Opini › Opini


Sadar dengan Hak Anak

Sabtu, 10/11/2018 12:56 WIB | Oleh : Lisa Fauziah

Menjadi anak-anak itu nikmat sekali. Masih banyak hal yang bisa dikembangkan dalam diri, tidak perlu menangani masalah hidup yang teramat berat. Karena orang terdekat akan datang untuk segera membantu apa yang dibutuhkan. Nikmat anak-anak dapat terasa ketika pola asuh yang diberikan oleh orang tua itu baik dan berada pada lingkungan yang baik pula. Mereka bisa bermain dengan waktu yang puas. Belajar di situasi yang nyaman dan mendapat perlindungan diri untuk tetap berkembang baik di masa pertumbuhannya. Perkembangan dengan lingkungan tersebut akan menghasilkan anak yang cerdas nantinya, apalagi didukung dengan keluarga yang rukun dan memiliki waktu yang banyak untuk bersama.


Hal di atas tentu impian dan keinginan banyak anak, namun apa daya. Banyak anak malah tidak mendapatkan hak untuk menikmati masa pertumbuhannya dengan nikmat dan baik. Jika orang miskin anak-anaknya terkendala dengan dana, mereka tak mampu memenuhi hak anaknya untuk memberikan kasih sayang yang penuh. Sementara keluarga kaya anaknya juga tak bisa menikmati kasih sayang karena orang tuanya sibuk berkarir atau brokenhome. Sehingga masalah-masalah hidupnya membuat ia tak sadar bahwa banyak hak anak yang tidak terpenuhi di masa pertumbuhannya.


Sehingga kebanyakan yang membentuk pribadi anak saat ini adalah lingkungan di luar keluarganya. Mulai dari tontonan yang ada, pergaulan anak-anak, dan lingkungan masyarakat yang diperhatikannya setiap harinya. Sebagai contoh, saat seorang anak kesepian di rumah dan orang tua sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Saat itu anak memilih menonton televisi yang tayangannya sinetron. Atau ikut-ikutan nonton sinetron yang tema utamanya kebanyakan adalah hal percintaan. Pada saat ini akan mempengaruihi pola prilaku anak.


Apalagi jika anak tersebut berada pada usia labil. Tentu akan membuat anak tersebut merasa sebuah keromantisan dan percintaan itu adalah indah. Padahal jika anak sudah menyentuh dunia-dunia cinta-cinta tersebut, walau hal itu cinta monyetlah namanya, akan membuat seorang anak lupa dengan umurnya. Lupa waktu belajarnya, lupa waktu bermainnya. Sehingga anak akan mabuk dengan cinta-cinta anak SD-SMP yang tidak ada faedahnya.


Itu kebanyakan terjadi saat ini. Anak-anak merasa sudah besar, lupa belajar, lupa dengan tugas-tugas wajibnya. Terkadang di saat ini orang tua juga terlengah. Karena orang tua juga memberikan keyakinan pada dirinya bahwa anaknya sudah bisa mengontrol diri. Padahal sekecil apapun pergaulan yang akan dilalui oleh anak, itu harus dibawah pengawasan orang tua.


Anak-anak akhirnya banyak mencari perhatian ke pihak luar, mulai dari teman-temannya, pacar kecilnya yang mampu mengisi kekosongan harinya. Karena butuh perhatian. Sudah banyak juga kasus keteledoran anak SMP yang nikah dini, hamil di luar nikah, putus sekolah, dibunuh, diperkosa. Hal tersebut juga karena kurangnya kontrol orang tua dan masyarakat. Harusnya anak SD dan SMP tersebut harus membinasakan percintaan monyet tersebut. Mereka jadi malas membaca, sibuk gudged, huru-hara, dll. Pemerintah juga harus membuat pendidikan yang penuh akhlak di setiap sekolah, jam pelajaran agamanya bisa ditambah.


Karena semakin lama hidup, zaman semakin canggih. Anak Indonesia malah manja dengan teknologi, tidak tahu dengan belajar, malas membaca, sibuk dengan bercinta. Main bersama-sama teman bukan hobi lagi karena sekarang dunia online lebih mengasyikkan dari pada dunia nyata. Lebih memilih sibuk dan lama pulang sekolah karena pacaran, karena game online. Manja sekali, tapi bagaimana nantinya anak Indonesia bisa menjadi hebat. Sementara dunia lain sudah semakin maju. Jika yang berilmu saja anak Indonesia memilih kerja ke luar negeri. Tenaga dalam negeri pun dari kecil tidak terasah dengan baik, tidak suka membaca. Lebih suka yang instan. Lalu seperti apa nantinya Indonesia ini?


Anak-anak perlu kasih sayang yang matang dari kecil. Perlu bimbingan yang baik. Perlu teguran demi teguran yang berkelanjutan sehingga mereka terbiasa untuk bisa bersikap baik. Perlu disediakan waktu untuk bermain dengan kawan-kawannya. Butuh dukungan keluarga untuk menyongsong pendidikannya. Perlu diajarkan secara baik mana jalan yang benar dan yang salah. Sampai mereka bisa memiliki dasar untuk melngkah menjadi anak yang kuat dan berpikir optimis dalam hidupnya.


Karena hal tersebut adalah hak anak yang harus dipenuhi oleh orang-orang terdekatnya. Mulai dari orang tua, masyarakat, guru, teman-teman dan lingkungan pendukung lainnya. Saat hak anak tersebut sudah terpenuhi di masa kecilnya. Untuk melangkah ke dunia yang lebih besar dan remaja lagi, anak tadi akan lebih kuat dengan situasi yang ada. Bisa mengerti tentang hidup. Dengan demikian asuhan orang tua sudah berhasil memenuhi hak-hak anak.


Tapi bukan berarti anak dididik untuk menjadi manja dan terus bergantung pada lingkungan yang ada. Hal ini bertujuan untuk menguatkan diri dan pikiran anak melalui didikan yang ia dapat dari kecil, sehingga hal itu akan membuat anak tersebut bisa hidup baik di masa dewasanya dan menjadi karakter yang kuat menghadapi resiko-resiko hidup masa depan yang menantang.


Sebenarnya kaya atau miskin lingkungan yang ada pada anak. Karaker baik dan hak anak itu perlu dibentuk. Karena tidak lewat harta membentuk dan memberikan hak anak tersebut. Bimbingan dan perhatian keluarga setiap harinya. Dukungan perkembangan diri dan pola tingkah laku yang baik yang akan mengantarkan anak tersebut bisa baik pergaulannya kedepan. Karena asuhan yang baik, perhatian yang matang akan mendukung tumbuh kembang anak menjadi pribadi yang bisa menghadapi resiko di masa yang akan datang. Jangan biarkan anak-anak mencari perhatian kesana-kesini untuk memenuhi hak kasih sayang yang ingin ia rasakan.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait