Opini › Opini


Kembalikan Eksistensi Adat Minangkabau

Kamis, 02/11/2017 07:50 WIB | Oleh : Muhammad Iqbal

Sumatera Barat atau yang lebih sering dikenal dengan Ranah Minang merupakan daerah yang memiliki filosofi dan peranan adat yang sangat kuat. Ranah Minang memiliki mayoritas masyarakatnya beragama Islam dan memiliki keyakinan terhadap adat yang kental sehingga masyarakat Minangkabau sejak dulu selalu menjujung tinggi nilai keislaman dan kebudaayan. 

Tatanan yang dipegang erat sebagai dasar hubungan agama dan adat adalah ungkapan pepatah yang berbunyi “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, pepatah tersebut memiliki makna yang berarti adat bersendikan kepada syariat, syariat bersendikan kepada Al Quran, syariat sebagai aturan yang dipedomani dan kemudian adat yang melaksankan aturan itu. Minangkabau berhasil memadukan antara nilai Islam dan adat istiadat yang umumnya dianggap sulit untuk disatukan.

 

Dari pepatah diatas tergambarlah bagaimana penduduk Minangkabau yang memiliki keramahan serta memegang teguh nilai keagamaan. Jauh sebelum itu, orang terdahulu di Minangkabau telah mengajarkan hukum yang semestinya dengan menjadikan alam sebagai ajaran dan pandangan hidup bagi manusia dalam berbuat, bertindak dan berperilaku. Seperti pepatah minang yang mengatakan “Alam takambang jadi guru”.

Peraturan adat dan agama sangat berlaku bagi seluruh masyarakat, maka dari itu segenap masyarakat Minang harus memahami adat dan peran agamanya sendiri. Namun apa yang terjadi pada saat ini, masyarakat yang terkenal dengan “beradat” kini seolah hilang jati dirinya dan idealisme sebagai orang Minangkabau. Terlihat bahwa kerusakan moral generasi muda yang nantinya akan meneruskan tongkat estafet sisilah Minangkabau.

 

Masyarakat yang ramah dengan memiliki sifat kepedulian terhadap sesama kini mulai memudar. Dewasa ini, generasi muda Minangkabau tidak lagi memegang teguh nilai-nilai kesopanan yang menjadi filsofi adatnya sendiri. Istilah “Kato nan ampek” juga mulai tak bersinergi lagi, sehingga ajaran yang memiliki arti raso, pareso, malu dan sopan santun itu hilang dengan sendirinya.

Perilaku tersebut tidak terlepas dari generasi muda yang hingga saat ini mulai melupakan apa itu “Adat Istiadat”. Secara garis besar adanya latar belakang dan faktor yang mengakibatkan lunturnya sikap “beradat” itu diantaranya.

 

Pertama, masuknya pengaruh budaya asing yang mengakibatkan sikap beradat mulai hilang yang memiliki dampak kepada pembaharuan budaya, perubahan budaya, keguncangan budaya hingga melemahnya pondasi budaya tersebut.  Salah satunya, generasi muda saat ini tidak lagi bangga menggunakan alat musik tradisional dan tidak menggemari kunjungan wisata sejarah adatnya.

 

Alat musik Sumatera Barat seperti saluang, pupuik, sarunai, talempong, rabab dan yang lain mulai ditinggalkan. Generasi muda lebih tertarik memainkan alat musik organ, disc jokey, drum hingga guitar ketimbang memilih bermain musik tradisional yang dimiliki oleh nagarinya sendiri.

Bukan hanya alat musik, generasi muda saat ini lebih memilih kunjungan wisata yang bernuansa modern dari pada tradisional. Seperti memilih bepergian ke mall dari pada pergi ke museum atau tempat bersejarah.  Museum masih dianggap kurang menarik, paling berpergian ke museum hanya untuk ber-selfie tanpa mempelajari dan mengamalkan sejarah dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kedua, efek perpolitikan yang mengakibatkan perpecahan. Sejatinya, adat Minangkabau mengajarkan asas kekeluargaan melalui musyawarah dalam mengambil  keputusan dan melalui kata “mufakaik”. Perpolitikan yang dibawa oleh partai politik seringkali menyebabkan perpecahan dikalangan masyarakat. Parahnya lagi, terbentuk kelompok pendukung yang membela mati-matian calon pahlawan politiknya. Hal itu tentu akan mengakibatkan asas yang telah ditetapkan menjadi memudar. Sebab sudah merasa tidak saudara lagi karena berlainan pendapat dan pemahaman.

Ini sangat bertentangan dengan adat Minagkabau yang menghendaki sebuah keputusan melalui musyawarah. Dalam musyawarah, beda pemahaman dan pendapat itu hal biasa. Sementara sikap semacam itu tidak tidak ditemui pada masa perpolitikan saat ini.

 

Yang terakhir, latar belakang lunturnya adat Minangkabau adalah tayangan Televisi (TV). Sebagaimana kita ketahui kebanyakan tayangan televisi tidak menonjolkan sikap moral yang berlaku. Yang mengesampingkan nilai keagamaan dan norma adat.  Ditayangan TV tersebut banyak tutur kata yang tidak sepantas diucapkan, tingkah laku yang tak patut ditayangkan hingga aurat wanita yang tak perlu dipertontonkan. Kemudian, banyak tayangan program jika anak-anak menonton akan memberikan dampak buruk terhadap perkembangan mental mereka, sehingga anak-anak menjadi dewasa bukan waktunya.

Tugas kita saat ini adalah untuk mempertahankan dan melestarikan adat Minangkabau yang sebenarnya. Melihat fenomena saat ini adat semakin jauh ditinggalkan sementara budaya luar semakin berkembang yang memberikan pengaruh buruk terhadap budaya lokal. Mari sama-sama kita selamatkan, sebab Minangkabau yang kini tidak seperti Minangkabau yang dulu. Bila tidak diselamatkan maka adat Minangkabau hanya akan menjadi sejarah dan akan hilang keberadaanya dalam kehidupan.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait