Opini › Opini


Kaum Intelektual Harus Berpikir dan Bersikap Intelek

Senin, 29/01/2018 15:43 WIB | Oleh : Zulfaizah Fitri

Jika kita Flashback  pada perjuangan mahasiswa era’98, muncul dalam benak kita empat tokoh muda seperti Elang Mulya lesmana, Heri hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie,  mereka gugur sebagai pahlawan dalam menyampaikan aspirasinya untuk meruntuhkan rezim orde baru yang ditunggangi praktik Korupsi Kolusi Nepotisme.


Kalau kita selidik dari makna mahasiswa itu sendiri yang idealnya merupakan sosok kaum intelektual yang memiliki visi, misi dan tujuan dalam membangun tanah air bangsa dan negara, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua kegiatan, tindak tanduk atau tingkah laku dan perbuatan seorang mahasiswa harus didasarkan pada akal dan tindakan yang jernih tanpa ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang konteksnya berada diluar persepsi tentang makna mahasiswa itu sendiri.


Persepsi tentang mahasiswa sebagai kaum intelektual yang memang seharusnya juga berwawasan dan berprilaku intektual membangun bangsa dan negaranya serta lingkungan sekitarnya kearah yang lebih baik. Seringkali kita dengar sebutan mahasiswa sebagai “Agent of changes”. Meskipun begitu hal ini tidak bisa memberikan fakta mutlak tentang keidealan seluruh mahasiswa yang ada dizaman sekarang ini. Karena masih banyak diantara mereka yang hanya menyandang jabatan sebagai mahasiswa tanpa mengetahui maknanya.


Mahasiswa sebagai salah satu elemen penting dalam komposisi utuh Negara Kesatuan Republik Indonesia selayaknya menjadi salah satu elemen vital yang mempunyai peran penting dalam mengiringi dan mengawal semua perubahan dari setiap langkah bangsa, setidaknya dalam lingkungan sekitarnya.


Apakah mahasiswa zaman sekarang sudah dapat dikatakan sebagai Agent of changes seperti yang sering digaung-gaungkan tersebut? Bahkan saya rasa seorang pakarpun akan berpikir dua kali dan mencari beberapa landasan untuk menjawab pertanyaan ini. Kenapa demikian? Karena paradigma yang sekarang sedang dominan dibenak mahasiswa Indonesia adalah posisnya sebagai seorang akademisi yang bergaya hidup hedonis. Dengan paradigma yang menohok. “Para pengejar tinggi, lulus cepat, dan dapat kerja” hal ini lah yang tampaknya menjadi tolak ukur bagi mahasiswa Indonesia di zaman millenial ini, dimana mereka berlomba untuk memeperoleh Indeks Prestasi Akademik yang tinggi agar tamat dengan yudisium summa ataupun cumlaude, lulus dengan cepat dengan tujuh atau maksimal delapan semester, kemudian setelah wisuda langsung diterima bekerja ditempat yang layak.


Fenomena tersebut tak dapat dikatakan sebagai isapan jempol semata karena hal memang berangkat dari realita yang terjadi dilingkungan mereka itu sendiri, yaitu mereka yang sedang menyandang gelar “Mahasiswa”, tanpa mereka sadari telah menanggalkan peran penting dari mahasiswa itu sendiri sebagai “Kaum Intelektual dan Agent of Changes”, menghilangkan peran pentingnya yang lain yaitu sebagai pengabdi terhadap masyarakat, seperti yang tertuang dalam tri darma perguruan tinggi. Paradigma ini tidak terlepas dari kondisi ekonomi dan pendidikan Indonesia yang sedang berada dalam masa pubertas menuju kematangan dan kedewasaan.


Pola pikir mahasiswa sekarang yang cendrung hedonis dan uforia. Mendapat gelar mahasiswa sebagai suatu ajang pamer-pameran dan menaikkan gengsi sosialnya ditengah-tengah masyarakat membuat mahasiswa sekarang cendrung bersikap apatis dan tidak mau tau, sring kali kita lihat oknum mahasiswa yang katanya kaum intektual tapi berprilaku tidak intelektual seperti mahasiswa yang ketahuan narkoba, bullying yang baru-baru ini sudah berhasil menghilangkan nyawa mahasiswa baru yang tengah mengikuti suatu kegiatan orientasi UKM kampusnya. Semua ini merupakan rentetan dari perilaku hedonis dan apatis mahasiswa zaman sekarang.


Orientasi mahasiswa zaman sekarang sedang tren dengan budayan individualis yang terus mengakar dari mahasiswa yang satu ke mahasiswa yang lainnya. Konsekuensi dari permasalahan ini tidak dapat dipungkiri akan berbuntut panjang pada kinerja merea saat terjun kelapangan nanti, seperti menciptakan bibit koruptor yang dengan moto “Pengorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh nilai sebagus-bagusnya,”. Akhirnya jalan-jalan curangpun dihalalkan mulai dari mencari jawaban di gogle saat ujian berlangsung melihat kunci jawaban bahkan bekerjasama saat menjawab ujian dengan tujuan asalkan nilai bagus.


Untuk itu sebenarnya masing-masing kampus telah mengantisipasi semua hal yang ada dengan membentuk wadah organisasi baik itu intrakurikuler maupun ektrakurikuler kampus dalam menaungi mahasiswa untuk dapat menjalankan roda kehidupannya sebagai layaknya seorang yang mempunyai posis sebagai seorang mahasiswa ditengah-tengah masyarakat. Namun dalam realitanya banyak saja mahasiswa yang tidak begitu peduli dengan kegiatan orgnaisasi intrakurikuler maupun ektrakurikuler kampus, karena alasan utama ketidakmampuan mereka membagi waktu antara egiatan akademik formal yang memiliki bobot Sistem Kredit Studi diperkuliahan dengan kegiatan organisasi yang tidak memiliki bobot SKS. Hal inilah yang membuat mahasiswa cenrung apatis dan tidak mempunyai pergerakan, mereka yang sibuk dengan kegiatan akademik cenderung kurang memiliki kecakapan dalam sebuah tim dan mengelola suatu event.


Permasalahan yang perlu sama-sama bangsa ini pecahkan untuk memberikan kembali hakikat dari seorang mahasiswa itu sendiri sebagai agen perubahan didalam masyarakat , sebagai kaum intlektual yang berpikir dan bersikap intelek, mempunyai pola pikir yang kritis, berani dan bergerak demi kemajuan bangsa dan negara Indoensia. Mahasiswa harus bergerak tidak hanya diam, mahasiswa harus peka terhadap segala persoalan sosial yang ada tida k hanya diam menunggu dan terus menunggu saatnya mahasiswa bergerak seperti kiprah yang pernah dilakukan mahasiswa dahulu dizaman rezim orde baru.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait