Opini › Opini


Mahasiswa dalam Tempurung

Selasa, 12/12/2017 15:39 WIB | Oleh : Fitrah Al Siddiq

Tiga tahun sudah tidak ada Dewan Mahasiswa (Dema) di Universitas ini, kita tidak memedulikannya. Mereka pun terlalu berpolemik ketika mengurusnya kembali. Intinya kita dan mereka sama, sama-sama terbiasa tanpa ada lembaga mahasiswa tertinggi. 

 

Akhir Dema secara resmi pilihan mahasiswa terjadi di tahun 2014. Setelah itu Dema mengalami diskresi karena kerisuhan dalam pemilihan sebagaimana dikabarkan majalah SuaraKampus edisi ketiga. Di sana juga dijelaskan bahwa diskresi merupakan langkah yang tepat. Sangat disayangkan, tapi itulah kenyataanya.

 

Hingga kini diakhir tahun 2017 lembaga tertinggi ini juga belum terbentuk. Padahal diperlukan keberadaan Dema itu ada setiap tahunnya, terutama untuk mahasiswa. Sebab ketiadaan ini, sekarang Mahasiswa UIN IB ibaratkan tubuh tanpa bermulut ‘walaupun tak semuanya merasa’. 

 

Begitulah tubuh tanpa mulut, untuk segala aspirasi dari tangan, isi kepala dan kaki hanya mampu menepuk diri sendiri dan bersorak tidak dapat sampai kepada tujuan mahasiswa. Seperti dalam tempurung. Tidak mampu menerobos meneruskan kepada arah yang lebih besar. kepada yang lebih baik atau bahkan ke arah sebuah prestasi. Sebab itu mahasiswa butuh mulut yang mampu membincangkan keinginan dan kemajuan mahasiswa.

 

Salah satu contoh, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang sulit mengajukan aspirasinya karena tak ada wadah yang menampung keinginanya. Mereka harus berbaris serta bersorak (orasi) di depan kantor rektorat. Terlepas ditampung atau tidaknya keinginan mereka, yang penting apa yang ada di pikiran mereka tersampaikan . Padahal, tanpa orasi mahasiswa FEBI bisa mengadu kepada Dema terlebih dahulu. Sebagaimana Dema juga berfungsi penampung dan penyalur aspirasi atau keinginan mahasiswa.

 

Contoh lain, kelebihan adanya Dema adalah untuk menyalurkan aspirasi mahasiswa, seperti yang terjadi di Universitas Negeri Makasar (UNM). Dalam pemberitaan Lembaga Pers Mahasiswa Profesi UNM dikatakan bahwa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Politik menuntut kepada petinggi Universitas untuk mengkaji ulang ketetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa yang setiap tahunnya semakin naik. Menurutnya, pemimpin Perguruan Tinggi Negeri dapat melakukan penetapan ulang. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Permenristek Dikti) Nomor 39 Tahun 2017 pada Pasal 5 Ayat 1.

 

Di sisi lain, adanya Dema juga diperlukan bagi pihak kampus. Sebab yang akan menghubungkan pihak kampus dengan mahasiswa adalah Dema. Bahkan Dema merupakan lembaga penghubung yang pertama. Sekaligus lembaga yang bisa diajak untuk membangun citra dan eksistensi kampus.. 

 

Dalam status IAIN kemarin, pihak kampus gagal untuk membentuk Dema. Saat ini sudah dilanjutkan dengan kepemerintahan UIN. Sekarang kampus memang sudah membentuk tim untuk mengurus itu. Setidaknya dengan sudah dibentuknya tim khusus (tim adhoc) untuk membentuk DEMA , bisa cepat dan memudahkan terbentuknya mulut mahasiswa ini. Namum hingga saat ini DEMA masih dalam bayang-bayang mahasiswa. Sampai kapankah mau menunggu ?

 

Alangkah baiknya ke depan lebih mementingkan mahasiswa bukan kekuasaan jika selama ini ketiadaan disebabkan dengan kekuasaan. Belum seberapa kekuasaan di kampus dibandingkan dengan kekuasaan yang ada di dunia ini. Rasanya terlalu mustahil jika ketiadaan mahasiswa untuk menunjuk dirinya agar ikut andil menjadi penyalur aspirasi sebagai Dema.

 

Sekarang apakah permasalahan datang dari mahasiswa? Mungkin kita yang tak punya keinginan, tujuan, tak tahu dengan martabat yang sudah di pundak, atau tidak tahu yang telah kita bawa sedari rumah menuju lembaga ini. ‘Padahal masyarakat berharap keintelektualmu dapat menusuk lebih dalam dan menebas lebih putus, di samping banyak massa yang kau punya’.

 

 

Sebagai mahasiswa ada baiknya mempermudah jalannya suatu sistem di organisasi kampus. Jika sudah akan dibentuk Dema, sama-samalah untuk mendukung untuk kemajuan kampus. Jangan karena untuk kepentingan tertentu Dema terbengkalai sekian tahun lamanya. Ribuan mahasiswa seharusnya bisa menyatu membentuk Dema demi majunya kampus.

 

Atau mungkin memang keinginan hanya sebatas mencari dan memupuk ilmu tanpa mencoba melihat melirik kesekeliling lalu mempraktekkannya. Padahal, mereka membutuhkan ilmumu padahal mereka menggantung diri kepadamu.

 



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code: