Opini › Opini


Gerakan Mahasiswa Diborgol

Sabtu, 29/05/2010 12:58 WIB | Oleh : Dapit Alexsander*

Gerakan mahasiswa memang menarik untuk di perbincangkan dan di pergunjingkan. Sulit membedakan gerakan mahasiswa holistik maupun gerakan mahasiswa parsial. Mungkin saat ini hampir tidak di temukan gerakan mahasiswa yang holistik. Yakni, yang lahir dari mainset  idealis bukan oportunis dan bukan pragmatis.

 

Terkadang gerakan mahasiswa hanya hadir dalam suksesi kepemimpinan, yang sering kali menimbulkan konflik yang tiada arti. sehingga cenderung menjadi biang kerok terjadinya pertikaian. Persaingan gerakan mahasiswa memang sangat di butuhkan sepanjang menelorkan cita-cita gerakan mahasiswa itu sendiri.

 

Seiring bergantinya waktu, gerakan mahasiswa di intervensi dengan dalih dan alibi yang merasionalkan pemikiran mahasiswa menantang gerakan yang bertujuan sama. Dinamika mahasiswa sangat membutuhkan kemandirian berpikir sehingga mahasiswa lebih dewasa memetakan antropologi politik yang bukan sekedar meraih kekuasaan.

 

Tetapi untuk cita-cita yang sangat di dambakan bersama. Yang pernah diperlihatkan sejak lahirnya gerakan mahasiswa di tahun 1908 oleh Boedi Utomo yang cendrung kreatif dalam menjawab permasalahan dari golongan mahasiswa.

 

Seharusnya semua pihak dewasa objektif dengan gerakan mahasiswa, bukan malah mempermainkannya seperti bola pimpong. Di bawa kesana kemari untuk suatu kepentingan, yang muara akhirnya adalah mahasiswa yang tidak berkualitas. Politik kampus memang  unik dan tidak seharusnya untuk di intervensi, karena akan membuat gerakan mahasiswa itu sendiri yang onani dan mandul dalam berbicara tataran idealis.

 

Hantu kepentingan ini terus menyelimuti gerakan mahasiswa. Sehingga gerakan mahasiswa pun cendrung menunggu intruksi. Maka kalau tak ada intruksi ia akan stagnan. Tidak aktif menggerakan, tetapi reaktif terhadap permasalahan. Mahasiswa pun diperkosa dengan quo vadis yang tidak tentu arah. Keobjektifan dan kerasionalan sangat di butuhkan dalam tameng gerakan mahasiswa yang tendensinya cendrung di hubung-hubungkan dengan kedendaman untuk melampiaskan nafsu kemarahan terhadap gerakan mahasiswa yang akan merugikan mahasiswa itu sendiri.

 

Inilah yang mernyebabkan ketakutan untuk  menjadi aktivis mahasiswa, apalagi sampel paradigma menyatakan, akademik  aktivis “diborgol“. Dalam bahasa logika, yaitu balas dendam. Menjadi aktivis mahasiswa merupakan momok yang sangat menakutkan dan mengerikan. Sehingga gerakan mahasiswapun cendrung oportunis dan pragmatis yang menopengkan dirinya supaya selamat dari kekejaman dunia kampus. Mahasiswapun sembunyi di balik keramaian.Tak ada untung yang di dapat dari gerakan mahasiswa, seperti gaji perbulan, naik pangkat dan jabatan, dan sebagainya.

 

Kitapun tak pernah mendengar gerakan mahasiwa mendapat fee dari pemerintah, mendapatkan beasiswa dari pihak kampus, ataupun embel-embel keuntungan di dalam dunia bisnis. Gerakan mahasiswa adalah membela kepentingan sosial. Tetapi  kepentingan sosial itulah yang diperkosa kepentingan kelompok atau pribadi. 

 

Sekarang gerakan mahasiswa tak jelas halal atau haram. Seperti rokok yang di haramkan fatwa MUI, namun tak di acuhkan oleh kaum muslimin. Ketakutan-ketakutan inilah yang menyelimuti gerakan mahasiswa untuk beraksi melawan ketidak adilan terhadap bumi sosial, yang semakin hari tumpang tindih diterpa angin topan kedewasaan penonton dan pemain. Ketidakpastian inilah yang merongrong mahasiswa dengan gerakan tanpa kejelasan motif.

 

*Penulis adalah Ketua Senat Fakultas Syari’ah IAIN IB



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait