Opini › Opini


Cegah Perkawinan Usia Anak

Sabtu, 10/11/2018 12:49 WIB | Oleh : Lisa Fauziah

Dini belia usiamu

Terpaut cinta belum saatnya

Setiap hela nafas yang berdesak

Hanyalah cinta

 

Pernikahan dini

Bukan cintanya yang terlarang

Hanya waktu saja belum tepat

Merasakan semua

 

Pernikahan dini

Sebaiknya janganlah terjadi

Namun putih cinta membuktikan

Dua insan tak bisa dipisahkan

(Song by.Agnes Monica)

 

Masih terdengar sampai saat ini anak-anak bercinta, usia masih anak- anak sudah menikah. Usianya masih anak-anak terjadi pelecehan seksual, hamil di luar nikah. Akhirnya banyak yang memutuskan untuk menikah dini, saat kondisi yang belum matang, hanya karena keinginan dan cinta yang terpaut dan tak bisa terpisahkan. Padahal masih dalam usia labil. Seperti nyanyi di atas, yang mengerti dengan problema pernikahan dini. Namun penyanyinya juga menyarankan sebaiknya pernikahan dini jangan terjadi. Banyak hal buruk dan merugikan nantinya yang akan muncul karena pernikahan dini tersebut.

 

Seperti di Indonesia, pernikahan dini permasalahannya masih belum mereda. Walaupun pemerintah telah berupaya menaikkan standar usia pernikahan, praktik pernikahan di bawah umur tetap saja terjadi. Dikutip dari akun Twitter SOS Children's Villages Indonesia @desaanaksos, sebanyak 12 juta anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun setiap tahun. Dan mirisnya, Indonesia sebagai negara dengan peringkat ketujuh dalam hal pernikahan anak di dunia.


Menurut data Survei Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, angka kehamilan tidak diinginkan di Kalbar mencapai 24,9 persen. Artinya, dari setiap 1000 kelahiran, sebanyak 24,9 persen di antaranya merupakan kelahiran yang tidak diinginkan, dengan rentang usia 15 hingga 19 tahun. Dikutip dari Pontianakpost Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalbar, Kusmana mengatakan, angka kehamilan tidak diinginkan (KTD) di Kalimantan Barat merupakan yang tertinggi di Indonesia. Secara nasional, angka kehamilan tidak diinginkan hanya 10,2 persen.  “Pada tahun 2017, Kalbar menempati peringkat pertama kehamilan tidak diinginkan,”.


Miris memang, tidak jarang terjadi berbagai macam bentuk kekerasan setelah pernikahan dilakukan. Dari hal kekerasan yang awalnya kita anggap sepele kini satu- per satu nyawa menjadi tidak berharga lagi. Ada juga anak yang usia dini hamil di luar nikah, hingga anaknya dibuang ke sungai, di kubur hidup-hidup. Entah kemana naluri manusia saat itu hilangnya. Banyak hal yang harus diantisipasi pada anak saat ini. Jika tidak dieksekusi secara cepat dan tanggap oleh pemerintah dan masyarakat. Hal ini akan menjadi biasa dan akan terus berulang nantinya. Perlu adanya tindakan yang tegas untuk hal ini. Agar generasi bangsa tidak terbiasa dengan menikah dini.


Secara agama atau adat mungkin memang tak ada larangan untuk hal ini, namun secara hukum dan psikologi bagi usia yang masih di bawah umur dan tergolong labil ini tidaklah aman. Masih banyak hal yang akan dikembangkan dalam diri anak saat perkembangannya, jangan menikah dulu. Banyak juga resiko yang akan dihadapi jika anak menikah dini diantaranya kematian usia dini karena anatomi tubuh wanita yang masih pada masa pertumbuhan. Selain itu alat reproduksi belum siap untuk kondisi hamil dan melahirkan, inilah yang meningkatkan resiko kematian pada kehamilan usia dini.


Selain itu pernikahan dini juga mengakibatkan sel normal (yang biasanya pada anak-anak) berubah menjadi sel ganas yang akhirnya bisa menyebabkan infeksi kandungan dan kanker. Sehingga beresiko terkena penyakit seksual. Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan anak Pasal 1 ayat (1), anak adalah seseorang yang belum berusia 18 Tahun termasuk yang masih dalam kandungan.


Sehingga anak yang menikah pada usia dini akan kehilangan bermacam-macam haknya, diantaranya hak pendidikan, hak untuk hidup bebas, hak kesehatan, hak dilindungi dan di eksploitasi dan hak tidak dipisahkan dari orang tua. Selain itu anak yang menikah pada usia dini akan memiliki resiko kematian tinggi saat melahirkan. Resiko ini lima kali lipat besarnya dari wanita yang menikah di usia normal.


Keadaan ini terjadi karena anak-anak kini tidak sadar dengan pergaulannya. Kadang juga kurang hati-hati dengan keadaan sekitar. Seharusnya masyarakat harus sadar dengan keadaan yang ada di lingkungan kita. Banyak  pemberdayaan yang harus dilakukan oleh pemerintah setempat untuk meminimalisir berbagai keluhan dan trauma yang akan terjadi. Saat semuanya  sudah menyimpang, saatnya ada pembekalan kepada pada anak. Jangan menuggu anak Indonesia semakin hancur.


Jika dalam kondisi yang seperti ini masih banyak pemerintah yang lengah, dan membiarkan keadaan terus tenang setelah banyaknya kejadian kekerasan. Tidak tertutup kemungkinan hal yang serupa juga akan terjadi terus menerus. Orang tua pun untuk sekarang jangan lengah dengan buah hatinya, pemerintah setempat juga harus berhati-hati dengan peluang pernikahan dini yang muncul, baik disengaja maupun tidak disengaja.


Untuk kedepannya alangkah baiknya ada tindak lanjut yang lebih dalam dari pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi hal ini. Sedikitpun jangan pandang sepele, karena sekarang lihatlah kekerasan semakin menjadi-jadi. Selain itu peran orang tua dan peran pendidik juga harus lebih aktif lagi, agar tak banyak yang terjerumus. Bagaimanapun itu harus ada pencegahan jangan sampai semakin banyak yang menjadi korban. Karena lengah sedikit saja kejahatan akan terus ada. Tinggal kita dan sikap dari kita untuk mengatasi hal tersebut agar negeri ini bisa aman.


Karena angka perceraian pun juga tidak kalah banyaknya saat anak memilih menikah di usia dini. Dikarenakan emosi anak yang belum stabil dan berbagai alasan lainnya. Karena anak belum butuh keluaraga baru di usia anak-anak. Mereka butuh peran keluarga besarnya untuk bisa menjadikan mereka terdidik, perhatian, dan pendidikan yang layak. Demikian akan menimbulkan semangat hidup dan keinginan untuk sukses terlebih dahulu.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait