Opini › Opini


Satu Petani Satu Sapi

Kamis, 30/12/2010 13:05 WIB | Oleh : Irwan Prayitno

Jika ada kemauan, selalu ada jalan. Kata-kata bijak itu telah lama kita kenal dan  terbukti kebenarannya.

 

Namun ketika ide program Satu Petani Satu Sapi digulirkan, banyak sekali yang menanggapinya dengan pesimis. Banyak yang menanggapi bahwa program ini takkan berhasil, karena banyak program serupa telah dikucurkan namun selalu berakhir dengan kegagalan. Ada juga yang berkomentar, berbagai program peternakan telah diunjukkan pemerintah, mulai dari puyuh, ayam, itik, kambing  sampai sapi. Cuma program ternak gajah yang belum diberikan. Hasilnya, tetap saja nol besar !

 

Sejenak saya jadi ragu, apakah benar tak ada jalan lagi untuk sebuah kemauan, meskipun itu adalah sebuah niat baik? Apakah kata-kata bijak “dimana ada kemauan selalu ada jalan” sudah kadaluarsa?

 

Untunglah meski sangat banyak yang menanggapi secara pesimis, tapi masih ada sejumlah kecil orang menanggapi secara positif. Bersama sejumlah orang yang masih bersikap optimis tersebut, gagasan Program Satu Petani Satu Sapi disusun sehingga menjadi program yang kongkrit.

 

Alhamdulillah, Minggu (19/12), Program Satu Petani Satu Sapi secara resmi mulai diluncurkan di Kota Payakumbuh. Kota galamai ini dipilih sebagai tempat peluncuran program karena walikota Payakumbuh merupakan orang pertama yang merespon positif ide tersebut. Pada lokasi dan saat yang sama juga diresmikan rumah potong hewan (RPH) termodern dan Pasar Ternak dengan fasiltitas terbaik dan terlengkap di Sumatera.

 

Ternyata ide kecil tersebut mendapat apresiasi dari Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian RI drh. Prabowo Respatiyo MM. PhD. yang sengaja hadir pada acara peluncuran program tersebut. Dengan bersemangat dirjen mengatakan ide program tersebut sangat luar biasa, orsinil dan satu-satunya di Indonesia.

 

Beliau sangat yakin program tersebut akan bermanfaat bagi masyarakat karena memiliki empat unsur yaitu profitable, simple, advertable dan duplicable. Profitable berarti menguntungkan, simple dalam arti program tersebut sederhana dan mudah dilaksanakan, duplicable dalam arti bisa diduplikasi sehingga bisa ditiru untuk diterapkan di tempat lain.

 

Dirjen mengatakan program tersebut tidak hanya akan menambah penghasilan petani, tetapi juga akan menjadi amal ibadah bagi petugas pelaksana program tersebut. Beliau berjanji akan mendukung dan membantu agar program tersebut terus berlanjut.

 

Ide program satu petani satu sapi muncul dari kenyataan bahwa 60,7 persen penduduk Sumatera Barat adalah petani. Namun sayangnya rata-rata pendapatan mereka per tahun masih rendah dan belum sejahtera. Penyebabnya adalah rata-rata petani kita hanya memiliki lahan 0,3 hektar lahan per KK.  Fakta ini menyebabkan jam kerja petani tidak optimal dan sudah tentu pendapatan yang diperoleh tidak juga maksimal.

 

Padaha kearifan tradisional masyarakat Minang telah lama menganut konsep padi masak jaguang maupiah, taranak bakambang biak, ikan mambangkik pulo. Dalam konsep modern yang belakangan kian populer konsep tersebut dikenal dengan istilah integrated farming (pertanian terpadu).

 

Dalam konsep pertanian terpadu, petani tidak hanya memiliki satu jenis usaha seperti sawah saja misalnya, tetapi juga dikombinasikan dengan ternak sapi, ikan atau kebun. Dengan demikian diperoleh nilai tambah untuk meningkatkan kesejahteran petani.

 

Ternak sapi dipilih sebagai masukan baru karena setiap tahun negara kita selalu kekurangan daging sapi. Setiap tahun 182.000 ekor sapi (30 persen) dari kebutuhan daging negara kita diimpor dari Australia. Sumatera Barat memiliki tingkat konsumsi daging per kapita tertinggi di negara ini. Kebutuhan daging sapi di Sumbar cukup besar dan belum terpenuhi oleh produksi sapi Sumbar saat ini.

 

Populasi sapi Sumatera Barat saat ini hanya sekitar 500.000 ekor, dipelihara oleh sekitar 128.000 KK petani. Padahal petani Sumatera Barat berjumlah sekitar 1.200.000 KK. Jika saja setiap KK petani tersebut memelihara 1 ekor sapi, maka akan terjadi penambahan populasi sebanyak 2 kali lipat  jumlah sebelumnya. Ini berarti sejumlah masalah bisa teratasi sekaligus, yaitu meningkatkan pendapatan petani, mendukung program swasembada daging serta mendapatkan pupuk organik dari limbah peternakan.

 

Daya dukung lahan dan pakan tak perlu diragukan. Berdasarkan penelitian, daya dukung lahan dan pakan Sumatera Barat, cukup untuk menampung 3 juta ekor sapi. Dana juga tersedia, dana APBN tersedia cukup banyak dalam bentuk Program Swasembada Daging Sapi (PSDS), bank, pihak swasta dan perantau juga telah menawarkan diri untuk jadi investor.

 

Sejumlah pejabat SKPD dan DPRD juga masyarakat tak sabar lagi agar program ini segera digulirkan, meski dana APBD dan APBN tahun 2011 belum dicairkan. Mereka merogoh kantong masing-masing dan Program Satu Petani Satu Sapi pun mulai digulirkan. Dimulai dari kota Payakumbuh dan secara bertahap akan terus dikembangkan ke daerah lain melalui kelompok-kelompok tani. Program Satu Petani Satu Sapi akan menggelinding seperti bola salju, makin membesar dan terus membesar. Jika ada kemauan, pasti ada jalan. (***)


 : 561yzzyr  
being a sportsman i rlzeiae the need of body armor, how my , elbow pads, protects me from any harm............ and these defense persons have very hard duty and need to be ever ready every time...... they really need body armor........ no doubt that their armors are very cool..............

Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait