Opini › Opini


Reuni 212 Spirit Kebangkitan Islam

Kamis, 29/11/2018 12:30 WIB | Oleh : Ivo Hutri Utama, S.Psi

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki populasi umat Islam terbesar di dunia. Tak disangkal ghirah (semangat) umat Islam semakin tampak. Banyak hari ini mulai dari kalangan masyarakat biasa, mahasiswa, bahkan sampai artis banyak mengalami proses ke arah yang lebih baik menuju Allah. Tentu ini merupakan kabar gembira bagi umat Islam karena tak ayal inilah yang dituggu-tunggu menuju kepada kebangkitan hakiki.

 

Namun sayang rentetan kisah pilu umat Islam terus terjadi. Mulai dari aksi War On Terorism, radikalisme, pembakaran bendera tauhid, bahkan sampai kepada penistaan terhadap Al-Qur’an.

 

Masih erat ingatan dalam relung pikiran kita ketika Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama terjerat kasus penistaan agama. Kasus penistaan agama yang dilakukann Ahok, bermula saat dirinya memberikan pidato kunjungan kerja di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Dalam pidatonya, Ahok dianggap menghina agama lewat komentarnya jangan mau dibohongi Surat Al-Maidah ayat 51 terkait kepemilihannya kala itu. Tentu ini menimbulkan reaksi dari kalangan umat Islam terkait apa yang diyakini.

 

Umat Islam menuntut agar kasus itu segera diselesaikan namun seakan hukum berjalan lambat. Gelombang unjuk rasapun terjadi menyikapi kasus penistaan agama ini. Puncaknya terjadi pada 2 Desember 2016 atau lebih dikenal dengan aksi 212 yang dihadiri lebih dari 7 juta manusia dari berbagai kalangan di pusat peradaban Indonesia, Jakarta.

 

Dua tahun berlalu umat Islam pun kembali mengadakan agenda reuni 212. 212 bukanlah bentuk kebencian tapi bentuk kecintaan yang harus ditampakkan. Berbeda harokah, wilayah, latar belakang namun mampu dipersatukan karena akidah Islam yang ada dalam diri mereka. Inilah wujud persatuan dan kebangkitan umat Islam.

 

Ini tentu menjawab segala tudingan yang diarahkan kepada umat Islam jika umat Islam tidak bisa bersatu karena terdiri dari berbagai kalangan, agama, suku  dan lain sebagainya. Tapi memanglah semuanya terjawab sudah dengan skenario yang telah Allah rancang bahwa umat Islam bisa bersatu dengan kekuatan akidah.

“Sungguh, mereka (orang kafir) merencanakan tipu daya yang jahat, dan Aku pun membuat rencana (tipu daya) yang jitu” (TQS. At-Tariq, 15-16).

 

Tapi kita tidak hanya berpuas diri dengan berkumpulnya kembali dalam agenda reuni 212. Karena berbagai persoalan umat Islam hari ini yang begitu kompleks bukan hanya di Indonesia tapi juga di wilayah bagian kaum Muslim lainnya, seperti di Palestina, Rohingya, Yaman, Aleppo, Suriah, Muslim Uigyur, dan berbagai wilayah lainnya. Umat Islam terpecah belah menjadi bagian negara-negara kecil dan menjadi santapan para kapitalis. Padahal Islam diturunkan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Kenapa ini semua bisa terjadi? Karena umat Islam hari ini tidak mempunyai perisai penjaga umat. Kepemimpinan yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan Khalifah setelahnya yang mampu menerapkan Islam secara kaffah dalam sebuah institusi sebuah negara. Dan kita berharap persatuan umat Islam di berbagai wilayah yang ada di dunia ini segera terwujud. Aamiin Ya Rabbal’alamin.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait