Opini › Feature


Kami Emperan

Jumat, 21/12/2018 17:02 WIB | Oleh : Dayu Al- Azmi

Sabtu, 08 Desember 2018 menjadi hari terakhir Ekspo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.  Penutupan acara ekspo kali ini hampir sama dengan ekspo tahun lalu dimana penutupan di hadiri oleh Pak Daniel. Pak Daniel merupakan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Fakultas Adab dan Humaniora UIN IB.

 

Acara penutupan dimulai selepas sholat isya. Adapun rangkaian acara, diantaranya membacakan kitab suci Alquran, sambutan dari ketua panitia yang malam ini cukup mengeluhkan masalah dana dan perhatian dari pihak kampus, setelah itu sambutan oleh Pak Daniel selaku penganti atau mewakili Rektor UIN IB Padang  yang tidak dapat hadir malam itu, dan diakhiri dengan doa penutup tanda acara penutupan secara resmi telah dilaksanakan.

 

Setelah sambutan dan penutupan acara secara resmi berakhir, acara disambung dengan pembagian hadiah kepada peserta lomba yang diadakan oleh panitia ekspo 2018. Ada beberapa cabang lomba yang diantaranya Musabaqah Tilawatil Quran, Baca Puisi, Lomba Solo Song religi. Setelah pembagian hadiah untuk para pemenang lomba, tibalah acara puncak dari ekspo 2018 "Malam Keakrabaan".

 

Malam keakraban merupakan malam yang mempertemukan semua elemen mahasiswa yang bergiat di 14 UKM yang ada di UIN IB  dan sekaligus juga menjadi ajang silaturahmi dan sharing lintas angkatan yang ada di semua UKM. Acara yang diadakan di lapangan ini dilaksanakan secara sederhana dimana semua anak-anak UKM duduk melingkar beralaskan terpal. Acara ini dibuka oleh ketua panitia dan diserahkan kepada Wali Emperan (Wale).

Malam itu menjadi masalah yang cukup hangat meskipun cuaca diluar kurang bersahabat namun tidak menyurutkan semangat seluruh angota UKM yang hadir untuk berdiskusi. Dezo salah seoarang senio dari UKM Teater Imam Bonjol yang juga pernah menjabat sebagai Wale mencoba menjemput beberapa  kenangan di masa lalu, dan menjelasakan betapa  kuatnya persatuan seluruh Angota UKM UIN IB Padang atau diistilahkan dengan "anak-anak emperan". Dezo menjelaskan betapa kuat dan diseganinya ketika kita menjadi bagian dari emperan.

 

"Dulu ketika saya masih berkuliah, saya masih ingat, seorang Dezo yang kurus dan sok tampan ini begitu sangat bangga menjadi bagian dari emperan dan sempat pula menjadi Wale,” ucapnya.

 

Dezo juga sangat berharap banyak kepada generasi-generasi penerus Wale agar mencintai dan sepenuh hati dalam berorganisasi. "Pesan saya, organisasi tetap jalan kuliah juga harus jalan, karena kita juga harus menjadi seorang yang berhasil baik berorganisasi dan berkuliah,” tutupnya. Disaat Dezo sedang berbicara tiba- tiba datanglah Sabang Husain Lamanepa atau lebih akrab disapa Acang.

 

Dikarenakan ada beberapa halangan yang membuat Dezo tidak bisa mengikuti kegiatan malam ini akhirnya Dezo mohon pamit untuk pulang. Diskusi pun berlanjut. Sebenarnya malam keakraban ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi untuk semua angota emperan akan tetapi juga menjadi malam pengumuman dan pergantian Wale baru.

 

Akan tetapi, setelah dilakukanya diskusi bersama  pimpinan-pimpinan UKM dan senior, akhirnya pemilihan Wale ini ditunda dulu sampai waktu yang belum ditentukan. Daniel selaku Wale saat ini mencoba menjelaskan tentang penundaan itu dan disambung juga oleh Acang.

 

"Saya sebenarnya rasa mau menangis hari ini, melihat kalian yang hadir dan masih berjuang untuk kemajuan kita bersama hari ini. Saya tidak dapat mengungkapkan rasa bahagia dan haru ini. “Tetaplah berjuang dan menjadi orang-orang yang berguna,” kata Acang.

 

Acang menjelaskan, permasalahan kenapa ditundanya pemilihan Wale kali ini. Menurut Acang pemilihan Wale kali ini harus betul-betul dipertimbangkan dengan matang agar terjadinya sebuah perubahan yang lebih baik untuk emperan.

 

"Kalau bisa untuk pemilahan Wale kali ini, adakan dulu rapat bersama seluruh ketua-ketua UKM dan Wale, dan kalau bisa nanti kita adakan acara besar-besaran untuk memperkenalkan wale baru kepada seluruh masyarakat UIN IB, Baralek gadang pulo wak,” kata Acang. Karena cuaca juga belum bersahabat maka diskusi segera ditutup oleh Daniel.

 

Selesai diskusi, sambil berdiri dan beberapa rekan-rekan dari UKM lain sudah mulai bubar, saya yang merasa kurang puas dengan diskusi malam keakraban mencoba kembali melemparkan pertanyaan perkara kedekatan antara UKM kepada Acang. Disini Acang mulai membahas perihal kurangnya komunikasi sesama anak emperan sehingga kurang terciptanya kedekatan- kedekatan antar UKM.

 

Tidak lama setelah itu, ternyata obrolan kami ini memancing kedatangan dari rekan-rekan yang masih ada disekitar area diskusi. Pembahasan pun ternyata dilanjutkan lagi. Riyan salah seorang senior dari UKM Musik juga mengeluhkan kurangnya kean antara UKM satu dan lainnya. Akhirnya pembicaraan menjadi hangat kembali. Hampir sekitar setengah jam lebih berdiskusi sambil berdiri, diskusi pun dilanjutkan sambil duduk. "Yo bakempesan ban stek bang aa, gak latiah raso tagak e,” ujar salah satu peserta diskusi.

 

Diskusi pun berlangsung sangat hangat, dimana muncul pertanyaan-pertanyan yang selama ini hanya mengendap di UKM masing-masing. Disini Acang, Rian dan beberapa senior lainnya mencoba menjawab dan memberikan solusi yang di hadapi oleh rekan-rekan UKM atau bisa di sebut "Anak Emperan". Disini diskusi yang awalnya sedikit formal berubah menjadi diskusi lepas yang sebenarnya merupakn ciri khas dari anak emperan.

 

Diskusi yang berakhir setelah azan sholat subuh memangil ini akhirnya mengumpulakan jawaban-jawan yang menjawab tanya kenapa anak emperan tidak lagi kompak seperti dulu. Adapun kendala itu diantaranya, kurangnya komunikasi, sosialisasi, silaturahmi dan ajang untuk berkumpul sesama anak emperan selain dari acara ekspo. Disini Acang beserta senior dari berbagi UKM juga memberikan sebuah spirit atau motivasi terhadap generasi penerus agar dapat menjadi lebih baik lagi kedepannya. "Jan iduik diwah bayang-banyang tarui kalau nio maju" (jang hidup dibawah bayang-banyang, kalau mau maju),” ucap Rian.

 

Bukan hanya permasalahan kekompakan atau lemahnya marwah dari UKM- UKM saja yang mucul malam itu, permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh setiap ukm dengan permitahan kampus juga bermunculan. Diantaranya keluhan itu berupa, sistem peminjaman fasilitas kampus untuk acara, dimana anak-anak ukm agak sedikit dipersulit dengan adanya biaya-biaya panjar, seperti peminjaman bus kampus, gedung dan lainya. Kedua, anggaran untuk UKM yang tidak transparan dari pihak rektorat. Ketiga, kurangnya perhatian dari pihak kampus terhadap UKM.

 

Adapun permasalah yang ketiga ini yang menjadi keluhan hapir setiap UKM, seperti tidak hadirnya Rektor ataupun wakilnya ketika ukm mengadakan acara. Kurangnya perhatian terhadap fasilitas, UKM seperti yang dialami oleh UKM bahasa yang menempati ruangan yang berukuran 3x5 cm dengam angka yang mencapai 300 orang kurang lebih. Uang panjar mobil yang belum dikembalikan pihak kampus, yang pada akhirnya tidak bisa mengunakan mobil tersebut karena angota mereka yang pergi itu banyak. Dan wacana untuk memfasilitasi UKM dengan didirikannya gedung PKM.

 

"Ternyata selama ini kita banyak mengalami masalah yang pada dasarnya hanya kita pendam sendiri-sendiri, maka dari itulah gunanya kita berkumpul hari ini. Disini kita dapat saling bantu membantu sesama UKM baik dari segi apapun,” ungkap salah seorang peserta diskusi. Ini sebenarnya yang anak emperan itu. Diskusi dan menyelesaikan semua permasalahan- permasalahan secara bersama. Diskusi pun berakhir dengan berkumandangnya azan Sholat Subuh.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan feature ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Feature Terkait