Opini › Opini


Hijrah Itu Revolusi

Rabu, 19/09/2018 12:19 WIB | Oleh : Duski Samad (Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang)

 

Tema hijrah itu revolusi sementara orang ada mencemaskannya, seolah-olahnya mengajak pembaca melakukan revolusi dalam makna menganti tatanan bernegara yang ada sekarang. Sama sekali bukan itu yang dimaksudkan dengan judul hijrah itu revolusi, akan tetapi untuk menegaskan bahwa perubahan ke arah yang lebih baik sebagai keniscayaan kemajuan tidak akan tercapai bila tidak disertai dengan semangat hijrah yang bernuansa revolusi, artinya perubahan mendasar dan cara-cara lebih tegas. Lebih spesifik lagi perubahan dengan mengikuti alur biasa-biasa saja, pendekatan yang tidak tegas dan penegakkan hukum yang tidak pasti, adalah utopia (mimpi) adanya hijrah sikap mental dan prilaku ke arah yang lebih baik itu.  


Penanggalan hijriah yang digagas oleh khalifah kedua Umar Ibn Khatab setelah 17 tahun  terjadi hijrah itu dilakukan Rasul Muhammad saw bersama-sama kaum muslimin yang sudah bersumpah setia membela Nabi dalam segala situasi dan kondisi yang akan terjadi adalah momen penting untuk muhasabah dan refleksi umat. Penetapan tahun baru Islam dimulai dengan kejadian hijrah atas usulan Ali Ibi Abi Thalib yang ingin menjadikan tahun pindahnya nabi menjadi tarekh Islam karena memang kejadian hijrah ini luar biasa heroiknya,  dan menjadi babak baru perjuangan Islam. Dahsyatnya kekuatan iman yang tertanam dalam diri para sahabat dan kaum muslimin telah mensukseskan hijrah atau imigrasinya  umat Islam dengan meninggalkan semua harta benda, keluarga, kerja, dan tanah air dalam satu tujuan untuk mempertahankan iman mereka. Imanlah yang menjadi motor pengerak suksesnya hijrah. Iman pula yang menjadikan kaum Anshar di Madinah menjadi masyarakat yang memiliki solidaritas tinggi, kesiapan menjadi masyarakat super sosial, hatta pasangan hidup sekalipun mereka siap untuk berbagi.


Sulit dijelaskan dalam kehidupan normal orang-orang menyatakan  siap pindah, meninggalkan kediaman, kenyaman dan tanah airnya  tanpa menghiraukan kekayaan dan modal yang diusahakan sejak lama, pindah pada daerah yang masa depannya belum pasti. Begitu juga sungguh luar biasa kuatnya solidaritas kaum Anshar dalam menopang kehidupan saudaranya Muhajirin baik dalam ekonomi, usaha dan sosial kemasyarakatan.


Sikap heroik, luar biasa dan menakjubkan yang ditinggalkan sejarah hijrah maka patut sekali hijrah menjadi momen untuk merevitalisasi gerak perjuangan Islam, baik kontek individu, keluarga, masyarakat, umat dan bangsa. Dorongan pesan sejarah yang ditinggalkan peritiswa hijrah haruslah dimengerti, direfleksikan dan diinternalisasikan kepada dalam hati, pikiran kesadaran umat dan bangsa. Membaca pesan hijrah dan memahami semangat hijrah yang dinukilkan dalam kitab suci al-Qur’an pada surat ke-9 surat al-Tawbah atau sural al-Bara’ah dapat disimpulkan bahwa hijrah itu mengandung makna kesadaran (al-Tawbah) dan kemandirian (al-Bara’ah). Kesadaran untuk menjadi lebih baik, berhijrah dari kondisi yang tidak baik menjadi baik, kondisi jahiliyah menjadi masyarakat muslim yang beradab.


Hijrah juga menegaskan prinsip kemandirian (bara’ah) dari pengaruh buruk prilaku, pola pikir, sikap mental dan tradisi yang tumbuh dalam masyarakat kaum kafir, musrik, murtad, munafiq dan penghalang kebaikan lainnya. Mengerti terhadap pesan sejarah hijrah dalam kontek kehidupan masa depan setidaknya dapat disarikan pada tiga pesan sejarah hijrah yang harus diaktualisasikan dalam memperbaiki kualitas umat dan bangsa.


REVOLUSI BATIN.

Gerakan untuk mengaktualkan revolusi batin maksudnya menjadikan pesan hijrah sebagai saatnya mengajak umat dan bangsa untuk meninggalkan sikap mental, prilaku dan pola pikir egocentris  atau ashabiyah, kesukuan, etnis, kroni dan budaya patronase lainnya. Sikap mental, prilaku dan pola pikir egosentris atau ashabiyah berupa menjadikan kaum, suku, etnis, golongan dan kelompok menjadi dasar penetapan kebijakan adalah kekeliruan dari mereka yang  terjebak dalam menganggungkan, mengutamakan, memandang diri, keluarga, etnisnya dan kelompoknya paling baik dan utama dan orang lain tidak ada apa-apanya, bahkan orang lain atau bukan kelompoknya dihilangkan. Situasi keterbelakangan peradaban itu dihijrahkan oleh Rasul menjadi sikap mental, prilaku dan pola pikir yang di dasarkan pada kemanusiaan, (ukhuwah). Bangsa yang dulunya dicatat hidup nomaden, egois, kasar dan keras menjadi bangsa yang hidup dalam persaudaraan yang kuat. Al-Qur’an mengambar sikap mental, tipologi, karakter dan prilaku Arab Mekah dan Arab Madinah. Bahwa Arab Jahiliyah itu sangat kafir, munafiq dan tak pedulikan hukum. (QS. al-Tawbah, (9):97) Begitu juga gambaran al-Qur’an terhadap  bangsa Madinah masa jahiliyah sebelum Nabi hijrah mencerahkan mereka yang dikenal munafiq, curang, licin dan licik dalam pergaulan, alias hipokrit, munafiq dan tidak fair. (QS. al-Tawbah, (9):101)


Dalam konteks kehidupan umat dan bangsa Indonesia maka hijrah dimaknai untuk mengkonsolidasikan batin atau jiwa setiap pribadi bahwa sekat-sekat sosial seperti sebutan orang pribumi, pendatang, orang asli, orang tidak asli, suku ini lebih baik dari suku itu, adalah sikap mental, dan pola pikir jahiliyah yang harus dihijrahkan. Umat dan bangsa diberikan pencerahan hijrah  bahwa landasan hidup yang madani itu  bukankah didasarkan pada egocentris yang sempit tetapi harus dikembangkan pada bingkai ukhuwah atau persaudaraan sejati. Intrik, konflik dan gesekan sosial pada awalnya bermula dari sikap batin yang salah pasang, sikap batin yang masih jahiliyah belum lagi tersentuh mentalitas hijrah. Kebanggaan pada ego kelompok, etnis dan identitas lainya  harus dapat tunduk pada persaudaraan kemanusiaan.


Untuk membangun persaudaran (ukhuwah) yang tulus ada dua ayat yang dapat dijadikan pedoman. Pertama uhkuwah dalam menghadapi pihak-pihak yang berbeda, atau ukhuwah dengan pihak luar yang berbeda iman, beda suku dan perbedaan lainnya (ukhuwah eksternal), Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. (QS. Muzammil (97):10). Kedua, ukhuwah sesama umat yang memang realitasnya ada perbedaan dan tentu adanya perbedaan bisa jadi membawa perselisihan, maka untuk itu ukhuwah internal umat dituntut untuk mengamalkan Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS. al-Hujuurat, (49):10).


REVOLUSI SOSIAL.

Hijrah mengajarkan bagaimana mestinya melakukan perbaikan mendasar dalam hubungan sosial. Hijrahnya Rasul bukan saja membentuk individu umat, tetapi juga merevolusi cara-cara umat dalam berinteraksi, bersosialisasi dan hidup dalam tatanan sosial yang saling memuliakan. Sikap, gaya hidup dan pola keseimbangan sosial, melalui kesetaraan (eguality), keseimbangan dan saling mengontrol (chack and balance), menghargai perbedaan suku, ras dan menegaskan bahwa nilai tertinggi taqwa, saling menghargai dipadatkan dalam ide besar taqwa, mulia dan  ta’aruf. (QS. al-Hujurat (49):13).


Kesadaran memperbaiki relasi, interaksi dan hubungan personal dalam sistim masyarakat menjadi kunci bagi terbangunnya keharmonisan sosial. Tidak ada makhluk manusia yang mau dan senang dilecehkan, diremehkan apalagi tidak diberikan apresiasi sesuai kodrat kemanusiaannya. Pengakuan pada hak-hak azazi manusia, hak-hak sosial dan hak lainnya lebih dahulu dicanangkan al-Qur’an, itulah hakikatnya hijrah sebagai keypoint untuk revolusi sosial. Arogansi kekuasaan, pendewaan pemilik modal, pengkultusan tokoh tertentu adalah “lagu jahiliyah” yang telah dicabut ke akarnya oleh hijrah, jangan diulagi lagi.


REVOLUSI MADANI

Revolusi madani adalah revolusi menjadikan negara bangsa Arab di Makah dan Madinah menjadi lebih beradab, berbudaya dan dikenal sebagai bangsa berperadaban tinggi. Hasil produk hijrah yang sangat mahal dan menjadi model bagi bangsa-bangsa di dunia adalah terbentuknya masyarakat madani di kota Madinah. Keragaman dan kemajemukkan yang sudah kuat dan terlibat konflik berkepanjangan di damaikan oleh Rasul Muhammad saw dalam ikatan bersama yang disebut sejarah dengan. al-Misaq al Madinah, perjanjian Madinah atau Piagam Madinah. Perjanjian luhur semua komponen untuk menjaga eksistensi Madinah.


Piagam Madinah adalah tali pengikat kuat antar etnis, suku, agama dan golongan suku Aus, Khazraj, Najran, agama Yahudi, Kristen, Majusi bahu membahu dalam mempertahankan Kota Madinah. Semua elemen masyarakat Madinah hidup berdampingan dengan umat Islam, di bawah bimbingan Rasul Muhammad saw. Indah, berkah dan sungguh luar biasa capaian hijrah yang berhasil merevolusi jiwa masyarakat Madinah yang sering ingkar janji, mudah bohong dan sering berkhianat atau munafiq menjadi umat yang santun, ramah, mulia, dan berperadaban tinggi, sehingga kotanya dinama dengan Madinatul Munawarah, kota yang berperadaban gemilang. Ta’awun (tolong menolong), (QS. al-Maidah, 3) adalah motivasi utama yang melekat pada jiwa penduduk Madinah. Sungguh menjadi penting diingatkan bahwa semangat revolusi, bukan evolusi, adalah cara terbaik untuk hijrah, individu, sosial, umat dan bangsa, berubah ke arah yang lebih baik. DS.11092018. 




Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code: