Opini › Opini


Menjadi Budak Negeri Budak

Sabtu, 22/01/2011 17:43 WIB | Oleh : Alizar Tanjung

          Aku kenal istilah budak ketika belajar sejarah Islam. Bayangkan orang-orang jahiliyah menganggap manusia kasta rendah, budak. Maka budak harus setia pada tuannya. Apa kata tuan, budak harus mengikut kata tuan. Budak tidak punya semacam HAM untuk memberontok. Mana ada pula hukum HAM masa itu. Undang-undang perlindungan orang tidak mampu. Konyol saja.

 

            Budak semacam anjing peliharaan. Ia diberi makan, diberi minum. Beruntung kalau tuan orang yang baik hati. Makan tuan makan pula budak. Kalau dapat tuan yang jahat hati, budak jadi sasaran pemukulan, penindasan. Hal itu dianggap biasa. Budak tidak boleh memberontak. Kalau memberontak bisa dilempari seperti anjing. Budak hanya akan meringis kesakitan. Satu lagi. Budak tidak boleh menikah kalau tanpa seizin tuan. Yang jelas budak adalah semacam binatang peliharaan tuan.

 

            Budak hidupnya di tangan tuannya. Ia tidak digaji sang tuan. Tugasnya melayani sang tuan, bahkan dalam hubungan seks sekalipun ia tidak boleh mengelak. Ia hanya boleh kesana-sini kalau sang tuan mengizinkan. Aku ingat anjing di kampung, ia pakai kalung, orang-orang di sana menyebut kala-kala anjiang. Kala-kala itu dipasang rantai. Anjing itu di rantai. Jadi sang tuan bisa menariknya sekehendak hati. Tapi satu yang disyukuri tuan yang memelihara budak. Budak itu masih kategori manusia. Masih punya hati, tapi kadang diperlakukan lebih kejam juga dari binatang. Untuk menghapus perbudakkan ini, rasul harus memberantas dalam tahap yang lama.

 

            Sekarang bukan orang golongan bawah yang jadi budak. Budak golongan bawah tidak seberapa. Anehnya sekarang yang jadi budak, orang-orang kaya. Orang-orang bergedung mewah, bermobil banyak. Orang yang menjabat ini dan menjabat itu. Tuannya bukan dari golongan manusia. Tuannya dari golongan mesin dan kertas-kertas bermerek. Tuan-tuan sekarang tidak punya perasaan. Budak-budak juga semacam kehilangan sensisitifitas. Dia tidak tahu kalau ia budak. Kata orang tidak malu. Bayangkan perutnya ia buncitkan dengan uang orang. Hai hai, uang panas kursi empuk.

 

            Budak sekarang budak elit dikuasai benda mati. Budak-budak sekarang tidak tahu cara merdeka. Tepatnya tidak mau merdeka. Budak sekarang berlomba-lomba membangun gedung-gedung tinggi. Ia pergi bekerja jam 8 pagi pulang jam a0 malam. Di rumahnya tinggal anak istri tanpa mendapat kasih sayang. Gedung ia hitung tiap malam, di samping istrinya ia bicara gedung, di samping anaknya ia bicara gedung, di meja makan ia bicara gedung.

 

Lebih elit lagi budak sekarang otaknya uang. Uang pun bersilantas angan pula menjadi tuan. Orang berlomba-lomba mencari uang siang dan malam. Halal dan haram tak masalah. Sikat habis kata humor-humor di kedai kopi. Bahkan sampai berkelahi untuk memperoleh uang. Uang santai-santai saja dalam laci. “Ayo kejar aku. Halal haram aku, santung saja.” 

 

            Orang berkejar-kejar menumpuk rumah mewah, mobil bagus, halaman luas, toko berjibaku. Tapi ia lupa mau ia kemanakan uangnya. Hingga gila menjaga gedung mewahnya sendiri. Yang ada hanya pikiran di mana mobilnya akan ditaruh, besok mobil mana yang mana yang mau dipakai ke kantor, besok mau tidur di kamar mana, besok mau tinggal di rumah mana. Hingganya tak jadi tidur-tidur. ***Padang, 2010-2011



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code: