Opini › Opini


ISDU: UKM Kerohanian anak Deakin University

Sabtu, 07/10/2017 16:07 WIB | Oleh : Nofel Nofiadri (Mahasiswa Ph.D Deakin University/Dosen UIN Padang

 

Sore itu, Deakin University kampus Burwood tidak begitu ramai, malah sepi. Kali pertama saya datang ke kampus itu memang di masa liburan kuliah jadi yang terlihat hanya beberapa orang saja. Pertama-tama saya dibawa ke kantor mahasiswa S3 (di sini disebut work space) yang berupa satu unit komputer dan sebuah rak buku kecil. Masing-masing mahasiswa diberi satu work space. Setelah itu saya dibawa mengunjungi perpustakaan kampus yang tidak begitu besar namun bersih dan modern. Pada masa itu masih musim panas dan waktu Ashar masuk pukul 17:23 sedangkan Magrib sekitar jam setengah Sembilan malam. Saya diajak sholat berjamaah oleh dua orang kawan, keduanya juga dari Padang, di mesjid kampus. Ternyata Deakin University menyediakan sebuah lantai dalam sebuah gedung yang disebut dengan Faith Space atau tempat ibadah.

 

 

 Di sana terdapat ruangan-ruangan beribadah beberapa agama dan mesjid adalah tempat yang paling luas. Tempat beruduknya pun sangat nyaman. Ketika saya berkunjung ke kampus Deakin yang berada di Geelong, sebelah barat kota Melbourne, di sana juga terdapat ruang sholat dan tempat beruduk yang baik. Kebetulan saya tinggal tidak jauh dari kampus Burwood dan biasanya saya sholat Jumat di Masjid Kampus tersebut (Building EC). Kondisi ini kurang lebih sama dengan tempat tinggal saya di Lubuk Lintah yang juga dekat dengan kampus.  

 

 

Setelah sholat, saya memperhatikan mimbar yang ada di dalam masjid kampus tersebut. Di sana, di bagian atas mimbar tertulis, ISDU (Islamic Society of Deakin University). ISDU merupakan lembaga unit kegiatan mahasiswa dan organisasi ini berada di bawah DUSA (Deakin University Student Association). DUSA ini memiliki ratusan organisasi di bawahnya. Setiap mahasiswa, pertahun, membayar $5, atau sekitar 50 ribu rupiah kepada DUSA dan juga $5 jika tergabung dalam ISDU, maupun organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) Deakin Uni. 

 

 

Kegiatan utama dari ISDU ini adalah menyediakan dan menyelenggarakan kebutuhan sosial keagamaan mahasiswa muslim yang ada di universitas tersebut. Kegiatan rutin adalah sholat berjamaah, sholat jumat, ibadah ramadhan, pengumpulan zakat sedekah, dan lain-lain termasuk liburan dan halaqah. Mereka juga memiliki pertemuan terjadwal dan acara rapat organisasi. 

 

 

Sesuai dengan komposisi mahasiswa internasional di Deakin, anggota ISDU banyak dari keturuan India dan Pakistan serta beberapa dari Timur Tengah. Jika anda berada di kampus Deakin, maka banyak juga terlihat perempuan berhijab. Deakin  - sementara dalam penilaian saya - cukup mengakomodir kegiatan keagamaan yang terlihat dari organisasi yang disuportnya dan fasilitas yang disediakannya. 

 

 

Hal lain yang juga didukung oleh ISDU adalah dalam menyediakan informasi mengenai makanan halal. Kebutuhan yang satu ini cukup sulit untuk didapatkan di dalam maupun di daerah sekitar kampus. Kampus Burwood menyediakan sekitar empat tempat makan atau cafe, namun kedai-kedai tersebut tidak secara khusus menyediakan menu halal. Ada sebuah kedai Asia yang dikelola oleh orang Cina.

 

 

Kedai tersebut menyediakan makanan yang berselara Asia tetapi secara khusus tidak menyatakan bahwa makanan tersebut disediakan khusus untuk mereka yang muslim. Tentunya ada juga mahasiswa muslim yang berbelanja di sana dan yang mereka lakukan adalah memesan makanan vegetarian. Lalu apakah makan vegetarian itu halal? Secara materilnya tentu halal tapi bagaimana dengan status halal dari segi proses pengolahan makanan tersebut. Hal ini lah yang kemudian menjadi ketidakpastian. 

 

 

Ada sebuah restoran Indonesia dan sebuah restoran Malaysia yang jaraknya tidak jauh dari kampus dan sepertinya menyediakan makanan halal. Setelah saya berkunjung ke sana dan bertanya kepada pemilik kedai, mereka juga menyatakan bahwa makanan mereka juga tidak halal seperti dalam pemahaman diet orang Islam. Beberapa mahasiswa muslim –dengan pemahaman mereka sendiri- tetap makan di sana tetapi hanya memesan makan yang halal secara sifatnya seperti daging sapi, ayam, dan daging itik. Menyikapi kondisi ini, ISDU menyediakan informasi mengenai tempat pemerolehan makanan halal di sekitar kampus namun tempatnya cukup jauh. 

 

 

Bentuk dukungan lainnya dari anggota ISDU adalah penyediaan katering makanan halal yang siap untuk diantar kepada pemesan. Hal ini tentu juga sangat membatu bagi mereka yang tidak punya banyak waktu untuk memasak sendiri. Kenyataanya, kebanyakan mahasiswa umumnya dan tentu saja mahasiswa muslim lebih suka mengolah makanannya sendiri disamping lebih terjamin kehalalannya dan juga lebih ekonomis.

 

 

Pengalaman menarik lainnya juga saya alami saat berada di tempat kos saya yang cukup multikultural. Di sana tinggal dalam satu rumah orang Korea, Cina, Filipina dan Rusia, yang pasti mereka bukan muslim. Suatu kali, ketika kami sedang bercerita di ruang makan, kularlah suara azan dari telepon genggam saya sebagai pertanda masuknya waktu Isya. Mereka bertanya suara apa itu. Beberapa mereka ternyata belum pernah mendengar suara adzan selama hidupnya. 

 

 

Hal yang sama juga terjadi sekali di kantor saya. Di antara mereka ada yang menyangka bahwa itu adalah sebuah lagu. Dari kejadian itu lah pertama kali saya menjelaskan tentang Islam dan keislaman. Di beberapa kesempatan, saya menjelaskan tentang ibadah umat Islam, kebudayaan Islam, dan pengolahan makanan menurut ajaran Islam walau pengetahuan saya cukup terbatas. 

 

 

Di lain hal saya merasa beruntung menjadi dosen di perguruan tinggi agama Islam di mana ilmu yang saya dapat di sana dapat dibagi di sini. Seandainya saja banyak pertanyaan-pertanyaan mereka yang merasa penasaran dengan Islam dan Muslim dapat saya jawab dengan percaya diri, tentu saya merasa lebih berarti. 

 

 

Tidak hanya pada mereka yang non Muslim, dalam beberapa diskusi bersama mahasiswa Indonesia di sini, saya menyadari betapa masih kurangnya pengetahuan dan pemahaman saya terhadap agama saya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan terus muncul dari beberapa orang dan dari beberapa fenomena yang dihadapi di negeri non Muslim ini. Tapi untung, dengan media internet, kawan-kawan saya di UIN Imam Bonjol Padang dapat membantu saya dalam menjawab ketidak-tahuan saya. Sekaligus, pertanyaan-pertanyaan orang tersebut berdampak terhadap bertambahnya juga pemahaman saya tentang Islam.

 

 

Kadang saya ingin kawan-kawan tersebut ada di sini, tentu mereka yang bertanya lebih terpuaskan karena pemahaman keislaman mereka lebih baik dari saya. Sekarang sudah mulai terasa dingin semenjak masuknya musim gugur. Memang kafe sehangat kafe Uniang tidak ada di Deakin, tapi Deakin sepertinya memberikan kehangatan untuk ber-Islam.

 



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait