Opini › Opini


Zakat Kurangi Angka Kemiskinan

Jumat, 04/02/2011 15:24 WIB | Oleh : Heru Perdana

Zakat dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat penting, zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan bagi mereka yang mampu. Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim dengan ketentuan tertentu dan diberikan kepada mereka yang berhak menerima (asnaf delapan) yang sesuai dengan yang telah digariskan dalam Al-qur’an.

Zakat tidak boleh diberikan kepada orang sudah menjadi tanggungan kita seperti anak dan istri. Perlu kita sadari bersama bahwa mengeluarkan zakat hukumnya adalah wajib bagi mereka yang memiliki harta yang sudah mencapai nisab dan aul. Sebaliknya, bagi mereka yang masih lemah dari segi finansial, maka mereka harus dan wajib menerima zakat.

Islam yang merupakan agama persaudaraan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang selalu siap membantu sesama umatnya. Khusunya, mereka yang sedang dilanda musibah kemiskinan dan pengagguran. Oleh sebab itu, peran seorang muslim dalam menanggapi persoalan sosial yang kompleks di tengah jurang kemiskinan sangat dibutuhkan. Nah, persoalan kemiskinan yang berkaitan dengan zakat adalah bagaimana zakat itu bisa mengambil peran dan fungsinya dalam mengurangi angka kemiskinan. Melalui zakat inilah agama Islam berusaha menjawab semua persoalan umat yang semakin kompleks, termasuk masalah kemiskinan ini.

Sesuai dengaan tujuan zakat, yaitu untuk mensucikan jiwa, harta dan segala hal yang umat Islam miliki, sebagai suatu bentuk pembersihan dari sesuatu yang syubhat. Di samping itu, disadari atau tidak, fungsi zakat yang lain, bertujuan untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan sosial, dan kemakmuran serta asas pemerataan kekayaan.

Di samping fungsinya sebagai sarana mensucikan harta dan jiwa orang yang mengeluarkannya, zakat juga merupakan salah satu instrumen kebijakan fiskal dalam Islam dan telah dipraktekkan semenjak zaman nabi.

Kemiskinan dan penggangguran yang setiap tahunnya melanda Indonesia ini sudah tidak asing lagi bagi Islam. Kemiskinan dan pengangguran merupakan suatu bukti bahwa masih lemahnya umat Islam dari segi kemampuan perekonomian secara umum.

Dr Yusuf Qardhawi dalam bukunya "Zakat dalam Membangun Ekonomi Kerakyatan" (2001), telah dinyatakan, ajaran Islam menaruh perhatian besar dalam mengatasi pengangguran dan kemiskinan, dengan selalu bekerja keras untuk meraih rezeki yang lebih banyak dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Maka bertolak dari realita tersebut, zakat kemudian dijadikan sebagai visi umat Islam dalam mengentaskan kemiskinan atau paling tidak meminimalisasi angka kemiskinan dalam perjalanan kehidupan bangsa ini. Oleh sebab itu, umat Islam harus merelakan sebagian harta mereka diberikan kapeda saudara-saudara mereka yang kurang mampu dari segi finansial sebagai suatu sarana dalam mensucikan harta dan jiwa mereka.

Dengan menunaikan zakat, berarti umat Islam telah menjalankan perannya sebagai seorang muslim untuk ikut serta dalam membantu dan meringankan beban saudara-saudaranya yang tengah ditimpa kesusahan.

Selanjutnya, agar zakat dapat dijadikan sebagai salah satu cara dalam mengatasi angka kemiskinan, tentu perlu didukung dengan tata cara pengelolaan zakat yang matang. Sebaiknya zakat dikumpulkan dan dikelola dalam suatu lembaga seperti BAZ, baru kemudian disalurkan kepada mereka yang mebutuhkan dan berhak menerima zakat.

Dalam penyalurannya, zakat tersebut dapat digunakan oleh mereka yang mebutuhkan kepada sektor produktif, bukan konsumtif. Juga dalam bentuk pelatihan kewirausahaan dan bimbingan serta pembinaan yang berkelanjutan dalam berwirausaha bagi para mustahik yang menerima zakat, agar mereka mampu berwirausaha dan kedepannya bisa menjadi muzakki.

Selama ini, realita yang penulis temui, zakat yang digunakan mustahik hanya untuk hal-hal yang bersifat konsumtif saja. Sehingga dampak dari zakat kurang begitu terasa dalam kehidupan masyarakat terkait dengan pengentasan kemiskinan.

Perlu kita ketahui bersama, bahwa potensi zakat di Indonesia sekitar 19 Triliun per tahunnya. Angka yang fantastis . Angka yang mungkin saja lebih besar dari APBD Sumatera Barat. Dana sebanyak itu jika dikelola dengan baik mungkin akan dapat mengentaskan kemiskinan di Indonesia ini.

Sudah saatnya kita berbenah dan memperbaiki diri. Zakat harus dapat perhatian serius dari kita dan pemerintah. Agar dapat menjadi salah satu cara dalam mengurangi dan bahkan menghilangkan kemiskinan.

Selain itu, salah satu penyebab belum berperannya zakat sebagai salah satu instrumen kebijakan fiskal dalam mengurangi angka kemiskinan di negeri ini, dikarenakan kurangnya kesadaran muzakki untuk membayar zakat. Parahnya, banyaknya mereka yang mengaku miskin hanya untuk mendaptkan zakat, baik itu dalam bentuk beasiswa, bantuan modal, dll.

Kalau ini terus dibiarkan berlanjut, maka bukan kemiskinan yang akan berkurang. Tapi sebaliknya, malah akan bertambah, karena banyaknya masyarakat yang sebenarnya mampu tapi ikut nimbrung menerima dana zakat. Intinya, mental masyarakat juga perlu dicerdaskan, baik mereka yang berposisi sebagai muzakki maupun mereka yang berposisi sebagai mustahik. Kalau mental mereka tetap seperti itu, mau dibuat apa saja dana zakat (beasiswa, modal usaha, kesehatan), tetap saja bakalan digunakan untuk konsumtif.

Jadi, mari kita terapkan pola yang baik dalam pengumpulan dan pengelolaan zakat. Agar zakat betul-betul menjadi suatu visi dan misi umat Islam dalam mengurangi angka kemiskinan.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code: