Opini › Opini


Kiri Itu Seksi

Rabu, 15/11/2017 13:18 WIB | Oleh : Naufal Ash Siddiq

10 November lalu bertepatan dengan hari pahlawan, tirto.id mengeluarkan sebuah artikel yang berjudul “Tokoh PKI dan Orang Kiri yang Jadi Pahlawan Nasional,” kedua tokoh tersebut adalah Tan Malaka dan Alimin. Siapa yang tak kenal Tan Malaka, pendiri partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) itu adalah seorang pemuda minang yang sangat dihormati oleh Ir Soekarno, Soekarno pernah mengatakan. “Apa bila bukan saya maka Tan yang jadi presiden,” tutur pria beristri sembilan tersebut membuktikan bahwa pemikiran Tan punya pengaruh kuat untuk memerdekakan Indonesia, tapi semua adidaya pemikiran seorang Tan tersebut seakan tak berguna di mata masyarakat sekarang hanya karanya beliau adalah seorang komunis.


 Ya.. “KOMUNIS”  kata tersebut sengaja saya besarkan karena apabila mendengar kata itu masyarakat Indonesia sekarang berpikir itu adalah paham keras, radikal atau sebagainya, tanpa tau atas dasar apa mereka berpikir seperti itu, padahal menurut saya paham komunis itu pada dasarnya bermaksud baik hanya saja Indonesia bukanlah tempat yang tepat untuknya, pendapat saya ini bukanlah tanpa dasar, setelah saya membaca pidato D.N Aidit ketika PKI kalai itu berulang tahun ke 32 yang berjudul “Menempuh Jalan Rakyat” didalam pidato tersebut minim saya dapatkan pemahaman yang gagal, dalam artikata loyalitas PKI adalah rakyat.  Lambang palu dan arit yang telah mereka gunakan semenjak 1917 itu menerjemahkan bahwa partai tersebut sangat merakyat yang menyuarakan kaum terbawah suatu negara.


Mulai dari sini saya tekankan bahwa saya bukan seorang komunis. Saya hanya seorang anak kampung yang sedikit bersimpatik dengan pahamnya bukan berarti bagian dari mereka, menurut saya paham tersebut sangat menarik untuk dipelajari, karena ketika pancaroba kemerdekaan paham ini adalah paham yang sangat berpengaruh di Indonesia, memang kala itu mayoritas masarakat berada dibawah garis kemiskinan dan jasa dari partai ini sangat besar untuk mempersatukan masyarakat pada saat itu, bisa dikatakan PKI adalah salah satu partai yang memiliki peran penting dalam perwujudan kemerdekaan Indonesia, namun kejayaan partai ini mulai pudar sejak Ir Soekarno lengser lalu disambut dengan anti-komunis milik Soeharto pada tahun 60-an, puncaknya adalah pada tahun 1965 pemberonatakan besar-besaran yang dilakukan oleh partai komunis di seluruh Indonesia yang telah menjatuhkan begitu banyak korban dimana-mana, waktu itu rakyat dipaksa untuk melawan tentara yang bersenjata lengkap hanya dengan peralatan seadanya, saya bilang itu adalah bunuh diri, salah satu yang jarang orang bicarakan  ketika itu Pemuda Jakarta dilatih dan dipersenjatai lalu dikirim ke Ranah Minang untuk membantai masayarakat disini dan telah manjatuhkan lebih dari 300 Pemuda Minang atas dasar Orde Baru, karena mereka berpikir bahwa orang kiri banyak lahir dari sini. Biadap


Terlepas dari semua itu, pemikiran kiri memang dianggap bersebrangan dengan mereka yang berpikir normal, sebagian sejarah mengatakan bahwa Tan diakhir hidupnya diasingkan oleh PKI karena kesalahpahaman, kedua tokoh yang diangkat oleh tirto.id diatas adalah orang-orang yang memilih untuk berpikir lebih dalam dan dari sudut yang berbeda tak seperti kebanyakan, berbeda dengan Tan yang dianugerahi gelar pahlawan nasional setelah 14 tahun kematiannya, Alimin justru memiliki gelar itu dua hari setelah beliau wafat.


Anugerah pahlawan nasional yang diberikan oleh negara tersebut adalah bukti bahwa berpikir kiri sangat diterima oleh masyarakat, apalagi bagi seorang minang tulen, banyak tokoh kiri yang lahir dari sini, berpikir kiri bukan berarti komunis dan pasti juga bukan seorang yang radikal, semua itu hanya masalah pemahaman, orang yang berpikir kiri adalah orang yang memilih jalan berbeda, ibaratnya dua orang sedang dalam perjalanan menuju tujuan yang sama orang biasa memilih jalan yang sudah biasa digunakan sementara orang kiri memilih jalan pintas untuk sampai di tujuan yang sama. 


Semua ini hanya masalah pola berpikir seseorang, seorang biasa adalah yang berpikir dengan cara evolusi sedangkan kiri adalah berpikir revolusi. Saya sederhanakan lagi, orang kiri adalah orang-orang yang melihat sesuatu dari sudut yang bebeda tak seperti kebanyakan. Oleh karena itu dari tulisan ini saya menyuarakan bahwa orang-orang kiri adalah orang yang beda mereka punya caranya sendiri intuk menterjemahkan sesuatu, orang kiri pasti adalah orang yang gemar membaca, karena dari mana mereka mengetahui semua tanpa membaca.


Oleh karena itu seluruh pemuda indonesia termasuk saya, perlahan tinggalkanlah hal-hal yang tidak bermanfaat, hanya menghancurkan generasi, yang pikirannya hanya bermain, poya-poya, gaya-gayaan, karena semua itu tak sedikit ada manfaatnya bagi kita karena hanya akan menggerogoti tubuh negeri ini dengan penyakit yang kita berikan, dan cara untuk mengatasi semua itu terjadi adalah dengan menjadi kiri. Karena kiri itu SEKSI. 



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait