Opini › Opini


Waspada Dibalik Gelar "Indonesia Negara Paling Santai di Dunia"

Senin, 25/02/2019 14:01 WIB | Oleh : Alvi Rusyda (Mahasiswi Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang)

Akhir-akhir ini Indonesia diviralkan dengan julukan negara yang paling santai di dunia. Julukan ini bukan dari warga negara sendiri, tetapi warga negara asing ( WNA) yang melancong ke Indonesia untuk menikmati keindahan alam Indonesia. Melansir tribuntravel.com, berdasarkan sebuah laporan dari agen perjalanan di Inggris, Lastminute.com, Indonesia masuk pada 15 besar dan menempati nomor paling atas sebagai negara paling santai di dunia atau atau Most Chilled Out Countries in The World. Maksudnya, negara dengan relaksasi yang santai dan memanjakan momen liburan sipengunjung.


Berdasarkan kompas.com, Lastminute.com kemudian menyimpulkan penelitian tersebut menjadi 15 destinasi teratas dengan faktor lingkungan yang unggul dari semua negara, kemudian budaya di peringkat enam, banyaknya cuti di peringkat 13, dan hak asasi manusia di peringkat 14. "Surga tropis Indonesia berada di posisi pertama, sebagian berkat spa dan pusat kebugarannya. Ada lebih dari 186 ruang hijau dan memiliki suhu rata-rata 25 derajat Celcius dan 54.716 mil dari garis pantai," dikutip dari Lonely Planet. Berikut adalah 15 negara paling santai di dunia versi Lastminute.com, berurutan dari peringkat teratas: Indonesia, Australia, Islandia, Selandia Baru, Sri Lanka, Cyprus, Filipina, Yunani, India, Mauritius, Kosta Rika, Portugal, Bulgaria, Kroasia,dan Spanyol.


Beritagar.id menyebutkan, berdasarkan Country Director Lastminute.com untuk Inggris dan Irlandia, Reigo Eljas mengatakan Penelitian ini menemukan, Indonesia memiliki garis pantai yang panjangnya lebih dari 88 ribu kilometer. Tak heran jika Indonesia terpilih sebagai negara yang memiliki pantai-pantai terbaik untuk bersantai. Negeri ini juga tergolong hijau karena punya lebih dari 186 ruang hijau. Suhu rata-rata 25 derajat Celsius membuat Indonesia menjadi tempat tinggal yang nyaman. Tidak kelewat dingin, juga tak terlalu panas. Indonesia yang berjuluk surga tropis juga punya 66 spa dan retret kesehatan. Semuanya menawarkan pengalaman bersantai terbaik.Untuk menikmati itu semua, para pekerja di Indonesia punya keleluasaan menikmati rata-rata 30 hari libur per tahun.


Waspada Dibalik Julukan

Diberi julukan sebagai negara yang paling santai nomor 1 di dunia, seharusnya tidak membuat kita bangga dulu, karena pasti ada misi yang terselubung dibalik julukan itu semua. Indonesia sejak dulu kala memang dipuji oleh bangsa lain, kekayaan dan sumber daya alam yang melimpah tentu sangat menggiurkan untuk melancong ke Indonesia. Alhasil mereka yang datang ke Indonesia tidak hanya sekedar pergi liburan menikmati keindahan alam, tetapi juga membawa misi mereka diantaranya menanamkan investasi di Indonesia, membawa budaya mereka yang liberal sehingga ditiru oleh masyarakat. Masyarakat dengan bangganya mengikuti cara makan, minum, berpakaian dan bergaul, tentu tidak sesuai dengan ajaran Islam.


Indonesia  adalah negeri Muslim terbesar yang potensial menjadi benih awal kebangkitan. Ada skenario global untuk memandulkan potensi tersebut dengan mempropagandakan Indonesia sebagai negara destinasi pariwisata terbaik yang berdampak masifnya proses liberalisasi dan sekularisasi melalui pariwisata.


Perlu kita ketahui bahwa, pariwisata yang dikembangkan di Indonesia adalah pariwisata yang bernafaskan liberal. Sedangkan liberal adalah ruh kapitalisme. Selain dorongan ekonomi yang tak pernah puas mengeksploitasi alam dan manusia, perilaku liberal membuat manusia hanya menjadikan dunia sebagai tempat bersenang-senang. Padahal kesenangan dunia hanyalah bersifat sementara.


Untuk memuaskan keinginan bersenang-senang itu, maka dibuatlah berbagai macam fasilitas yang memanjakan para wisatawan. Misalnya saja menyediakan minuman keras, hotel bintang lima, makanan ala western yang sarat bumbu-bumbu haram, eksploitasi perempuan dan anak-anak untuk dijadikan sebagai pemuas syahwat wisatawan, dan banyak lagi yang lainnya. Nauzubillah.


Demikianlah manisnya sektor wisata membuahkan dampak postif bagi Indonesia. Namun, perlu diwaspadai ada sisi negatif yang mengancam Indonesia dibalik peningkatan sektor wisata ini. Yakni liberalisasi sosial budaya dan sekulerisasi yang merupakan ruh dari kapitalisme. Selain itu, dibalik gelar sebagai negara paling santai di dunia menjadikan Indonesia seakan disetting oleh barat (masuk dalam skenario global) untuk memandulkan kebangkitan Islam di Indonesia.


Liberalisasi budaya akan menggerus gaya hidup dan pandangan masyarakat, menjadikan dunia hanya untuk bersenang-senang, mengejar materi, dan bebas melakukan apapun sehingga mengindahkan keyakinan agama, norma dan etika. Misalnya, dari segi gaya hidup, yang mana mereka wisman terbuka dan minimnya berpakaian apalagi ketika berada di pantai berjemur dengan pakaian renangnya. Ditambah lagi kebebasan berperilaku seks bebas, minuman keras, narkoba, dan legalnya hubungan sesama jenis atau LGBT.


Selain itu, industri pariwisata ini kental dengan maksiat, budaya syirik, dan sekulerisasi memisahkan agama dengan kehidupan. Pasti ada upaya dari pemerintah untuk menjaga keamanan dan antisipasi agar masyarakat Indonesia kondusif. Misalnya, digalakkannya pemberantasan terorisme dan radikalisme agar wisatawan mancanegara tidak khawatir dan takut berkunjung ke Indonesia. Padahal, makna teroris dan radikal merupakan senjata untuk memusuhi muslim dan menghambat kebangkitan Islam.


Islam Mengatur Pariwisata

Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat seharusnya sadar, waspada dan berupaya agar penjajahan negara barat melalui investasi di sektor pariwisata dan datangnya wisman bisa ditanggulangi. Kontrol masyarakat penting, mencegah kebatilan dan menyeru kebaikan. Jangan sampai, gelar negara paling santai di dunia menjadikan Indonesia benar-benar santai ketika liberalisasi dan sekulerisasi merusak akidah atau keyakinan bangsa Indonesia yang mayoritas muslim.


Sistem saat ini memang membuka peluang penjajah masuk atas nama wisatawan mancanegara dan investasi. Pariwisata yang seharusnya dijadikan sarana hiburan, rekreasi, dan dakwah (takjub akan kebesaran sang pencipta, menambah ikatan hubungan persaudaraan dan kekeluargaan, dan menambah atau menumbuhkan keimanan) justru hanya dijadikan sebagai sarana meraup materi, hiburan, dan semata keduniawian bahkan mengundang bencana serta murka sang Pencipta.


Firman Allah QS. Ar-Rumm:41 mengatakan “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Hanya sistem Islam yang mampu mencegah berbagai kemaksiatan, menjaga kemurnian akidah dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Pariwisata dalam Islam merupakan ladang pahala sekaligus menunjukan kegemilangan dan kemulian Islam.Wallahu'alam.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code: