Opini › Opini


Kembalilah pada Fitrahnya Mahasiswa

Minggu, 30/09/2018 13:42 WIB | Oleh : Iko Juhansyah

Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan


Kepada pewaris peradaban 
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia


Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan 
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
untuk negeri tercinta.


Masih membahas seputar jati diri Mahasiswa yang hampir punah di permukaan bumi Nusantara. Mahasiswa dan pergerakannya sudah redup dari kepercayaan rakyat.


Dewasa ini, Indonesia mengalami beberapa konflik dari beberapa aspek kehidupan terutama pada bidang kebijakan politik dan juga hukum, tentunya dalam menanggapi fenomena tersebut perlu dibangkitkan kembali semangat para mahasiswa yang sudah terpendam sejak lama,  ekspansi mental atau dapat disebut perantauan mental sudah selayaknya dilakukan oleh para mahasiswa yang dapat disebut the agent of change,  dan sehubungan dengan hal diatas maka para mahasiswa kembali pada konsep awal yaitu pergerakan. 


Pergerakan pada setiap kebijakan politik dan juga hukum untuk tetap melakukan pemantauan terhadap aspek tersebut, tentunya untuk  kembali kepada konsep awal mahasiswa yaitu komponen kebangsaan khususnya dalam hal pemantauan kebijakan politik dan hukum sebelumnya. Mahasiswa harus kembali bersatu  dalam arti secara simbolik mahasiswa tetap menegakkan persatuan dan kesatuan Republik Indonesia, dengan meraih kesatuan dan persatuan secara khusus pada Mahasiswa dan secara umum untuk Rakyat Indonesia, tentunya Bangsa Indonesia memiliki kembali  komponen yang telah redup dan dapat membangun keemasan Republik Indonesia.


Dengan  ini, maka fungsi legislatif mahasiswa tidak hanya bergerak pada bidang internal saja tetapi juga turut andil dalam mengontrol setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia dengan tetap pada konsep memberikan fungsi kontrol, maka dengan menjalani fungsi kontrol terhadap kebijakan pemerintahan khusunya dalam bidang hukum dan politik maka konsep dasar institusi legislatif mahasiswa tetap dalam koridor yang sepantasnya.


Dengan tumbuhnya sikap dari para institusi legislatif tersebut maka Indonesia memliki Badan Kontrol Informal baru yang menjadi penyambung lidah rakyat dan juga menjadi the guardian of constitution.

 

Degradasi pergerakan mahasiswa kian menjamur, mahasiswa yang disebut the agent of change mulai keluar dari garis pergerakan yang semestinya terus dilakukan dan dijadikan suatu konsep dalam hati tiap para mahasiswa secara umum dan dalam hal ini fungsionaris organisasi mahasiswa secara khususnya. Fitrah pergerakan ini seharusnya tetap bergulir dan terus dikembangkan dengan suatu tatanan sistem pergerakan baru, yang bersifat konstruktif,  konservatif dan solutif.


Menanggapi banyaknya konflik hukum serta kebijakan politik yang ada di Indonesia, maka sudah saatnya Mahasiswa kembali menjadi suatu komponen yang turut andil dalam memberikan fungsi kontrol baik itu bersifat formal maupun informal terhadap Kebijakan Pemerintah, dan menanggapi hal tersebut sudah selayaknya para mahasiswa  sesuai dengan Disiplin ilmu yang dipelajari pada fakultas masing-masing turut andil dalam fungsi kontrol terhadap kebijakan Pemerintah Pusat dan daerah.


Untuk menciptakan sikap tersebut maka Parlemen Mahasiswa di setiap kampus perlu dibentuk suatu wadah aspirasi agar dapat merangsang para mahasiswa untuk dapat menuangkan ide dan gagasanya mengenai kebijakan politik maupun hukum yang ada di Indonesia demi tercapainya kembali fungsi mahasiswa.


Lain halnya dengan keadaan di UIN Imam Bonjol Padang, kampus yang merupakan tempat miniatur belajar pendidikan demokrasi itu tidak lagi sejalan pada fitrahnya. Belum lepas dalam ingatan seorang Presiden Mahasiswa (Presma) berafiliasi dengan Partai Politik yang sudah mencederai idealisme mahasiswa. Hal itu mengajarkan etika buruk terhadap mahasiswa-mahasiswa harapan bangsa bahkan banyak dari kalangan mereka lebih memilih tidak percaya lagi setiap lembaga-lembaga dan pergerakan mahasiswa. Lagi lagi kabar buruk juga viral foto Ketua Senat Mahasiswa Universitas (Sema-U) turut mendeklarasikan diri sebagai anggota pendukung salah satu dari pasangan calon Presiden dan wakil Presiden RI.


Belum sampai pada ahir masa jabatannya hari ini terkabar bahwa Eks Sema-U akan di wisudakan dan tercantum namanya sebagai salah satu dari beberapa nama Aktivis kampus. Sema-U yang merupakan wadah penampung suara mahasiswa UIN Imam Bonjol itu mencontohkan ketidaksetiaanya terhadap lembaga dan harapan mahasiswa yang diwakilinya.


Peristiwa yang menimpa lembaga Eksekutif dan Legislatif mahasiswa UIN IB kali ini banyak memberikan pelajaran kepada penerus dan mahasiswa, bagaimana pentingnya menjaga idealisme dan kesetian terhadap mahasiswa, rakyat, dan bangsa. Jangan sampai ada keterikatan dan kepentingan-kepentigan kelompok di atas kepentingan rakyat. Semoga pergerakan mahasiswa berbanding lurus dengan keadaan dan harapan semua elemen bangsa.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code: