Opini › Opini


Ramadhan dan Karakter Taqwa

Minggu, 05/06/2016 20:53 WIB | Oleh : Duski Samad

Kedatangan Ramadhan seiap tahun adalah pengulangan kembali puasa sebagaimana tahun sebelumnya. Setiap umat Islam telah melakukan puasa untuk yang kesekian kalinya, sesuai dengan jumlah umur yang sudah dilewatinya. Setiap kali puasa Ramadhan datang tentu umat Islam melakakukan sebagaimana mestinya dituntunkan syariat. Pelaksanaannya, rukun, syarat, kesempurnaan dan berikut janji pahala terhadap orang-orang puasa tetap dan tidak pernah berubah. Lalu, apa istimewanya puasa tahun ini, tahun  lalu ataupun tahun depan?

 

Pertanyaan tentang keistimewaan yang dibawa Ramadhan setiap tahun jika diamati secara kasat mata jelas akan sulit dijawab. Akan, tetapi bila diberi makna dari dimensi keruhanian, maka Ramadhan itu datang dengan   setumpuk keutamaan, khususnya untuk pembinaan karakter umat. Bina karakter atau watak umat yang cendrung sulit dilakukan dengan cara-cara keilmuan belaka, dipastikan akan mudah dibentuk melalui instrument puasa dan ibadah-ibadah yang menyertainya. Menahan diri, beribadah shalat sunnah dengan jumlah yang relative banyak, membaca ala-qur’an, mendengarkan taushiyah agama, berinfak dan saling berbagi adalah bentuk pembinaan karakter yang efektif dan bernilai ganda, bila ia bisa dihayati dengan lurus dan benar.

 

Bila digunakan pendekatan linguistic (bahasa) terhadap perintah puasa sebagaimana ada dalam surat al- baqarah 183 yang menjadi dalil nash kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan, maka setidaknya ada 4 (empat) pembinaan karakter yang terkandung di dalamnya.

 

1.        Karakter Mukmin Sejati.

 

Seruan puasa Ramadhan hanya disampaikan kepada mereka yang beriman ya ayyuhalazina amanuu (wahai orang-orang yang beriman), ini adalah merupakan penegasan pembuat syar’i (Allah SWT) tentang adanya beban tugas yang sudah dibatasi bagi hamba-Nya yang sudah mempercayai dan menerima keberadaan Allah SWT dalam kesadaran yang sepenuhnya. Kreteria beriman bagi orang-orang yang akan melakukan puasa, jelas memberikan batasan bahwa orang yang  tidak ada iman, ya tidak diwajibkan kepadanya berpuasa. Identitas iman menjadi password untuk memasuki ruang ranah puasa dengan segala kebaikan yang dibawanya.

 

Pesan tentang pentingnya iman sebagai landasan dan dasar kewajiban puasa adalah juga menjadi penanda antara umat yang patuh dan yang tidak peduli. Ternyata, memang hanya kekuatan iman yang dapat membuat orang mampu membatasi tindakan, prilaku dan tabiat natural yang melekat dalam dirinya, seperti makan, minum dan berhubungan biologis dengan pasangannya yang sah. Kekuatan fisik, psikis, nalar dan spiritual sering dengan mudah dikalahkan oleh kekuatan tabiat natural yang melakat dalam diri setiap orang. Kecuali, mereka yang memiliki karakter mukmin sejati sesuai tuntunan Allah SWT. 

 

Begitu urgensinya iman dalam mendorong dan mengawal tindakan, prilaku, gaya hidup dan kecendrungan seseorang, maka sangat patut sekali internalisasi (penghayatan yang mendalam) tentang arti dan makna iman dalam kehidupan nyata. Merealisasikan iman dalam tindakan nyata, salah satu wujudnya ada pada ibadah puasa. Kepatuhan dan pengawasan ketat terhadap bentuk prilaku dan tindakan selama puasa adalah cara lain dari internalisasi iman lewat jalur puasa. Kemampuan shaim mengendalikan diri dari setiap pengaruh luar atau dalam yang akan mengurangi nilai puasa melalui komitmen inni shaim adalah realisasi keberimanan yang sudah kokoh.       

 

2.        Karakter Terkendali (Imsak).

 

Ibadah puasa Ramadhan diwajibkan Allah SWT pada tahun kedua hijriah. Kewajiban puasa yang diberikan setelah umat mulai menuju arah yang kuat, adalah merupakan “scenario” Allah agar puasa dapat diupayakan sedemikian rupa untuk membentuk karakter umat. Perintah puasa dengan mengunakan kata kutiba alaikum shiyam (diwajibkan), mengapa tidak furidha (difardukan) tentu ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Satu di antaranya adalah untuk menegaskan bahwa puasa itu adalah kemampuan menahan (imsak) dan atau mengendalikan sifat yang dikitabkan, dibukukan, dituliskan, dicapkan, yaitu prilaku atau tabiat permanen dalam diri. Mengapa digunakan kata kutiba karena dalam bahasa arab kata  kutiba sama asal katanya dengan kataba  yang berarti dituliskan atau dibukukan. Dari kata ini saja dapat dimengerti bahwa pelaksanaan puasa yang sudah melembaga ini dituntut dapat mencetakkan karakter sebagai orang beriman yang mampu menahan (imsak), bukan iman yang lepas kontrol.

 

Karakter iman terkendali yang hendak dibangun melalui jalur puasa jelas akan mudah mencapainya, karena makna puasa itu lebih ditekankan kesanggupan untuk mengendalikan diri. Pengendalian diri dari karakter yang tidak baik (akhlak mazmumah), pembiasaan karakter baik  (akhlak mahmudah) yang berlangsung selama lebih kurang 14 jam tentu akan besar artinya untuk melahirkan insan yang berwatak malaikat. Manusia yang memiliki  kontrol diri yang tinggi adalah sangat berpotensi menjadi makhluk lebih mulia dari malaikat (ahsanut taqwim). Sedangkan orang-orang yang lemah control dirinya, apalgi mereka yang lost control  akan sangat besar kemungkinannya menjadi makhluk lebih buruk dari binatang (asfala safiilin).

 

3.    Karakter Menghargai Pendahulu.

 

Bahagian lain dari pendidikan karakter yang dibentuk melalui puasa adalah penghargaan terhadap umat masa lalu dan perlu menjaga kesinambungan sejarah. Pengunaan kata kutiba alal lazina mingkablikum  (sebagaimana diwajibkan kepada umat sebelum kamu) memiliki makna yang dalam dan mengandung nilai pelajaran perlunya menghargai umat masa lalu dan meneruskan cita-cita perjuangan pahlawan bunga bangsa.

 

Karakter menghargai ibadah, prilaku dan pola hidup nenek moyang tempo dulu, bukan berarti mendorong umat lemah atau tidak maju dalam berfikir, justru sebaliknya bangsa yang maju dan berperadaban adalah mereka yang mau dan mampu menghargai jasa pendahulunya. Melanjutkan nilai-nilai positif konstruktif yang sudah ditorehkan generasi lalu, tidak boleh dibiarkan terbengkalai, ia harus dilanjutkan dan ditingkatkan untuk menjaga kelestariannya.  Hidup pada dasarnya adalah kumpulan dari catatan masa lalu yang nantinya akan menjadi kumulatif dari sejarah masa datang.   

 

4.        Karakter  Taqwa.    

 

Sisi lain yang paling penting dari pembinaan dalam puasa adalah karakter taqwa. Proyeksi taqwa yang digagas al-qur’an melalui pintu puasa adalah karakter penting yang mestinya menjadi tujuan akhir dari keberiman. Konsep taqwa, yang secara bahasa berasal dari kata waqa dan wiqayah  artinya terpelihara, terjaga, bisa juga memelihara atau menjaga, adalah bentuk sikap batin yang terus menerus menjadi orang yang waspada. Waspada terhadap syariat Allah jika tidak dilakukan dan mewaspadai bila aturan Allah dilanggar (imtisalan anil awamir, wajtanib ‘anin nawahi).

 

Takwa berarti waspada dan memelihara diri dari semua godaan yang akan menjerumuskan manusia ke lembah kehinaan, atau menjaga diri dari semua hal yang akan memalingkan atau mengganggu taqarrub dan mahabbah kepada Allah. Barangsiapa yang akan menjalankan ketakwaan hendaklah ia menghindari segala bentuk dosa besar dan kecil, lahir maupun batin. An-Nasrabazy mengatakan : "Barangsiapa yang ingin istiqamah dalam takwanya maka hendaklah ia memiliki keinginan meninggalkan kehidupan dan hiruk pikuk duniawi. Apakah tidak kalian fahami." Menurut Abu Abdullah, takwa adalah usaha manusia untuk meninggalkan dan menjauhi segala perilaku maksiat yang akan menjauhkan manusia dari Allah SWT. Sebagian ulama menerangkan bahwa takwa adalah ketaatan hamba kepada Allah, yang dilakukan oleh masa lalu hingga masa sekarang.

 

Semoga puasa dapat membentuk karakter mukmin terkendali, memuliakan pendahulu dan mampu menjadi insan muttaqin sebagaimana dimaksudkan sang pencipta. Amin.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait