Opini › Opini


Indonesia Sehat tanpa Tembakau

Selasa, 01/06/2010 16:19 WIB | Oleh : Yisri

Hari tanpa tembakau  sedunia diperingati pada 31 Mei. Pengabadian hari tanpa tembakau sedunia merupakan indikasi semua Negara menyadari akan bahanya tembakau, yang familiar di masyarakat rokok, tembakau yang sudah dikemas sedemikian rupa ini  bermacam-macam mereknya sebut saja Dji Sam Soe, Sampoerna, Class Mild, dan  banyak lagi. Kalaulah dilihat dari segi kesehatan atau ekonomi tidak diragukan lagi korbannya walaupun tidak secara otomatis, korban rokok juga tidak hanya masyarakat ekonomi menegah atas saja, bahkan rakyat  kurang mampu pun banyak.

 

Hasil studi Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Ekonomi Tembakau, dan studi Bank Dunia tentang tembakau telah meruntuhkan mitos manfaat ekonomi tembakau itu. Malah menciptakan rantai kemiskinan bagi kaum miskin. Pengeluaran rokok bagi rumah tangga miskin mencapai Rp 117.624 per bulan, sedangkan pendapatan masyarakat miskin tertinggi kedua digunakan untuk membeli rokok, yaitu 12,4 persen dari pendapatan, sehingga dana untuk konsumsi gizi dan pendidikan tergusur . Indonesia salah satu negara yang peduli akan masyarakatnya terhadap bahaya rokok , sebagai bentuk kepedulian bangsa ini terhadap rakyatnya beberapa bulan lalu pemerintah melalui Menteri kesehatan merancang peraturan pemerintah tentang rokok, dalam isi pokok RPP Rokok tersebut, antara lain mengatur kawasan tanpa rokok, peringatan berupa gambar pada bungkus rokok, larangan menjual rokok kepada anak-anak, larangan menjual rokok batangan, larangan iklan rokok, larangan perusahaan rokok menjadi sponsor, dan promosi rokok di media massa, tapi yang menjadi pertanyaan sebatas mana kepedulian pemerintah menyikapi hal tersebut,  lihat saja dari segi pengesahan RPP saja sampai sekarang belum juga kunjung disahkan, konvensi internasional pengendalian tembakau (Framework Convention on Tobaqo Control), Indonesia salah satu negara yang belum menandatangani ratifikasi tersebut, semestinya kalau pemerintah memang serius menangani permasalahan ini,  bisa saja pemerintah menaikkan bea cukainya sehingga konsumennya hanya orang -orang yang bisa mengobati dirinya sendiri, dalam artian hanya orang mampu yang bisa membeli rokok, ini juga sebenarnya membawa kemasalahatan ekonomi dan  meminimalkan beban negara yang selama ini menanggung korban rokok yang tidak mampu membiayai dirinya sendiri.  

 

Membahayakan Perokok Aktif dan Pasif

            Merurut  Dr. Lenore Launer dari Institut Nasional Kesehatan Mental di Maryland New York Amerika Serikat perokok aktif akan cepat mengalami kehilangan daya  ingat dan menyebabkan tersumbatnya katub pembuluh darah dalam otak hingga hilangnya nutrisi dan kerusakan pada jaringan otak begitu juga beberapa penelitian racun yang paling berbahaya terdapat dalam rokok tersebut diantaranya nikotin, tar, dan karbondioksida. Disamping  jenis racun tersebut ada juga hydrogen cyanide (sejenis rancun untuk melakukan hukuman mati yang digunakan oleh hitler), acentone (zat yang terkandung pada penghapus cat) ammonia(untuk pembersih lantai ) menthanol (bahan bakar roket ) oto luene (zat pelarut untuk industry) orsenic (racun semut putih) dan lain lain. Adapun bagi perokok pasif mempunyai  resiko lebih besar dibandingkan perokok  aktif. Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahan-bahan yang dapat menimbulkan kanker (karsinogen). Bahkan bahan berbahaya dan racun dalam rokok tidak hanya mengakibatkan gangguan kesehatan pada orang yang merokok, namun juga kepada orang-orang di sekitarnya,  yang tidak merokok sebagian besar adalah bayi, anak-anak dan ibu-ibu yang terpaksa menjadi perokok pasif oleh karena ayah atau suami mereka merokok di rumah. Padahal perokok pasif mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita kanker paru-paru dan penyakit  jantung  ishkemia. Sedangkan pada janin, bayi dan anak-anak mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita kejadian berat badan lahir rendah, bronchitis dan pneumonia, infeksi rongga  telinga dan asthma. Dari ungkapan para ahli dan hasil penelitian sudah sangat jelas bahaya rokok terhadap kesehatan dan  ekonomi,   ini akan berakibat patal bagi banyak pihak diantara akan   membinasakan generasi-generasi  sehat dan menimbulkan generasi lemah yang cendrung menjerumus dirinya sendiri dalam kebinasaan. Dalam hal ini dalam surat Al Baqarah ayat 195  Allah berfirman “Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri dalam kebinasaan”, sudah barang tentu kalau kita sudah mengetahui apa yang terkandung dalam rokok tersebut tapi masih mau saja mengisap rokok tersebut, sama saja halnya membinasakan diri sendiri, dalam kaidah usul fiqh (Asal dari larangan itu adalah haram), tentu pantaslah apa yang di fatwakan Mejelis Ulama’ Indonesia, mengenai diharamnya rokok tersebut, karena akan membawa kemaslahatanh bagi umat dan bangsa ini

 

Kebijakan Pemerintah

Keseriusan pemerintah dalam hal ini  memrupakan suatu hal yang sangat penting, karena kebijakan berada ditangan pemerintah, sebut saja Malaysia, Singapura diantara Negara yang serius mengangani hal ini  dengan  meniadakan iklan rokok , bahkan memberikan denda bagi perokok, begitu juga dalam hal   bea cukai yang tinggi,  sehingga pembeli/perokok itu hanya orang–orang  yang ekonomi hight saja, lain halnya dengan Indonesia yang sampai RPP pemerintah masih pikir–pikir sampai sekarang masih dalam proses,  bahkan bea cukai  untuk rokok  Indonesia terendah  kedua setelah Kamboja, walau pun beberapa waktu lalu mengalami kenaikan sebanyak 7 persen dari  sebelumnya 35 persen  dan sudah semstinya Indonesia menaikan cukai, minimal sama dengan negara-negara lainnya, demi kemaslahatan masyarakat,  ini juga akan berdampak meringani  beban bangsa Indonesia dalam menangani korban rokok. Persoalan penolakan oleh petani tembakau akan RPP  tersebut, dengan dalih apa usaha penggantinya, mau dikemanakan, itu sudah menjadi gawenya pemerintah untuk memikirkan hal tersebut , bukankah menteri pertanian sudah menyanggupi untuk mengganti usaha 2 juta petani tersebut dengan tanaman manila yang keuntungannya  lima lipat dari tanaman tenbakau, kenapa masih ada penolokan RPP rokok tesebut, ada apa dibalik semua ini, sudah semestinya pihak yang berwewenang meneliti semua ini demi kemaslahatan ekonomi, kesehatan masyarakat  Indonesia, melaui peringatan hari tanpa tembakau sedunia 31 Mei mari kita berantas rokok di bumi pertiwi ini agar terwujudnya Indonesia sehat.   

 

Yisri, Mahasiswa Fakultas Syariah Jurusan Jinaya Siyasah IAIN Imam Bonjol Padang. Email: yisriyk@yahoo.com,



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait