Opini › Opini


Sambut Suci Ramadhan

Selasa, 14/05/2019 12:32 WIB | Oleh : Duski Samad Ketua MUI Kota Padang

 

Suci Ramadhan artinya pengakuan dan penerimaan yang tulus dari umat Islam bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang suci dan menyucikan. Seiring kemajuan digital suci Ramadhan merambah jauh sampai di tangan dan hati umat melalui jalan vitur whatshaap, instagram, facebook, dan media sejenis dengan ragam kata, ilustrasi, vidio dan ragam audio yang isinya menyambut Ramadhan suci. Alhamdulillah.
Untuk lebih maksimalnya sambut Ramadhan suci, maka sepantasnya seorang muslim menyiapkan dirinya dengan mensucikan hati dari segala penyakitnya; baik penyakit hati yang akan mengganggu keharmonisan hubungannya dengan Allah, (habluminallah) dengan ganti hutang puasa, zakat dan ibadah lainnya. Begitu juga mensucikan hati dari penyakit hati yang akan mengganggu keharmonisan hubungannya dengan sesama (habblumminnas), itulah pesan saling memaafkan dalam keluarga dan menguatkan silaturahim jelang Ramadhan. Termasuk mengunjungi mertua, bawa rantang, makan bersama dengan karib kerabat. Itu pula awalnya adanya tradisi ziarah kubur jelang puasa, walau tidak ada nash yang memerintahkan, namun ia sudah mentradisi. 
Dalam rangka itu pula tumbuh tradisi mengawali bulan Ramadhan dengan membaca doa yang biasa dibaca oleh sebagian kaum muslimin, itu semua menggambarkan betapa kerinduan mereka ingin kembali berjumpa dengan bulan Ramadhan. 
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah berkatilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.”.
Bulan Rajab adalah satu di antara bulan-bulan haram. Di bulan tersebut, ada penekanan agar memperbaiki keadaan jiwa dengan menjauhi sekecil apapun apapun tindakan dan perkataan yang dapat merusak keharmonisan hubungan dengan Allah. Selepas bulan Rajab, juga dipertemukan dengan bulan Sya’ban. Di dalamnya, Rasulullah menghidupkan harinya dengan banyak berpuasa. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata;
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari)
Dipertengahan bulan Sya’ban, ada anjuran secara khusus untuk menyudahi segala pertikaian dengan saudara semuslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
يطلع الله تبارك و تعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان ، فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن
“Pada malam pertengahan di bulan Sya’ban, Allah melihat para hamba Nya, dan akan mengampuni mereka seluruhnya kecuali orang musyrik dan orang yang bersengketa dengan saudaranya.”. (HR. Ibnu Majah. Dihasankan oleh Syaikh Al Baani dan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauuth dinyatakan sebagai hadits hasan dengan beberapa syahidnya)
Memperhatikan hadist di atas maka menjelang Ramadhan ini penyambutan kedatangannya dengan menyiapkan jiwa-jiwa yang suci dan membersihkan nya dari segala penyakitnya. 
Sambut Ramadhan sesungguh nya ditujukan agar setiap orang dapat dipertemukan dalam keadaan jiwa yang lebih siap untuk mendulang pahala dan keutamaan secara lebih maksimal.
TAUSHIYAH SUCI HATI 
Taushiyah artinya nasehat keagamaan. Nasehat keagamaan diperlukan karena ia menjadi sarana untuk menetralkan suasana batin dan ruhaniyah sebelum melakukan ibadah Ramadhan suci dan begitu juga saat mengajukan doa dan meminta pertolongan kepada yang Maha penolong, Allahu huwata'ala. Nasehat agama itu artinya memenuhi seruan perintah al Qur'an yang itu diharapkan dapat melunakkan hati yang membeku, keras dan tertutup, sebab hidayah Allah hanya bisa menyintuh hati yang terbuka, bersih dan sehat. 
Ibnu al Qayyim rahimahullah membagi hati menjadi tiga jenis. Pertama: Qalbun Mayyit (Hati yang Mati). Itulah hati yang kosong dari semua jenis kebaikan. Sebabnya, setan telah ‘merampas’ hatinya sebagai tempat tinggalnya, berkuasa penuh atasnya dan bebas berbuat apa saja di dalamnya. Inilah hati orang-orang yang kafir kepada Allah.
خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰىۤ اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَا بٌ عَظِيْمٌ
"Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 7)
Kematian hati yang mengidap mereka yang kufur, tertutup dari kebenaran, membawa akibat buruk bagi kesehatan jiwanya. Hati kufur itu membawa effek psikologis, menjadikan manusia bengis, tak berprikemanusiaan, seperti sering disebut orang itu "matanya gelap", mereka " benar-benar nekad" mereka sudah tidak manusiawi lagi. Prilaku pembohongan sistimatik, massif dan bejat adalah bersumber dari mereka yang hatinya off dari kebenaran. Matinya hati berakibat kebutaan pada kebenaran dan dengan enteng saja meingkari al Qur'an. 
وَّجَعَلْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اَكِنَّةً اَنْ يَّفْقَهُوْهُ وَفِيْۤ اٰذَا نِهِمْ وَقْرًا ۗ وَاِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِى الْقُرْاٰنِ وَحْدَهٗ وَلَّوْا عَلٰۤى اَدْبَارِهِمْ نُفُوْرًا
"dan Kami jadikan hati mereka tertutup dan telinga mereka tersumbat, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila engkau menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an, mereka berpaling ke belakang melarikan diri (karena benci)."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 46)
Dampak lebih jauh dari kekusutan hati adalah membuat orang selalu dihimpit dosa dan kesalahannya, di akhirat kelak ia sendiri yang akan mempermalukan dirinya sendiri. 
وَكُلَّ اِنْسَا نٍ اَلْزَمْنٰهُ طٰٓئِرَهٗ فِيْ عُنُقِهٖ ۗ وَنُخْرِجُ لَهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ كِتٰبًا يَّلْقٰٮهُ مَنْشُوْرًا
"Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 13)
Kedua: Qalbun Maridh (Hati yang Sakit). Qalbun maridh  adalah hati yang telah disinari cahaya keimanan. Namun, cahayanya kurang terang sehingga ada sisi hatinya yang masih gelap, dipenuhi oleh kegelapan syahwat dan badai hawa nafsu. Karena itu, setan masih leluasa keluar-masuk ke dalam jenis hati seperti ini. Hati sakit itu adalah hati yang melekat pada munafiq.
فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ ۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا ۚ وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ ۙ بِۢمَا كَا نُوْا يَكْذِبُوْنَ
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 10)
Orang yang memiliki hati yang sakit, selain tak merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah SWT, juga sering terjerumus ke dalam kemaksiatan dan dosa, baik besar ataupun kecil. Hati yang seperti ini masih bisa terobati dengan resep-resep yang bisa menyehatkan hatinya. Namun tak jarang, ia tidak bisa lagi mengambil manfaat dari obat yang diberikan padanya, kecuali sedikit saja. Apalagi jika tak pernah diobati, penyakitnya bisa bertambah parah, yang pada akhirnya bisa berujung pada ‘kematian hati’. Untuk orang yang hatinya sakit ini diperlukan ilmu, dzikir, istighasah dan pencerahan ruhaniyah. 
Bersamaan dengan itu sebagian dari hati yang melekat pada diri manusia adalah bersifat negatif, di antara keras hati ( ghalizh), hati berdosa ( its al-qalbih), hati yang tersumbat ( qulubuna ghalf), hati yang ingkar ( qulubihim munkarah),
Hati yang kosong ( af’idatihim hawa). 
Islam menghendaki manusia mampu mencapai hati yang berisi positif. Ibadah shalat, puasa, doa, dan permintaan apapun sulit dikabulkan bila hati melekat padanya sifat negatif. Itulah penting kesucian hati menyongsong Ramadhan. 
Ketiga, hati yang bersih ( qalb salim). Qalbun salim, yaitu kalbu yang selamat atau bersih.
يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩
 "Pada hari yang harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan kalbu yang bersih.”  (asy-Syu’ara: 88—89)
Kalbu jenis inilah yang harus dijaga kesucian dan keselamatannya. Kalbu ini suci dan selamat dari kesyirikan, kekufuran, kebid’ahan, kesesatan, dan bersih dari segala bentuk kemaksiatan. Sudah barang tentu, tingkat keselamatan antara satu kalbu dan yang lain berbeda-beda.
Di antara langkah yang ditempuh untuk menjaga eksistensi qalbun salim ini adalah dengan menjaga keimanan.
وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُ
  “Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan petunjuk kepada kalbunya.” (at-Taghabun: 11)
Qalbun salim akan bergerak terus menjadi hati yang bertobat ( qalb munib). Hati yang tenang ( qalb muthmain)
Hati yang menerima petunjuk ( yahdi qalbih).Hati yang takwa ( taqwa al-qulub).
Kehadiran puasa dan semua ibadah yang menyertai qiratul qur'an, shalat tarawih, majlis ilmu, 'itikaf, berinfak, menyantuni orang miskin, memberikan iftar Ramadhan adalah ibadah wasilah mendapat hati yang sehat, dan suci. Sehat dan sucinya hati itu adalah PIN untuk diterimanya roh dan seluruh permohonan pada pemilik hati, Allah swt.
Penutup tulisan ini dapat ditegaskan bahwa sambut suci Ramadhan, marhaban ya Ramadhan adalah dengan tradisi, cara, dan adat budaya yang mendorong kesucian hati. Bukan dengan tradisi dan budaya yang mengundang dosa, sekaligus mengotori dan mengelapkan hati. Menciptakan suasana kondusif bagi orang berpuasa, meramaikan rumah ibadah, menjaga ketenteraman lingkungan dan mengiatkan amaliah keagamaan adalah modal akhirat yang berkonstribusi bagi pencerahan jiwa, kesucian hati, dan nalar. MARHABAN YA RAMADHAN 1440H/2019M, Mari mensucikan hati, mencerahkan jiwa dan mendayagunakan akal sehat untuk Suci Ramadhan. Amin. DS. 01052019. 



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code: