Opini › Opini


Saat 'Koar-koar' Menjadi Jalan Pintas

Senin, 08/10/2018 17:29 WIB | Oleh : Silvina Fadhilah

Kemana lagi ketenangan harus dijemput


Jika koar-koar dari mulut haus tuntutan sering terdengar


Terlihat jelas urat-urat nadi leher mereka


Meminta hak-hak yang kurang


Untuk pimpinan yang mereka rasa tak menenggang


 

Di tengah muka-muka baru mereka pertontonkan


Sedikit asutan dan bumbu-bumbu kebohongan


Tak jarang juga untuk ajang eksistensi semata


Api dan roda penambah keanarkiasan


Sudah gila apa?


 

Hilang moral dan karakter Perguruan Tinggi berlandaskan Islam


Sebab ulah para pengkoar yang tak bisa dingin


Apa tak ada jalan lain?


 

Untuk usai dari pemintaan hak ini


Terselip cuap manusia tak tahu resah dan kusah


“Kami tak merasa di rugikan,” kata manusia-manusia bermuka lugu itu.


 

Belakangan ini aksi unjuk rasa menjadi tontonan yang acap kali kita lihat di kampus UIN Imam Bonjol Padang. Suara-suara toa dari mulut para orator aksi akhir-akhir ini membuat pekak telinga. Selain memekak telinga, ricuh dan sorak-sorai mahasiswa yang katanya peduli perubahan itu juga membuat jantung berdecak lebih cepat dan bikin geleng-geleng kepala. Sudah gila apa?.


Dengan berbaris-baris serta iringan spanduknya, mereka lancarkan aksi sepanjang jalan kampus. Sedikit hasutan dan bumbu-bumbu kebohongan juga pelaku pertontonkan. Mereka menargetkan muka-muka baru yang masih belum tahu pasti permaslahan yang ada di kampus ini, ikut. Miris bukan?.


Terlihat jelas urat nadi dari mulut para massa yang haus tuntutan itu. "Kami butuh keadilan pemimpin," kata mereka. Kalimat ini juga telihat jelas dalam spanduk-spanduk iringan dengan coretan-coretan cat pylox yang mereka ukir.


Tak jarang juga aksi ini untuk ajang eksistensi beberapa oknum. Mereka melakukan gerakan atau melancarkan aksi agar dilirik oleh beberapa mata untuk didokumentasikan, baik foto maupun video. Benar haus ketenaran mereka.


Selepas dari itu, peristiwa ini pastinya dilatarbelakangi oleh beberapa permasalahan, serta tindakan yang diambil oleh pimpinan terkait penyelesaian beberapa permasalahan tadi. Salah satu permasalahnya adalah, kasus Presiden Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang periode 2018 yang belakangan ini membuat dunia kampus geger. Juga masalah kelayakan fasilitas kampus yang dinilai buruk. Juga kurangnya rasa toleransi dari pimpinan kampus terhadap mahasiswa semester akhir yang terlambat membayar Uang Kuliah Tunggal dan terancam cuti.


Tak bisakah diselesaikan dengan baik-baik masalah ini?


Soal Presma 2018, keikutsertaannya dalam Partai Kebangkitan Bangsa sebagai calon legislatif di Solok Selatan, menjadi puncak aksi para demonstran. Namun, meski melanggar kode etik, tindakan itu tak melulu berdampak negatif. Kita harus melihatnya dalam dua sisi. Apalagi kita sebagai mahasiswa, manusia yang melahap ilmu pendidikan. Maka jadilah mahasiswa yang melihat dan menilai segala sesuatu dari dua sisi.


Mahasiswa harusnya berfikir cerdik, bahwa ada sedikit sisi positif dari tindakan Presma itu. Salah satunya, dengan bergabungnya salah seorang mahasiswa kita, UIN Imam Bonjol Padang, dengan partai politik, maka dapat meningkatkan derajat dan martabat kampus di mata publik dan para elit negeri ini, karena, masih dalam jenjang perguruan tinggi saja sudah berani berkontribusi pada masyarakat. Ini jikalau yang bersangkutan memang berkompeten. Jika tidak, maka sebaliknya. Malah memberikan efek negatif terhadap kampus.


Sayangnya, Presma sekarang memberanikan terjun ke masyarakat dalam keadaaan  menggenggam status pemimpin lembaga mahasiswa. Tentunya ini mencoreng kriteria lembaga mahasiswa. Tak independent lagi. Bukan hanya UIN Imam Bonjol yang tersakiti atau terkhianati melainkan seluruh mahasiswa tanah air ini. Jika mahasiswa itu masih mengemban amanah sebagai pemimpin lembaga mahasiswa, maka tidak boleh berafiliasi dengan partai politik. Begitulah kira-kira inti aturannya. Tapi balik lagi, kan semua itu ada sisi positif dan negatifnya.


Sayangnya, era sekarang, mahasiswa, pelajar yang lebih tingi derajatnya dari siswa lain karena bertambah nama dengan kata Maha, tak pandai berfikir lebih positif dan terkesan buta masalah. Jika terdapat masalah, contohnya kasus Presma, yang terbesit hanya negatifnya saja tanpa pernah memikirkan sisi positifnya.


Yang mereka tau hanya meminta penyelesaian masalah tapi tak pernah memberikan ruang untuk menyelesaikannya. Yang mereka fikirkan hanya bagaimana caranya para pimpinan patuh dalam mematuhi tuntutannya. Tidak sabaran dan  mudah terpancing emosi bila saja ada sedikit kekeliruan.


Entah itu efek globalisasi, atau karena banyaknya zat adiktif yang terdapat dalam makanan yang ia makan, atau adanya bumbu-bumbu hasutan dan provokasi hingga jika sedikit saja ada permasalahan langsung koar-koar tanpa pernah memikirkan efeknya.


Hilanglah sudah moral dan karakter mahasiswa berlandaskan Islam.


Semua butuh proses. Pimpinan juga manusia yang harus diberi ruang untuk menjalankan tugasnya. Menyelesaikan masalah, tak semudah membalikan telapak tangan. Ada waktu yang di butuhkan untuk itu.


Kita sebagai mahasiswa yang idealis dan berfikir dengan akal seharusnya berfikir dengan kepala sedikit lebih dingin, bisa mengambil keputusan dantindakan kepala dingin. Bukan dengan mengedepankan amarah yang menggebu-gebu, dengan urat nadi, Seharusnya permasalahan ini dibicarakan secara baik-baik, dengan musyawarah, dengan damai, dan diselesaikan di ‘meja hijau’. Sekarang bukan lagi eranya koar-koar, ciloteh-ciloteh. Oleh karena itu, kita harusnya pandai dalam mengambil sikap.


Memang, tujuannya adalah agar piminan mau menerima segala keluh kesah kita terkait segala permasalahan yang ada, dan memperbaiki segala kekurangan demi kebaikan bersama.Tapi apakah semua itu tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik?. Tak bisakah kita cari jalan lain untuk menyelesaikan masalah ini?. Jika memang sudah dibicarakan dengan piminan dan belum direspon ataupun ditindaklanjuti. Semuanya ialah butuh proses, butuh waktu bagi piminan untuk memperbaikinya. Kembali ke yang tadi.


Pernahkah terbesit di fikiran kita, bahwa tak semua orang beranggapan baik dengan apa yang telah  kita lakukan, maksudnya aksi demo ini. Lebih parahnya lagi, pernah aksi unjuk rasa dikomandoi oleh perempuan, mahasiswi, wanita yang jelas-jelas sudah kami tinggikan seranting dan kami dahulukan selangkah untuk kelancaran aktivitas kampus dan kemajuan kampus ini. Walaupun menyebutkan kata ‘kami hanya melakukan aksi damai, bukan berbuat anarkis, hanya menyampaikan aspirasi dari mahaiswa, untuk penegakan keadilan’. Uwalah, omong kosong belaka. Serat kepentingan. Dan sejelas itu, itu tindakan penuh amarah. Ampe serak suara karena itu.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code: