Opini › Opini


Cadar Effect

Minggu, 11/03/2018 11:11 WIB | Oleh : Duski Samad (Ketua MUI Kota Padang)

Viralnya larangan bercadar di Perguruan Tinggi Islam UIN Sunan Kalijaga Joyakarta beberapa hari lalu adalah bahagian dari buah kebebasan yang diakselerasi oleh dunia digital dalam bentuk gugatan di media sosial. Pro konta tentang busana muslimah (kaum perempuan) sebenarnya tidak perlu terjadi, jika soal busana  dipahami sebagai pelaksanaan keyakinan dan pilihan mereka. Masalahnya menjadi luas dan melebihi konteks busananya, ketika ia dihubungkaitkan dengan prilaku beberapa orang, atau ada pihak-pihak yang memboncengi busana cadar sebagai topeng menutupi perbuatan tercela dan atau melawan hukum.  

 

Cadar sebagai busana yang dipakai oleh kaum perempuan Indonesia sudah ada sejak Islam ada di negeri ini, hanya saja dipakai ditempat dan saat terbatas. Keterbukaan, kebebasan berekspresi dan menentukan pilihan bagi perempuan juga bersahutan dengan pilihan cerdas perempuan yang ingin dirinya aman dari godaan kaum laki-laki iseng. Bersamaan dengan tersedianya ruang untuk memakai busana cadar, telah juga mengundang kegoncangan budaya dan gaya hidup kaum perempuan. Cadar sebagai pilihan busana oleh sebahagian masyarakat dianggap aneh, menimbulkan jarak dalam komunikasi dan lahirnya suasana yang berbeda dengan umum.

 

Debat tentang cadar sebagai busana yang berkaitan dengan budaya arab atau keyakinan agama, tidak dapat dijawab dengan simple atau sederhana saja. Cadar sebagai tuntutan iman adalah jelas dasarnya, begitu juga cadar sebagai bahagian dari budaya Arab sulit membantahnya. Yang harusnya dimengerti bahwa cadar itu awalnya memang busana Arab, ketika nash agama memberikan dukungan terhadapnya maka ia menjadi norma agama. Ruang yang harusnya dikembangkan adalah menemukan solusi terhadap hambatan komunikasi, kecurigaan pada prilaku dari pihak yang menyalahgunakan cadar, dan menentukan cadar yang tetap memberikan kesempatan untuk pemakainya lebih leluasa serta sesuai dengan standar menutup aurat dalam Islam.

 

Norma Cadar dan Jilbab

 

Tegas dan jelas dalam al-Qur’an bahwa kaum perempuan muslim harus berbeda secara jelas dengan perempuan non muslim.  Perempuan muslim harus dengan berani meninggalkan atau menjauhi tabarruj (budaya) jahiliyah, termasuk dalamnya busana seperti pakaian yang mengumbar tubuh yang tentunya menimbulkan pandangan syahwat laki-laki yang buruk akhlaknya, keluyuran keluar rumah tanpa muhram, berdandan berlebihan dalam kehidupan di masyarakat, (QS. Al-Ahzab (33): 32-36).   

 

Berkaitan dengan pakaian busana cadar atau jilbab normanya jelas,  artinya; Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya, ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Ahzab (33):59). Kata jilbab dalam ayat itu terjemah al-Qur’an yang diterbitkan Kementrian Agama RI mengartikannya bahwa jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.


Secara bahasa kata jalâbîb merupakan bentuk jamak dari kata jilbâb. Terdapat beberapa pengertian yang diberikan para ulama mengenai kata jilbab.(1) Ibnu Abbas menafsirkannya sebagai ar-ridâ’ (mantel) yang menutup tubuh dari atas hingga bawah. (2) Al-Qasimi menggambarkan, ar-ridâ’ itu seperti as-sirdâb (terowongan).(3) Adapun menurut al-Qurthubi, Ibnu al-’Arabi, dan an-Nasafi jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh.(4) Ada juga yang mengartikannya sebagai milhafah (baju kurung yang longgar dan tidak tipis) dan semua yang menutupi, baik berupa pakaian maupun lainnya. (5) Sebagian lainnya memahaminya sebagai mulâ’ah (baju kurung) yang menutupi wanita. (6) al-qamîsh (baju gamis). (7) Meskipun berbeda-beda, menurut al-Baqai, semua makna yang dimaksud itu tidak salah. (8) Bahwa jilbab adalah setiap pakaian longgar yang menutupi pakaian yang biasa dikenakan dalam keseharian dapat dipahami dari hadis Ummu ‘Athiyah ra. : Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk keluar pada Hari Fitri dan Adha, baik gadis yang menginjak akil balig, wanita-wanita yang sedang haid, maupun wanita-wanita pingitan. Wanita yang sedang haid tetap meninggalkan shalat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslim. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab?” Rasulullah saw. menjawab, “Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya.” (HR Muslim).

 

Nash lain yang dengan jelas juga memuat tentang pedoman berprilaku dan berbusana bagi kaum muslimah ...artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. al-Nuur (24):31).

 

Mencermati diskusi di media dan ruang publik tentang cadar dan pakaian muslimah tentu harus dimengerti secara lebih luas dan mempertimbangkan sosial budaya, tanpa harus mengesampingkan penghargaan terhadap keyakinan kaum perempuan itu sendiri. Bahwa kaum perempuan harus berbusana menutupi aurat, mengunakan busana yang memberikan penghormatan terhadap harga dirinya, kaum perempuan terjamin keamanan jiwa dan martabat dirinya adalah kebutuhan kolektif yang tidak boleh diabaikan, guna membangun kaharmonisan sosial.

 

Sudah nyata sekali akibat buruk dari tidak tertibnya busana kaum perempuan, busana tanpa menutupi aurat, karena memperlihatkan lekuk tubuh dan warna kulit, menimbulkan berbagai efek negatif, seperti pelecehan kaum perempuan, dan anak-anak di transportasi publik, di pasar dan ruang publik lain. Sekolah dan Perguruan Tinggi tentu diharapkan lebih cerdas mengantisipasi keadaan yang tidak diinginkan bagi kaum perempuan. Bukankankah perempuan itu ibu setiap orang, dan sekaligus juga anak yang dicintai keluarga.

 

Memastikan kaum perempuan aman, nyaman, tidak perlu khawatir di jalanan dan di tempat umum, salah satu caranya adalah mengajak mereka sendiri dapat menjaga dirinya, dimulai dengan mengunakan busana muslimah yang tidak membawa efek mencurigakan dan atau mengundang tafsir lain. Busana cadar itu baik, namun ia bisa saja menjadi tidak baik, mengundang kesalahmengertian saat ia dipakai dan digunakan oleh mereka yang tak bertanggung jawab. Kewajiban pimpinan lembaga atau pihak penentu kebijakan memberikan pedoman, batasan, kreteria terhadap busana muslimah yang bisa diterima lingkungan dan tidak melanggar prinsip-prinsip dasar syariah.

 

Busana sebagai penutup aurat untuk membuat diri kaum perempuan terjamin dari gangguan mereka yang jahat, tentu diperlukan diskusi, saling memahami antara kebutuhan iman, gaya, dan fleksibilitas gerak perempuan dengan penentu kebijakan dan masyarakat umum tempat dimana mereka hidup dan beraktivitas. Akhirnya dapat dikatakan bahwa pro kontra soal cadar, tidak boleh keluar dari substansi cadar sebagai penutup aurat yang awalnya budaya, setelah ada nash agama ia bukan sekadar budaya lagi tetapi sudah menjadi norma Islam. bagaimana mode, gaya dan bentuknya dapat saja disesuaikan, selama tidak mengusur prinsip dasarnya.


Adanya efek negatif yang diperbuat oleh personal yang kebetulan bercadar, atau ada orang-orang bercadar belum sepenuhnya dapat memperlihatkan kepribadian muslim kaffah, dan atau juga ada pelaku kejahatan, teror atau tindakan melawan hukum yang mengunakan cadar, semua itu tidak boleh menjadikan cadar harus dibuang atau dilarang. Efek negatif dari prilaku orang yang bercadar yang menyimpang  itu yang harus dicarikan solusinya dan diantisipasi kemungkinannya. Kearifan adat menyebut, jangan karena marah sama tikus, rangkiang pula yang di bakar. Semoga diarifi adanya. Wal’ahu alam.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait