Opini › Opini


Mencemaskan 'Kaum Satire'

Sabtu, 16/03/2019 16:37 WIB | Oleh : Duski Samad (Wakil Ketua FKUB Sumbar)

Istilah satire lazimnya dipakai sebagai gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Istilah ini berasal dari frasa Bahasa Latin yaitu satira atau satura (campuran makanan). Satire juga dapat dipakaikan untuk mengungkap ketidaknyaman terhadap wacana publik yang diisi oleh diksi sarkasme.


Judul ‘Kaum Satire’ yang dituju dalam tulisan ini terinspirasi dari ketidaksukaan penulis tentang dua diksi yang beredar luas di media hari Jum'at (01/03), yakni kata ‘biadab’ yang dialamatkan bagi orang yang berdoa. Kedua, larangan menyebut ‘kafir’ bagi nonmuslim. Kedua kata tersebut viral karena kata itu bersumber dari dua tokoh umat -yang oleh umat awam tak mudah memahami jalan pikirannya-..


Atas nama politik sekalipun, rasanya perih, satire, dan sulit memahaminya bila ada orang membaca doa lalu dikatakan biadab. Dan term kafir pun sudah lama dipahami dalam hubungan antar agama. Dan kata itu tidak pula menjadi konflik antar umat beragama. Apalagi dalam pergaulan antar umat beragama, masing-masing penganut dan tokoh agama, sangat maklum bila mereka yang berbeda itu dikatakan kafir oleh yang lainnya. 


Khusus dalam Islam, term kafirun, jamak dari kafir, sudah sangat baku dan tidak mudah mengesernya, dan memang tidak boleh dialihartikan karena ia menjadi nama surat dalam al-Qur'an. Menggeser dan atau mengubah ayat dan term al Qur'an adalah pintu lebar menuju neraka. Rasul SAW mengingatkan; "Siapa saja yang menafsirkan al Qur'an dengan akalnya semata maka ia telah mengambil posisi dan kedudukannya di neraka" (hadits).

Kata kafir menjadi masalah dalam hubungan intern umat beragama akhir-akhir ini. Hal ini  disebabkan perbedaan paham yang diumbar ke media saat kebebasan wacana begitu luas di masa reformasi ini. Patut disedihkan bahwa ada di antara kelompok intern umat yang larut dalam "interest" jangka pendek, sehingga mengorbankan kepetingan kolektif jangka panjang. Harusnya, solusi perbedaan pemahaman kata kafir ini cukup dilingkungan intern umat saja dan tidak boleh menegasikan keabsolutan iman dan menggeser makna kafir dalam kitab suci yang sudah populer di memori umat. 

Mayoritas umat memahami kafir itu berkaitan erat dengan imannya. Bahwa yang dimaksud dengan kafir adalah tidak beragama, orang yang durhaka kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Orang yang bersekutu dengan setan. Makna kafir seperti di atas, juga sudah dicatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) bahwa kata kafir adalah ka·firu n orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya; -- harbi orang kafir yang mengganggu dan mengacau keselamatan Islam sehingga wajib diperangi; --muahid  orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam bahwa mereka tidak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat Islam selama perjanjian berlaku; --zimi orang kafir yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan kewajiban membayar pajak bagi yang mampu; me·nga·fir·kan v 1 menganggap (memandang) kafir; 2 menjadikan kafir; ke·ka·fir·an n perihal (yang bersifat atau berciri) kafir.

 

Kafir dan Toleransi 

Kata kafir untuk penyebutan nonmuslim yang selama ini di Indonesia belum pernah membawa ekses atau konflik antar agama. Antar agama saling memahami bahwa saudaranya yang tidak seiman itu adalah kafir, yang dimaklumi dan tidak pula diucapkan padanya, sekaligus juga tidak menganggu hubungan personal antar mereka yang beda iman itu. Umat Islam sudah memahami betul bahwa makna kafir yang termaktub dalam surat al Kafirun dan surat lainnya adalah menunjukkan pada sikap toleransi umat Islam pada mereka yang beda iman.


Kata kafir ditujukan bagi penegasan bahwa beda iman itu adalah niscaya, yang harus dihargai, dengan ungkapan lakum dinukum wa liyaddin. Ini artinya tidak boleh ada penistaan dalam perbedaan iman. Sebutan kafir untuk yang nonmuslim tidak ada dalamnya unsur penistaan, bahkan itu bermakna toleransi untuk saling menghargai beda iman. Iman dalam satu agama itu lurus, bersih, jernih dan tidak untuk disatukan atau dicampurbaurkan. Iman agama itu bersifat mengikat bebas dari perkongsian (syirik) dan toleransi yang menyesatkan (sinkritisme dan atau sintesa).

Sebutan kafir untuk non muslim itu adalah makna dari setuju dalam perbedaan, argrement and disagrement, secara akademis dibahas dalam studi perbandingan agama. Pakar perbandingan agama yang pertama di Indonesia adalah Mukti Ali. Konsep kerukunan setuju dalam perbedaan yang dipromosikan Mukli Ali didasarkan pada kesadaran untuk menjaga Indonesia dari virus perpecahan yang sengaja dihembuskan orang jahat melalui angin agama.


Strategi memecah belah bangsa melalui isu agama ternyata tidak pernah tuntas. Partai Komunis Indonesia (PKI) berkali-kali mencoba meruntuhkan negara dan agama. Tahun 1926 pemberontakan PKI di Madium, pengkhiatanan PKI peristiwa 30 September 1965 di seluruh Indonesia, provokasi PKI bangkit adalah bentuk konkrit agenda komunis untuk menghilangkan agama dan menganti negara dengan komunis. 

Setuju dalam perbedaan yang dimaksudkan oleh konsep perbandingan agama adalah menerima keberadaan agama lain, bukan dalam arti mengakui iman atau kebenaran agama lain itu. Pengakuan kebenaran agama wajib hukumnya pada apa yang dipercayai masing penganutnya. Harus diingat menerima adanya agama lain, sama sekali berbeda dengan mengakuinya. Jika memaklumi agama lain itu harus dapat diakui pula kebenarannya. Itu namanya telah mencampuradukkan atau memadukan agama. 

Penyebutan kafir pada mereka yang beda iman itu keharusan dan menjadi jaminan bagi kebenaran iman yang menyebutnya. Kepastian kebenaran iman adalah wajib dan menjadi penentu keberiman yang bersangkutan. Iman itu harus mutlak, pasti dan tidak boleh relatif. Sikap jelas, lugas, tegas dan tuntas tentang iman sudah dipandu dalam surat al- Kafirun. Sangat jelas beda iman itu keharusan yang mesti dinyatakan dengan senyata-nyatanya (eksplisit), tidak boleh disamar-samarkan (implisit). Ketegasan pernyataan tentang iman dan kafir tidak boleh dan tidak akan ada diskusi dan negosiasinya, begitu norma al-Qur'an memastikan.


Sebagai bahagian akhir yang ingin penulis nyatakan ialah menyebut iman sebagai ranah relatif atau dapat disintesakan adalah bahaya besar bagi pemeluk agama apa saja. Penciptaan kondisi yang menuju pada relativitas iman adalah pemusrikan dan pemurtadan sistimatis yang harus dicegah dan diingatkan bahaya krisis aqidah yang akan berujung pada sikap permisif. Pesan utama yang dikemukakan di atas adalah jangan ada diskusi dan wacana penyatuan iman atas dasar toleransi dan kongsi dalam iman umat beragama. Semoga kita paham arah jalan yang benar dan mulia.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait