Opini › Opini


Belum Tentu Indonesia Jaya 2019

Sabtu, 06/10/2018 19:00 WIB | Oleh : Agung Alkharrazi

Hari terus berjalan mendekati hari penentuan siapa yang akan tegak berdiri menguasai negeri yang kusam ini. Akankah warna merah masih menguasai negeri dengan sekuleritasnya atau sang Garuda yang membawa harapan akan "baiknya" negeri ini setelah berbagai kekacauan (chaos) yang dibuat oleh petahana.

 

Amunisi sudah diluncurkan untuk mengontrol, mempengaruhi, memutarbalikkan angin dan apapun itu, yang dapat membalikkan keadaan terus dilakukan hingga tibanya masa pertaruhan. Berbagai harapan mengisi kepala-kepala manusia bumi ini, akan cita cita Indonesia untuk jadi negeri yang maju, berpendidikan, dan nilai dolar yang tidak seperti sekarang ini, merindukan pemimpin yang diidolakan sekaligus jadi panutan -seperti yang pernah kita miliki dahulu-.

 

Namun, terlepas dari permasalahan siapa yang akan memimpin negeri ini besok, biarlah pemimpin yang dinanti itu "superman" yang ditunggu atau manusia biasa yang dibungkus dengan pakaian menyerupai superman. Ada masalah yang sebenar nya lebih serius dari pada itu. Yang lebih membuat nilai rupiah jatuh ke dasar anak tangga perekonomian kemudian di timpa lagi dengan tangga yang jatuh sebab yang memanjat tidak pandai memanjat dengan baik.

 

Masalah yang sebenarnya ada pada masyarakatnya sendiri atau lebih tepatnya berada pada kultur dan budaya Indonesia yang menginginkan segala sesuatunya ada hanya dengan mengucap mantra simsalabim atau dengan bahasa lain disebut "instan". Kata ajaib yang membuat mata penduduk ini berbinar, sekaligus mengeluarkan air mata perih tanpa disadari. Kemudian dari budaya itu lahir perilaku konsumtif yang menginginkan segalanya cukup dengan membeli tanpa ada niat untuk membuat, belum lagi budaya populer yang dialami generasi milenial yang menambah persoalan sosial negeri ini.

 

Sebuah jurnal penelitian Fakultas Psikologi Dan Kedokteran Universitas Syiah Kuala Aceh menyebutkan, faktor terjadinya prilaku konsumtif disebabkan oleh referensi dan gaya hidup. Artinya, perilaku konsumtif dan budaya populer saling berkaitan satu sama lain. Demi terlihat mempunyai status yang lebih dimata orang lain, dianggap lebih kekinian dari yang lain, dan dianggap lebih gaul. Kaum milenial termasuk generasi terdahulu dihipnotis membeli produk tersebut dengan iming-iming status kekinian.

 

Inilah salah satu hal yang merusak batang tubuh negeri ini, inilah yang justru membuat nilai dolar membumbung tinggi sedangkan nilai Rupiah semakin tak berharga, inilah yang membuat Indonesia jauh tertinggal dengan tetangga sebelah. Ini juga baru satu dari sekian permasalahan yang ada di bumi pertiwi.

 

Pesan yang penulis ingin sampaikan adalah siapapun pemimpinnya nanti baik itu wajah lama atau wajah baru yang memimpin. Bila masyarakat atau kita sebagai warga negara Indonesia tidak mau berbuat dan berubah, maka mimpi untuk menjadi Negara yang maju, makmur dan merdeka akan jadi mimpi di siang bolong alias "zonk".

 

Walaupun yang memimpin nanti nya sekaliber Nabi pun, sekalipun bila yang dipimpin alias masyarakatnya tidak mau berubah ke arah yang lebih baik, maka kita telah menyia-nyiakan potensi pemimpin tersebut.

 

Banyak contoh baik dahulu maupun saat ini yang tentu saja patut diambil pelajaran dari situ.

 

Pertama, kenanglah Perang Uhud 625 Masehi dan ambillah pelajaran dari situ, sebab umat Islam kalah dengan kaum Qurais. Seharusnya saat itu  Muslimin bisa saja memenangkan perang uhud tersebut jika pasukan pemanah tidak turun mengambil rampasan perang.

 

Kedua, lihat lah Negara Denmark yang saat ini berdiri paling atas sebagai Negara yang bebas dari korupsi (Barometer global Transparansi Internasional 2015). Sebab masyarakatnya sadar dan peduli akan kemana uang mereka.

 

Ketiga, pada masa-masa keemasan umat Islam (Golden Age) pada masa khalifah Abbasiyah 750 – 1258, saat umat Islam berada pada puncak peradaban manusia, tidak hanya dipimpin oleh pemimpin yang baik penduduknya pada masa itu semangat menuntut ilmu dan terus belajar.

 

Terlepas dari pentingnya kebijakan yang dibuat oleh pemimpin dalam menentukan masa depan negeri ini. Hadirnya masyarakat yang produktif membuat kepemimpinan semakin lebih berasa dan perubahan yang diingin lebih cepat tercapai.


Bukankah Allah berfirman dalam Alquran surat Al Ra'd ayat 11. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."

 

Pada ayat diatas menurut tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia, "keadaan" yang dimaksud adalah menyangkut sikap mental dan pemikiran. Bila direpresentasikan sikap mental yang harus dirubah adalah sikap mental yang konsumtif menjadi lebih produktif, dan pemikiran yang harus dirubah saat ini adalah budaya populer.

 

Negeri ini boleh saja mengharapkan kepemimpinan yang baik, namun perlu diperhatikan perubahan negeri ini juga tergantung dari perilaku masyarakatnya untuk negeri ini.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait