Opini › Opini


Mahasiswa Harus Peka, Uighur Juga Saudara Kita

Sabtu, 22/12/2018 08:20 WIB | Oleh : Vega Rahmatika Fahra (Mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah)

Mahasiswa, kita adalah agen of change

Mahasiswa harus peka, dan mulai ikut andil memikirkan umat.

Belum lepas penderitaan saudara kita di Palestina, Rohingya, Yaman, terdengar lagi kabar yang menyakitkan dari saudara kita Uighur Cina.

 

Siapa Uighur?

 

Uighur adalah minoritas etnik Turki yang hidup di Xinjiang bagian Utara Cina dan beragama Islam yang dulunya adalah sebuah negara berdaulat Republik Turkistan Timur sampai menjadi bagian dari Cina tahun 1949.

 

Hari ini mereka mengalami tekanan fisik dan mental, Pemerintahan Cina telah mengasingkan satu juta lebih Uighur ke camp-campre-edukasi, mereka dipaksa untuk mencela agama Islam, mereka tidak boleh menggunakan pakaian, bahasa, dan budaya mereka.

 

Mereka dilarang menggunakan kata-kata Islami, mereka disiksa fisiknya dengan giginya ditarik, kukunya dicopot, diintrogasi dengan ular dan kursi harimau, dan tanpa alasan yang jelas, mereka ditangkap, dibunuh, sampai mayatnya dibakar, sehingga keluarga tidak mengenali keluarganya lagi, jenazahnya yang tak diperbolehkan untuk diambil, dan banyak lagi penyiksaan-penyiksaan lainnya yang mereka rasakan.

 

Anak-anak di ajarkan bahasa Cina,sekolah-sekolah dijadikan camp dan wanita-wanita dipaksa untuk menikahi warga Cina Han, ini adalah upaya Cina untuk menghapus generasi dari Muslim Uyghur.

 

Kenapa bungkam?

 

Disaat Uighur dalam penderitaan, semua bungkam karena Cina mengontrol ketat setiap media, dan ikatan perjanjian ekonomi dengan negara lainnya membuat semua orang bungkam terhadap penindasan yang terjadi di Uighur.

 

Dan juga karena kurangnya rasa persatuan dalam diri umat sehingga tidak merasa bahwa umat adalah ibaratkan satu batang tubuh.

 

Ikatan nasionalisme telah membuat sekat-sekat dalam diri umat, sehingga tidak merasakan sakit, ketika saudara lainnya sakit. 

Bukan lagi sakit demam biasa yang mereka rasakan, tapi sakit mental dan fisik.

Nasionalisme telah membuat umat individualisme, mementingkan diri sendiri, sehingga hilang rasa kemanusiaannya.

 

Mahasiswa tak Pantas Berdiam Diri

 

Ini hanya sedikit pelajaran yang bisa kita petik setelah meneropong sebentar kondisi  Uighur, belum negeri muslim lainnya. Sungguh, keadaan genting tengah menimpa mereka. Tak layak dan tak pantas untuk mendiamkannya berlama-lama.

 

Kekuasaan pemerintah harus bertindak untuk mengakhiri penderitaan mereka, Jika dunia Islam terus berdiam diri dan membiarkan hal ini terjadi,  Genosida akan terus terjadi.

 

Saatnya Umat Bangkit dan Bersatu

 

Rasulullah bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya adalah sakit, maka anggota-anggota yang lain ikut campur tidur dan demam”.

(Shahih Muslim No.4685)

 

Bukan hal yang mustahil jika kita bisa menyelamatkan Uighur dan muslim lainnya dari penderitaan, 

Mereka bisa diselamatkan dengan bangkitnya umat dan  bersatunya umat, 

Saatnya umat bersatu melakukan aksi protes dan mendesak pemimpin negara untuk mengakui penjajahan dan kezhaliman yang dilakukan Pemerintahan Cina.

 

Saatnya umat bersatu dan menghilangkan sekat-sekat nasionalisme dan menumbangkan sistem kapitalisme yang rusak.

Tidak akan bersatunya umat jika tidak menerapkan sistem Islam, karena hanya Islam satu-satunya solusi yang bisa menyelamatkan Uyghur dan negara muslim lainnya yang ditindas.

 

Karena Islam mengharamkan  penganiayaan dan penyiksaan dan pembunuhan terhadap sesama makhluk.

Islam menjamin kesejahteraan umat, Islam melindungi nyawa, jiwa dan harta umat.

 

Saatnya umat bangkit dan bersatu menyelamatkan Uighur dan negara muslim lainnya.

 

Mustahil  umat Islam di seluruh dunia dapat bersatu jika tidak memiliki pemimpin yang satu dalam naungan negara yang satu, yaitu Daulah Khilafah benteng dan penjaga Umat Islam di seluruh penjuru dunia.

 

Ya Allah, bebaskan Muslim UIghur dari penindasan! Bangunkanlah dunia Islam dan berikanlah kekuatan.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait