaruhi tingkat kepadatan masing-masing batu. Dalam pengklasifikasiannya digunakan Skala Mohs dari 1 sampai 10. Batu akik adalah istilah yang dipakai untuk mengklasifikasikan batu permata dengan skala Mohs di bawah 7,5. Sebelum menjadi batu permata, batu mulia harus di poles terlebih dahulu sebelum dijadikan perhiasan. Jenis batuan ini diminati oleh para kolektor dan mempunyai harga jual yang tinggi.

 

Batu mulia yang paling diminati di dunia adalah batu akik jenis anggur seperti biru langit dan kecubung, selain batu mulia seperti Zamrud, Ruby, Safir dan Berlian tentunya. Diburu oleh para kolektor karena kualitas kristalnya. Meski begitu, tidak semua tempat di dunia mengandung batu permata. Di Indonesia sendiri hanya beberapa tempat yang menghasilkan batu ini, seperti provinsi Banten, Sumatera Barat, Lampung dan Kalimantan. Harga batu mulia ini pun beragam, tergantung pada bahan mentahnya sebelum diolah menjadi perhiasan. Mulai dari 25.000 rupiah hingga 1,5 milyar rupiah.

 

“Sekarang ini, budaya yang berkembang di masyarakat adalah budaya konsumtif. Life style atau gaya hidup yang dipengaruhi oleh faktor buying dan income,” ungkap Andri Rosadi, dosen Fakultas Ilmu Budaya Adab. Ia juga memaparkan, pola konsumtif zaman dahulu sangat berbeda dengan pola konsumtif zaman sekarang (zaman modern, red). Pola konsumtif masyarakat zaman dahulu semata-mata untuk memenuhi kebutuhannya. Sementara sekarang ini, pola konsumtif masyarakat dipengaruhi oleh dunia industri. Masyarakat berubah menjadi komunitas yang transisi, tidak memiliki identitas dan tidak memiliki filter dalam menerima kebudayaan apapun yang datang kepada mereka.

 

Ada perbedaan pola dalam mem-filter kebudayaan asing yang masuk antara masyarakat kota dengan masyarakat yang hidup di desa. Status sosial masyarakat ditentukan oleh hal yang berbeda pula. Status sosial masyarakat desa lebih dinilai dari berapa banyak bidang tanah dan persawahan yang dimiliki. Sementara bagi masyarakat kota yang notabene sudah dipengaruhi oleh dunia industri, status sosial komunitas ini dinilai dari Branded atau Merk barang-barang yang mereka konsumsi.

 

Seperti halnya industri batu mulia ini, para kolektor batuan mulia bahkan rela merogoh kocek mereka hingga milyaran rupiah hanya untuk membeli sebuah batu mulia. Terlepas dari hobi, hal ini dinilai terlalu berlebihan.

 

Agama pun menganjurkan kita untuk tidak berlaku boros dan berlebih-lebihan. Tercantum dalam Al Quran surat Al Isra ayat 26, “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

 

Dari kutipan ayat di atas, terlihat jelas bagaimana agama menganjurkan untuk berbuat baik kepada sesama selain mementingkan hobi. Hobi seseorang memang tidak bisa dijustifikasi begitu saja. Alangkah lebih baik jika kita mampu memilah dan memilih hal mana yang lebih bermanfaat untuk dilakukan. Bukan berarti hobi seseorang itu tidak bermanfaat, karena hobi merupakan salah satu alat untuk pemenuhan kebutuhan ruhaniah manusia. Namun, ada batas yang perlu ditaati di sini. Mungkin membeli batu akik yang harganya lebih standar. Hobi tetap terpuaskan, gaya hidup sederhana pun terjalani.

 

Perhiasan batu akik juga menjadi perbincangan yang sedang booming di kalangan mahasiswa. Seperti yang dipaparkan oleh Rahmad Rifa’i, mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol yang biasa menggunakan perhiasan batu akik. “Saya menggunakan perhiasan ini karena tertarik dengan bentuknya yang indah”. Mengenai persepsi masyarakat yang mengaitkan batu cincin ini dengan hal-hal ghaib, ia mengaku tidak percaya. Ia juga mengatakan telah memakai cincin ini sejak dua tahun lalu dan itu hanya untuk kesenangan semata.

 

Ketika perbincangan mengenai batu akik ini menghiasi berbagai kalangan masyarakat, cerita menarik juga hadir dari seorang penjual batu akik. Angga (28), seorang pedagang batu akik di Pasar Raya Padang mengaku telah menjual batu akik ini selama 5 bulan. Bahan mentah batuan mulia ini ia dapat dari distributor yang mengaku memperolehnya dari Lampung, Pesisir, dan Sungai Dareh di Solok Selatan. “Dari semua batuan mulia yang saya jual, batuan yang berasal dari Sungai Dareh lebih diminati oleh pembeli. Alasannya karena presiden Indonesia, SBY juga memakainya. Peminat perhiasan ini bukan hanya dari kalangan laki-laki tapi juga dari kalangan perempuan, ibu-ibu dan mahasiswi,” ujar pria asal Kamang Mudik ini.

 

Harga batuan yang ia jual pun beragam. Mulai dari Rp. 25.000,- hingga Rp. 600.000,-. Variasi harga ini tergantung kepada jenis bahan mentah dan berapa banyak biaya yang dihabiskan untuk mengolahnya sampai menjadi batu untuk hiasan cincin atau pun kalung. Dalam sehari omset yang ia peroleh minimal Rp.150.000,-.

 

Perspektif Sosial Budaya

Meski budaya batu akik menjamur pada berbagai daerah di Indonesia, namun ada perbedaaan budaya dalam memahami batu mulia ini. Di Sumatera, masyarakat memiliki akses penuh untuk mendapatkan jenis perhiasan yang satu ini. Pedagang batu akik dengan mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional masyarakat. Berbeda dengan di Jawa, ada dua paradigma yang berkembang dalam menilai batu akik. Pertama, batu akik dalam pandangan ilmu spiritual. Kedua batu akik dalam pandangan masyarakat awam. Hal ini dipaparkan oleh Miftahul Huda, mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang. Dalam dunia mistis atau spiritual, batu-batuan ini tidak diperjual belikan begitu saja. Meski ada beberapa yang menjualnya sebagai perhiasan. Dalam dunia spiritual, batu tersebut di isi dengan ilmu-ilmu ghaib. Tujuannya lebih dominan untuk berjaga-jaga. “Saya pernah melihat sebuah batu mulia yang ketika diusap-usap akan mengeluarkan air. Bahkan ada yang terbang dan untuk mengambilnya harus ada ilmu khusus yang dimiliki. Selain itu, batuan yang sudah “diisi” harus dirawat oleh pemiliknya. Karena jika tidak, batu tersebut akan hilang,” ungkap mahasiswa semester IV ini.

 

Faktor budaya juga membatasi siapa saja yang bisa memakai batuan ini. Di Sumatera Barat, trend memakai batu akik bukan hanya di kalangan orang dewasa, datuk, dan tetua kampung saja. Bahkan banyak remaja yang memakainya sebagai perhiasan mereka. Sementara di pulau Jawa, trend memakai batu akik lebih dominan dikalangan pria yang sudah beristri.

 

Budaya batu akik dalam dunia spiritual ini ditanggapi oleh DR. Welhendri Azwar, M.Si. “Budaya batu akik yang berkembang di kalangan masyarakat spiritual hanyalah pernak-pernik yang menghiasi kehidupan sosial masyarakat. Meski ia di isi dengan hal-hal ghaib. Namun, ketika ada paradigma yang menganggap batu tersebut memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu, secara tidak langsung masyarakat sudah menuhankan benda yang diciptakan oleh Tuhan”, ujar Wakil Dekan Fakultas Dakwah bidang kemahasiswaan ini.

 

Namun, mengingat latar budaya masyarakat yang sudah terlebih dahulu dipengaruhi oleh Animisme dan Dinamisme, hal ini tidak dapat dijustifikasi negatif sepenuhnya. Misalnya saja dahulu, katakanlah saat zaman peperangan, banyak dari nenek moyang kita yang menggunakan kekuatan magis dalam batu akik ini untuk hal positif. Melawan penjajah. Mustahil para pejuang kita bisa memperjuangkan kemerdekaan dan melawan penjajah jika hanya bermodalkan senjata tradisional (bambu runcing, red). Bukan hanya batu akik, bahkan ada ilmu tersendiri yang dijadikan modal untuk menghadapi penjajah. Namun jangan melupakan bahwa campur tangan Tuhan lah yang lebih berperan dalam hal ini.

 

Fanatisme yang terkadang menghiasi peminat batuan mulia jenis ini kembali ditanggapi oleh Miftahul Huda. “Saat seseorang mengkoleksi benda lantaran dia menyukainya, itu adalah hal yang wajar. Bahkan ada beberapa yang menjadikan kegiatan koleksi batu akik sebagai hobi. Namun, jika berbicara tentang fanatisme yang berbau mistis, hal ini sudah berada di luar konteks wajar,” ujarnya saat diwawancarai wartawan Suara Kampus.

 

Budaya batu akik tidak hanya menghiasi ranah sosial masyarakat saat ini saja. Namun, budaya ini telah lama berkembang sejak zaman dahulu. Entah itu di Sumatera Barat ataupun di pulau Jawa. Bedanya dulu, mayoritas pengguna batu akik adalah dari kalangan datuk dan tetua kampung. Atau laki-laki dewasa dalam arti luas. Berbeda dengan sekarang, dimana para remaja juga tertarik untuk memakai perhiasan ini. Baik itu laki-laki maupun perempuan. Dalam konteks ilmu spiritual, hal yang dapat dilakukan ke depannya adalah meminimalisir sikap fanatik terhadap batu akik. Percaya dengan khasiat dan kekuatan yang dimiliki batuan mulia ini. Karena mustahil untuk menghilangkannya. Mengingat latar belakang budaya masyarakat yang terlebih dahulu sudah dihiasi Animisme dan Dinamisme.

 

 




• Pernak - Pernik Terkait