Opini › Feature


Melihat Mahasiswa dalam Pandangan Non Civitas Academica

Rabu, 10/04/2019 04:27 WIB | Oleh : Ilham Army (Mg)

Melihat perilaku mahasiswa tidak hanya dari penilaian para dosen. Perilaku, penampilan dan permasalahan mahasiswa bisa kita lihat dari sudut pandang dari kalangan yang juga ikut andil dalam perkembangan kampus yaitu Cleaning Service, pemilik kantin, dan Satuan Pengamanan (Satpam). Mereka juga berhak menilai perilaku mahasiswa walaupun orang-orang ini tidak berpengaruh dalam proses perkuliah mahasiswa.

 

Dalam hal ini perilaku mahasiswa bisa dilihat dari masa ke masa. Justru kalangan inilah yang dianggap memahami perilaku mahasiswa karena secara tidak sadar mahasiswa dinilai sikapnya, tidak seperti dengan dosen yang akan bersikap sok jaim agar tampak baik.

 

 

Menjaga kebersihan

Menanamkan nilai-nilai kebersihan merupakan aspek penting untuk mewujudkan lingkungan yang bersih. Cleaning service adalah suatu profesi yang diemban dalam hal menjaga kebersihan. Akan tetapi mengutamakan kebersihan adalah kewajiban seluruh golongan dalam lingkungan kampus, apalagi mahasiswa.


Sering kali Cleaning service menyayangkan sikap mahasiswa yang sering membuang sampah seperti puntung rokok, bungkus/plastik makanan, botol minuman dibuang tak sesuai pada tempatnya.

 

Gusmaniar seorang cleaning service memabandingakan perangai mahasiswa dulu dan sekarang. "Mahasiswa tidak sebanyak dulu, saat dulu masih banyak mahasiswa yag menghormati saya sebagai seorang cleaning service dan itu cukup," kata cleaning service yang telah bekerja selama lima tahun itu.

 

Ia juga menambahkan tentang mahasiswa sekarang yang tidak merasa malu jika membuang sampah di depannya. "Mahasiswa dulu akan malu jika ketahun membuang sampah sembarangan di depan kami, mereka akan mengambil lagi sampah tersebut," bandingnya.

 

 

Menjunjung Kejujuran

Menurut Suhartil seorang pemilik kantin di Fakultas Syariah yang telah berjualan selama 18 tahun, kejujuran adalah hal yang harus dimiliki mahasiswa.

 

Teringat olehnya mahasiswa dulu yang banyak yang berbohong karena faktor ekonomi. Ia menganggap mahasiswa yang berbohong demi memenuhi kebutuhan yaitu makan.

 

Namun ada hal menarik yang ia temui, saat mahasiswa itu tamat dan sukses, ia dikunjungi kembali oleh mahasiswa yang berbohong itu untuk membayar hutangnya dulu. "Saat mereka sudah sukses, mereka mengunjungi saya dan bercerita bahwa Ia pernah berbohong," papar Suhatril.

 

 

Saling Menghormati

Generasi mahasiswa terus berlanjut hingga urat nadi masih berdenyut dan raso jo pareso dijunjung tinggi dalam sanubari. Bagi mahasiswa UIN tentu lebih memahami dengan ditambahnya nilai-nilai akhlak dalam agama islam.

 

Menurut Jaka Putra salah satu Satpam UIN Imam Bonjol Padang yang sudah bekerja selama empat tahun ini mengatakan mahasiswa saat ini jauh lebih baik hal ini bisa dilihat dari hal kecil.

 

"Mereka sering bertegur sapa, mereka juga menghormati kami sebagai pengaman di kampus, setiap ada acara di kampus selalu melapor ke kami jam berapa mulai hingga jam berapa selasai. Itu sudah lebih dari cukup untuk saling hormat menghormati,”

 

Tiga poin tersebut adalah hal yang harus diterapkan dan dijunjung oleh mahasiswa dalam berhubungan dengan selingkup civitas kampus termasuk kepada cleaning service, pemilik kantin dan satpam.

 

Esok adalah hari yang berganti pada hari ini. Semoga bertukarnya hari membuat mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang lebih baik lagi dan menjunjung tinggi akhlakul kharimah



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan feature ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Feature Terkait
Suarakampus