Opini › Opini


Ketaatan meningkatkan Human Development Indeks

Selasa, 14/05/2019 12:40 WIB | Oleh : Heri Maulizal, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga-Yogyakarta (alumni UIN

Ketaatan dalam bahasa arab dikenal dengan sebutan Taqwa, Muttaqin atau Muttaqunitu adalah orang yang terhindar dari yang tidak disukainya, di dalam Alquran banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang Taqwa ini lebih dari ratusan ayat, dari ayat-ayattersebut menurut Prof. Noorhaidi Hasan setidaknya ada beberapa yang sangat esensial diantaranya, taqwa dalam hubungan amanah, Taqwa dalam hubungan kesabaran dan Taqwadalam hubungan Hasanah atau kesejahteraan.


Pertama, Taqwa itu dalam hubungan beramanah (Albaqarah ayat 283). Dalam ayat ini dijelaskan bahwa taqwa itu berkaitan dengan amanah, tanggung jawab, jabatan, tugas yang diberikan kepada kita. Kalau kita sudah memegang tanggung jawab, amanah dan jabatan,lantas apa yang ingin dihindari dari tanggung jawab itu? Kita tidak ingin terjurumus kedalam kegagalan menjalankan tanggung jawab dan amanah itu juga tidak ingin terjurus kedalam korupsi, nepotisme. Kalau orang yang tidak bertaqwa diberikan amanah maka dia cenderung tidak bisa menghindar dari perilaku korupsi dan nepotisme serta mengkhianati amanah tersebut.Tapi apa yang terjadi di negara-negara muslim rezim yang berkuasa yang diberi amanah itu kemudian gagal dalam menjalankan amanahnya, dalam konteks bangsa amanah itu bisa dilihat dalam bentuk kontrak sosial dengan para warganya, kalau diringkas kontrak sosial itu dalam menjalankan prinsip-prinsip pemerintahan untuk mewujudan keadilan, kesejahteraan dan seterusnya. Di dunia muslim rezim-rezim yang diberi kuasaan atau amanah tidak sedikit mengalami kegagalan dalam menjalankan roda pemerintahan serta terjerumus kedalam korupsi dan nepotisme, otoritarianisme itu mutar balik begitu saja yang menjadi masalah di didalam masyarakat. Lalu apa gunanya kita berpuasa? Kita yang memegang amanah, kekuasaan ternyata kita tidak bisa menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkandari amanah yaitu kegagalan kita dalam menjalankan amanah tersebut.


Kedua, Taqwa dalam berhubungan dengan kesabaran (Ali-imran ayat 186), keterkaitan taqwadengan kesabaran sangat di tuntut dalam diri masing-masing, walaupun di provokasi, dilecehkan namun tetap sabar. Kita menyaksikan sendiri di dalam masyarakat, menjelangpemilu kemaren provokasi terjadi antara cebong dan kampret. Dalam konteks dunia muslim provokasi terus terjadi antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, akhirnya yang kitasaksikan konflik dan pertikaian yang tiada hentinnya, itulah yang terjadi di dunia Islamsampai hari ini seperti Timur Tengah, Afrika Utara bahkan di negara sendiri belumsepenuhnya terbebas dari konflik dan konfrontasi semakin memanas antar sesama warga,berarti kita belum bisa dikatakan menjadi orang yang bertaqwa. Apakah karena the of timekita bisa menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan konflik dan semacamnya? tetapikenyataanya tidak demikan, konflik bahkan semakin kesini semakin memanas sesamakomponen bangsa dan juga berbagai macam dilema di kalangan sesama muslim.


Ketiga, Taqwa hubungan Hasanah atau kesejahteraan (Az-zumar ayat 10), orang yang bertaqwa yaitu orang yang terhindar dari yang tidak kita inginkan terkait dengan kesejahteraan, artinya ketidak sejahteraan, kemiskinan keterbelakangan. Kalau kita bertaqwa kita terhindar dari hal semacam itu dan puasa mestinya bisa mencegah dari perbuatan itu. Kita lihat sekarang di dunia muslim sangat menyedihkan. Kita bisa lihat di HumanDevelopment Index (HDI) Indek pembangunan manusia. Perserikatan Bangsa-Bansa setiap tahun mengeluarkan Rangking Human Development Index selalu tapi tidak signifikan, akhir-akhir ini negara Norwegia diikuti oleh Australia, Irlandia, Jerman, Belanda, Firlandia,Newzealand dan banyak lagi negara-negara Eropa dan Australia yang termasuk dalam humandevelopment indek  pembangunan manusia diurutan terdepan. Di Negara-negara muslim human development indek ini paling berada di rangking 49 yaitu Saudi Arabia disusul Brunei Darussalam peringkat ke-70, namun kalau dilihat secara keseluruhan negara muslim hampir tidak ada, sedangkan Indonesia urutan rangking 116 kitakalah dari negara yang selama ini jarang kita dengar seperti Togo, Trinidad, negara-negara iniindek pembangunan manusia di atas kita.Nah dari indek tadi indikatornya ada tiga yaitu : pertama, usia harapan hidup negara-negaraEropa usia hidupnya rata-rata diatas 80-an diikuti oleh jaminan kesehatan yang baik,Indonesia masih di sekitaran umur 69 tahun.


Kedua, Lama Pendidikan, kalau di negara-negara maju pendidikan minimal 18-25 tahun lama pendidikan, Indonesia masih sekitaran 8-9tahun. Ketiga, income perkapita, negara-negara maju di dunia ini pendapatan sudah di atas75.000$ bahkan lebih, di negara-negara muslim ada tapi tidak banyak ada satu atau dua,sedangkan Indonesia hanya sekitaran 4100$ itu pun masih di bawah pendapatan yang standar,standar itu sekitaran 6000$, kita masuk dalam pendapatan menengah, kalau dari pendapatandibawah standar maka negara-negara muslim masih mengalami gonjang-ganjing secaraekonomi dan politik dan lain-lain. Kita berkuasa bahkan mampu menetralisir supaya terhindar dari hal-hal semacam inijika kita bisa mengupgrade ketaqwaan dalam beramanah, kesabaran dan kesejahteraanmanusia. Kita boleh bertanya pada diri kita sendiri tiap tahun kita berpuasa tapi kita sendiritidak yakin akan perubahan terhadap indek kesejahteraan manusia. Momentum puasa inilahkita terus mencoba memperbaiki diri dalam bertanggung jawab, amanah dalam memegangjabatan, tidak mudah terprovokasi dan terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait