Opini › Opini


Generasi Terbelenggu

Sabtu, 06/11/2010 08:06 WIB | Oleh : Ahmad Tamimi*

Generasi yang terbelenggu, inilah persepsi ketika saya amati realitas sosial mahasiswaan akhir-akhir ini. Mereka bukan menciptakan arus atau pula sengaja mengikutinya tapi malah terbawa kelorong-lorong sungai yang tak menentu dan tak memberikan sesuatu. Sebagaimana yang di ungkapkan oleh Muhammad Taufik mereka hanya bermain kedalam pusaran kehidupan yang di konstruksi oleh orang lain tanpa berusaha menciptakan ruang sendiri yaitu ruang yang penuh dengan dinamika ilmiah yang mana disana semua orang berpikir bahwa pengetahuan itu penting untuk mewujudkan hidup kearah yang lebih baik. Sehingga mereka merasa bahwa jadi manusia yang berkualitas itu adalah sebuah kemestian dengan cara mengikuti proses penempaan diri yang sesungguhnya pada bangku perkuliahan.

 

Hari ini yang ada malah gerakan yang cendrung berorientasi kepada wilayah simbolik-formalistik, yaitu gerakan kejar gelar, kejar status sosial, bahkan kejar kedudukan dan popularitas dengan mengabaikan proses bagaimana bermahasiswa sesungguhnya. Inilah yang saya maksud dengan generasi yang terbelenggu, dibelenggu oleh cara pandang terhadap dunia. Terbelenggu pikiran yang di tandai dengan matinya dinamika mahasiswa di kampus-kampus dan terbelenggu pula hati yang di tandai oleh sikap mati “rasa”, rasa bermahasiswa, berkemanusiaan bahkan rasa bertuhan. Ia hanya berfokus untuk mewujudkan hasrat pribadi tanpa peduli dengan realitas masyarakat di sekeliling.

 

Padahal misi di ciptakannya manusia di muka bumi ini adalah untuk memakmurkan bumi serta menegakkan kebenaran Tuhan, artinya di ciptakannya manusia bukan hanya terdapat dimensi ketuhanan tapi juga terdapat dimensi kemanusiaa, ( hablumminallah wa hablumminannas) yang mesti di perhatikan. (Qs. Al-baqarah;30). Tapi sayangnya hakikat penciptaan ini malah menglami kekaburan makna, kalau begitu masih sejalankah kehendak Tuhan dengan keinginan kita, atau barang kali salah kaprah.

 

Ketidak mampuan Membendung Arus

 

Sungguh tidak bisa di pungkiri bahwa kekhawatiran ini selalu menguak kesadaran diri, di mana mendarasnya arus kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memporak-porandakan pola hidup generasi. Akibat tidak seimbangnya antara kemajuan dan pengetahuan yang dimiliki sementara“ tantangan dan perubahan eksternal berjalan sangat cepat meninggalkan siapapun yang tidak ikut gelombang perubahan itu termasuk dapat menggilas diri kita. ( Munir)

 

Sungguh menyedihkan memang, generasi muda yang dalam hal ini di wakili oleh mahasiswa sebagai tempat bertumpunya harapan masa depan sampai hari ini belum juga mampu menampakkan identitasnya sebagai kaum menengah, atau di sebut juga dengan elit minority. Kita seolah-olah telah menjadi manusia kering dalam negeri yang terpasung, gerakannya menjadi lamban ketika bersinggungan dengan “the other”. Kaum muda tidak hanya kekeringan nalar tapi juga gugup bahkan kehilangan identitas. Pecahnya kemarau makna yang dirasakan beberapa waktu ini belum juga di hujani oleh gagasan segar yang menghentakkan kebekuan, para intelektual muda telah kehilangna panduan dalam berbangsa, berkelompok, berorganisasi bahkan beragma.

 

Satu sisi mereka diharap bisa merubah lingkungan, namun naifnya mereka juga ikut larut dalam lingkungan itu. Pada akhirnaya akan sangat sulit mendefenisikan mereka secara ideal karna ia tampil dalam bentuk identitas baru yang sangat diamitris dengan atribut yang di tompangkan selama ini. Pada sisi lain pula mereka di harapkan mampu mengembangkan budaya lokal, namun sayangnya mereka terkesima dengan budaya impor. Satu sisi lagi memompa harapan terhadap pikiran radikal rasional, kritis analis, namun otak mereka melalui perilaku mengamini cara berpikir kapitalis-hedonis. Itulah generasi latah dan bingung karna berbenturnya dua identitas yang sangat susah di logikakan. Bentrok dalam kurun waktu yang sama. Inilah amnesia yang di idap oleh para genersi sekarang, bahkan sudah ada dalam stadium kronis, sungguh mengkhawatirkan.

 

 

 

Usaha Merubah Paradigma  

 

Tradisi paradigma berfikir praktis-pragmatis sungguh mengancam masa depan negeri ini, karna muara perjuangan manusia sublime seperti ini lebih menuju kearah simbolik, seperti merebut struktur, mengejar popularitas dan pencitraan tanpa berpikir secara subtansi. Mereka mahasiswa berkuliah tapi tidak sepenuhnya mengamati proses, orientasinya bagaimana mendapatkan nilai bagus, cepat tamat, dapat ijazah lalu dapat pekerjaan. Bagi mereka inilah titik klimaks pejuangan hidup yang di impikan walaupun menurut pandangan idealisme sangat matrealis.

 

Maka, tidak heran jika hari ini kita temui para sarjana yang tak bisa mempertanggungjawabkan kesarjanaannya, buktinya ketika di lontarkan persoalan kebanyakan mereka tidak mampu menjawab, ketika masyarakat dalam keresahan mereka juga ikutan bingung seperti orang yang tak pernah mengecap pendidikan, padanya tidak ada yang khas, sangat sulit bagi kita untuk membedakan mana masyarakat awam dan mana mereka. karna semasa kuliah bukan kualitas diri yang di perkuat akan tetapi hasrat untuk berkuasa, makanya tidak punya ciri khas baik dari pola pikir maupun tindakan. Dengan demikian lahirlah manusia-manusia dangkal yang hanya memandang hidup secara apatis yaitu diri hanya untuk diri bukan untuk orang lain. Kadang kita kita emang geli, satu sisi mereka ingin di sayangi, dipikirkan, di perahatikan bahkan di besarkan oleh orang lain tapi disisi lain mereka sendiri enggan untuk menyayangi, memikirkan dan berbuat untuk orang lain, secara hukum kausalitas ini tidak mungkin terjadi karna hidup ini adalah ibarat pohon, apa yang kita tanam maka, itulah yang akan kita petik jika kita tidak pernah memberikan apa-apa, maka kitapun tidak mendapatkan apa-apa pula.

 

Hari ini manusia hipokrit seperti inilah yang banyak bergentayangan di sekeliling kita,  mereka bergaya seperti orang yang tau segalanya, mereka berdasi tapi tidak mengerti arti posisi. Jadi, wajar negeri ini hancur luluh lantak berantakan karna diurus oleh orang-orang yang miskin pengetahuan yang disusul oleh miskin hati. Maka tidak heran pula kalau banyak hak masyarakat digarap di alih menjadi milik pribadi karna sejak awal memang tujuan pribadi yang di tamakan. Berangkat dari realitas ini, apakah kita juga sama berparadigma tentang dunia seperti mereka, apakah kita juga ingin menambah deretan panjang manusia sublim di negeri ini, atau barangkali kita juga mereka yang siap menggerogoti masa depan negeri ini.

 

Sekarang telah banyak di temui orang yang hanya cendrung berpikir struktural tanpa berbasis intelektual, makanya gerakan yang muncul juga hanya gerakan yang berbasis kepentingan bukan pengetahuan. Tidak bisa di pungkiri inilah ciri khas manusia negeri kita yang harus di tanggulangi. Dalam teori perubahan, jika kita ingin melakukan perubahan itu, maka tidak bisa terlepas dari tiga hal, pertama; orangnya, kedua; organisasinya, ketiga; budayanya.

 

Jadi sekarang  salah satu solusi yang bisa saya tawarkan adalah menggiatkan gerakan moral intelektual untuk melawan tradisi awam yang pada akhirnya akan terbentuk kultural intelektual di lingkungan kita sehingga budaya materialis yang sangat konsumtif ini bisa di minimalisir sebagaimana yang di ungkapkan oleh Ali Shariati seorang tokoh revolusi Iran katanya; “seorang intelektual akan lebih bermakna ketika ia bersama masyarakat, membina membimbing masyarakat lalu melakukan perubahan bersama masyarakat”.

 

Jadi yang terpenting bagaimana setiap aktivitas mahasiswa itu berorientasi mencerdaskan ,baik diri sendiri maupun masyarakat, sebab bila masyarakat dan mahasiswa sudah cerdas secara otomatis mereka akan kritis terhadap ha-hal baru terlebih lagi terhadap tindakan diskriminasi dan ketidak adilan dari pihak-pihak tertentu terutama kebijakan pemerintah yang tidak bersifat responsif. Bagi saya inilah makna seorang mahasiswa yang selalu di gemburkan sebagai seorang agen perubahan, elit minority. sebab bila tidak demikian kita akan kelihatan impotent yang tiada beda dengan golongan-golongan awam.

 

 Penulis adalah Mahasiswa Syari’ah Jurusan Jinayah Siyasah



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait