Opini › Opini


Setan Domestik dan Publik

Minggu, 29/04/2018 11:14 WIB | Oleh : Duski Samad (Ketua MUI Kota Padang)

Viral pernyataan Amin Rais saat ceramah di sebuah masjid di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Jumat, 13 April 2018 lalu, yang menyebut ada kelompok dari  'Partai Allah' dan 'Partai Setan'.dengan mendasarkanya pada surat al-Mujadillah, surat ke 58 ayat 19 dan 22 tentang Hizbul Allah dan Hizbul  Setan,  adalah bentuk tingginya tensi politik di tahun politik 2018-2019 ini.  Pro kontra, debat dan wacana luas soal ini  adalah wajar dan sah-sah saja. Hanya saja kadang-kadang masyarakat umum menjadi salah paham bahwa keadaan ini adalah bentuk dari demokrasi atau kebebasan berbicara yang tidak lagi dalam batasan-batasan dan kapasitas dari orang-orang ahli dibidangnya.

 

Kebablasan kebebasan yang begitu massif di sebar luaskan oleh media sosial, dimana  semua orang dapat saja mengutip, menafsirkan, mengulas dan membuat pengertian sesuai keperluannya lalu kemudian menviralkannya  adalah ancaman serius bagi ilmu pengetahuan dan peradaban. Mengenai kata hizbul, bila dicermati lebih dalam akan ditemukan bahwa term hiszbullah dan hizbul setan itu sejak lama sudah tertera dalam al-Qur’an, hanya saja selama ini pembahasan yang disampaikan ulama dan mubaligh lebih pada makna teologis yang berkaitan dengan prilaku orang perorang. Saat tafsir ayat ini dilakukan pengembangan, atau dipahami dalam artian konstektual, maka pesannya melebihi dari ranah domestik atau pribadi dan sosial terbatas saja. Dalam masyarakat kotemporer pemakaian kata hizbullah telah meluas melampui dari pesan utama yang ada pada saat al-Qur’an diturunkan.

 

Secara sosiologis di belahan dunia ini, kata Hizbullah telah dipakai dalam arti golongan, partai, dan ada pula yang menjadi merek dagang. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas memuat bahwa kata Hizbullah dapat merujuk pada: Hizbullah: sebuah partai politik dan milisi Syi'ah yang berperan penting dalam mengusir Israel dari Lebanon. Oleh Israel, AS, Britania Raya, Belanda, Australia dan Kanada dinyatakan sebagai organisasi teroris. Hizbullah dari Turki: tak ada kaitannya dengan Hizbullah (Lebanon), adalah sebuah kelompok Sunni Kurdi di Turki. Hizbullah di Irak, tak ada hubungannya dengan kelompok-kelompok di atas, adalah sebuah partai politik yang merupakan bagian dari Aliansi Irak Bersatu. Pada masa pemerintahan Saddam Hussein kelompok ini melakukan perlawanan dari basis-basisnya di daerah berawa-rawa di Irak selatan. Gerakan Hizbullah di Irak: partai politik yang juga tak ada hubungannya dengan organisasi-organisasi di atas, juga merupakan komponen dari Aliansi Irak Bersatu. Hizbullah Revolusioner Kurdi: sebuah kelompok Islam Kurdi Irak yang didirikan pada 1983 dan dibubarkan pada 2002. Hizbullah: sebuah partai politik dan gerakan spiritual di Iran. Ansar-e-Hezbollah: sebuah kelompok Islam di Iran. Hizbullah: sebuah organisasi di Mauritius. Hizballah Al-Hijaz: organisasi Syi'ah yang beroperasi di Arab Saudi, Lebanon, Kuwait dan Bahrain. HIzbullah: laskar rakyat pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, yang salah satu anggotanya adalah Ali Moertopo. Belakangan sebagian anggotanya melebur baik ke dalam Tentara Nasional Indonesia dan juga ke dalam Tentara Islam Indonesia (TII). Hizbullah: kelompok Islam garis keras di Surakarta. Hizbullah FM: sebuah stasiun radio di SurakartaJawa Tengah.

 

Meluasnya dan beragamnya pengunaan kata Hizbullah adalah realitas yang tak bisa dibantah. Ketika term hizbullah diperhadapkan dengan hizbul setan, diartikan pula dengan makna partai, disebut pula tiga partai yang dikategorikan partai Allah, maka ia mendapat tafsiran dan kritik pedas dari pihak yang merasa dirugikan pernyataan itu. Langsung atau tidak partai selain yang tiga di atas tentu oleh pembaca umum dipahami sebagai partai setan, begitu komentar para pengurus partai selain yang tiga di atas. Ya itulah demokrasi, kata yang merasa diuntungkan pernyataan itu.  Masaallah.

 

Bahasan yang menjadi penting dari tema Hizbullah dan Hizbu Setan  di atas adalah berkaitan dengan identifikasi terhadap orang dan golongan pembela agama Allah dan pihak yang menentang agama Allah. Setan adalah pihak yang dijadikan lambang dari setiap gerakan, orang, badan atau apapun yang menentang, menolak dan menganggu agama Allah. Setan disebut dalam al-Qur’an sebagai gerakan penentangannya  yang total dan meluas. Setan menolak kebenaran dengan cara menyesatkan individu, kelompok bahkan golongan terbesar dari satu komunitas sekalipun.

 

SETAN DI RANAH DOMESTIK

Artinya: Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)[ Maksudnya syaitan-syaitan jenis jin dan manusia berupaya menipu manusia agar tidak beriman kepada Nabi.]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. al-‘An’am (6):112)

 

Sepanjang sejarah para Nabi dan Rasul selalu ada orang atau pihak yang lari dari kebenaran, apakah ia manusia atau jin. Apapun dan siapapun yang lari dari  kebenaran, apakah ia orang perorang, kelompok, organisasi, partai, pejabat dan pemuka sekalipun itu dinamakan setan. Setan adaah jenis makhluk, prilaku orang, atau apapun kegiatan yang merusak kesucian orang atau menjauhkan orang dari kebenaran. Salah satu kata yang dipakai untuk menyatakan diberlindung dari setan adalah maazallah artinya aku berlidung kepada Allah. Kata ini disebutkan dalam al-Qur’an pada surat Yusuf (12) pada ayat ke 23 menyebutkan tentang ucapan yang keluar dari mulut Nabi Yusuf saat di goda oleh majikan perempuan yang ingin berbuat serong dengannya. Artinya:  Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (QS. Yusuf (12):23)

 

Al-Qur’an menyatakan bahwa dalam kehidupan sehar-hari manusia selalu diganggu oleh setan. Saat akan membaca al-Qur’an juga diperintahkan untuk berlindung dari pengaruh setan. Maknanya pesan setan dapat saja masuk dalam perbuatan baik yang dikerjakan. Artinya: Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS. an-Nah (16):98).  Tipu muslihat dan godaan setan tiada pernah berhenti dalam segala keadaan dengan modus yang licik sekali. Berlindung diri dari rayuan setan diperintahkan setiap saat, Artiny: Dan Katakanlah: "Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau Ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku." (QS. al-Mu’minum (23):97-8)

 

Saat godaan setan memuncak orang harus membaca ta’uzu, karena Allah saja yang dapat melindungi hamba dari godaanya. Artinya:  Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan Maka berlindunglah kepada Allah[Maksudnya: membaca A'udzubillahi minasy-syaithaanir-rajiim.]. (QS. A-‘Araf (7):200). Penegasan pentingnya perlindungan diri pada Allah diulang lagi al-Qur’an. Artinya:  Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, Maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Fusshilat (41):36).

 

Perlindungan diri dari setan di atas lebih memiliki pesan domestik, pribadi dan dalam artian personal. Orang baik akan terus menghindarkan diri dan berlindung dengan Allah dari godaan dan gangguan setan yang terkutuk itu. Ibadah, baca al-Qur’an, dzikir dan doa yang dilakukan secara baik adalah satu media pencegah setan yang efektif dan berdayajangkau luas.  

 

SETAN DI RANAH PUBLIK

Sisi lain yang diungkap al-Qur’an tentang setan adalah berkaitan dengan ranah publik, golongan atau kelompok. Kata golongan, partai atau kelompok setan inilah yang dimaksudkan dengan setan di ranah publik. Sebagai contoh dapat disimak,  Artinya: Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan syaitan Itulah golongan yang merugi. (QS. al-Mujadilah (58):19).

 

Kata setan telah menguasai mereka menunjukkan arti jamak, atau kelompok. Mereka yang dikuasai atau lari kebenaran itu adalah golongan yang akan merugi. Secara jelas dibuat penciriannya dalam al-Qur’an pada ayat ke 22, artinya: Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[Yang dimaksud dengan pertolongan ialah kemauan bathin, kebersihan hati, kemenangan terhadap musuh dan lain lain.] yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS. al-Mujadilah, (58):22).

 

Beralasan sekali bila dikatakan bahwa golongan mana saja yang menjauhkan diri atau menjauhkan orang lain, masyarakat dan publik dari kebenaran dapat dikatakan sebagai setan publik. Kebijakan dan program yang tidak bermuara pada kebaikan publik adalah kerja setan yang harus dilindungi dengan sistim ketuhanan. Godaan dan gangguang setan yang sudah bekerja di ranah publik tidak dapat di atasi dengan membaca ta’uzu belaka, perlu sistim dan kekuasaan. Firman suci menjelaskan; artinya: Dan Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah[Yaitu: orang-orang yang menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya.] Itulah yang pasti menang. (QS. al-Maidah, (5):56).

 

Prilaku buruk setan di ranah publik adalah melakukan perusakan terhadap  tatanan dan sistim yang sudah baik dan benar. Bahkan setan yang berkembang di ranah publik tidak sungkan-sungkan mempertanyakan dan mendeligitimasi ayat-ayat Allah, artinya:  Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka[Maksudnya mereka menolak ayat-ayat Allah tanpa alasan yang datang kepada mereka] tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, Maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha melihat. (QS. al-Mu’min (40):56).

 

Akhir kalam dapat dikatakan bahwa setiap orang, dan golongan yang nyata-nyata membuat kebenaran tidak dapat ditegakkan atau lari dari kebenaran adalah setan. Setan ketika ia ada di ranah domenstik, diri atau lingkungan terbatas, maka pengunaan ayat al-Qur’an ta’uzu adalah cara untuk melindungi diri dari pengaruh jahatnya. Setan yang sudah melembaga di ranah publik, diperlukan sistim dan tatanan kolektif yang baik untuk mencegah dampak buruk yang dibawanya.  Semoga bangsa ini dapat melindungi dari setan domestik dan publik. Amin. 19042018.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait