Opini › Opini


Manifestasi Bulan Suci Pasca Kontestasi Politik

Rabu, 15/05/2019 14:58 WIB | Oleh : Iko Juhansyah

Pemilihan umum (PEMILU) telah dilaksanakan dan dinikmati oleh masyarakat Indonesia oleh siapapun dan dimanapun dari berbagai suku, agama dan budaya yang berbeda-berbeda, baik pemilihan Presiden maupun anggota legislatif. Maka sangat diperlukan peran dari semua elemen masyarakat, sudah seharusnya ikut merawat  dan merajut kembali perdamaian bangsa Indonesia.


Memang Pemilu tahun 2019 merupakan pesta Demokrasi yang sangat rumit, karenanya banyak problem  yang muncul. Data yang diberitakan detik.com (10/05) jumlah petugas KPPS yang meninggal sebanyak 469 orang dan jumlah yang sakit menjadi 4.602 orang. Tidak cuma itu, isu-isu negatif terus bermunculan yang berpotensi bermuatan perpecahan keutuhan bangsa Indonesia. Tokoh-tokoh bangsa sekan terus mencuatkan statmentnya yang hanya membuat panas wajah perpolitikan kali ini.


Menyikapi hal ini banyak dari kalangan yang tidak bertanggungjawab terus menyebarkan berita-berita hoax. Pasca pencoblosan tim Direkorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menemukan jumlah akun di media sosial dengan konten hoax dan provokasi meningkat sampai 40 persen (tempo.co, 19/04). Tidaklah menutup kemungkinan hal ini akan meningkat lagi setelah pengumuman hasil Pemilu tanggal (22/5) mendatang.


Bias kontestasi politik tahun 2019 cukup menyisahkan luka mendalam terhadap bangsa ini. Kebencian, serta pertengkaran menjadi pisau tajam yang mengoyak dan menggores wajah Indonesia. Hiruk-pikuk yang terjadi saat ini haruslah disudahi terlebih mayoritas masyarakat Indonesia sedang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan maka haruslah menjadi momen untuk menjalin kembali persaudaraan.


Di bulan ramadhan tertulis sejarah perdamaian dunia. Misal, Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan bulan ramadhan tahun 1364 H. Al-Quran diturunkan kepada nabi Muhammad pada tanggal 17 bulan ramadhan sebagai pedoman dan petunjuk dalam menjalankan kehidupan bagi umat manusia. Selain itu pada tanggal 10 ramadhan 8 H bertepatan pada tahun 630 M peristiwa yang disebut dengan fathu makka tanpa ada pertumpahan darah.


Rentetan sejarah di atas menandakan bahwa bulan ramadhan merupakan bulan toleransi dan perdamaian. Maka pasca Pemilu saat ini toleransi dan perdamaian harus dimiliki dan aplikasikan oleh seluruh umat manusia terkhusus masyrakat muslim Indonesia. Banyak bentuk perbedaan yang ada saat menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan, ini dapat dilihat dari penetapan awal ramadhan, jumlah rakaat saat solat terawih dan masih banyak yang lainnya. Hal ini menandakan perbedaan adalah rahmat.


Di bulan Ramadhan, puasa bukanlah ibadah yang bersifat individual semata. Selain hubungan spritual antara hamba dengan Tuhannya dan manfaat kemanusiaan. Bahkan Allah mengingatkan agar umat Islam memperhatikan tetangganya, jangan sampai kita sahur dan berbuka dengan nikmat, sementara tetangga sebelah kelaparan. Ini membuktikan bahwa Tuhan sangan memperhatikan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan (habbluminallah) dan hubungan antar manusia (habluminannas).


Manifestasi Bulan Suci

Bulan Ramadhan kali ini mestinya menjadi bulan yang istimewa bagi umat muslim Indonesia. Sebab ia datang setelah saat memanasnya suhu politik Indonesia dan bertepatan dengan momentum Pemilu yang membuat masyarakat terpolarisasi. Maka tepat sekali bulan penuh barokah ini menjadi media atau fasilitator untuk mendamaikan kelompok yang sempat saling membenci hingga berkonflik karena perbedaan politik.


Dalam konteks kondisi politik indonesia saat ini, masyarakat penting sekali untuk menikmati bulan suci sebagai bulan yang penuh maaf dan ampunan, oleh karenanya perlu melakukan puasa sosial dalam artian menahan diri dari berfikir negatif kepada orang lain, benci yang berlebihan kepada orang atau kelompok yang berbeda pilihan politik pada 17 April yang lalu. Puasa sosial bisa di aplikasikan dengan menahan diri agar tidak melakukan ujaran kebencian di media sosial, memposting status yang bisa mneyakiti orang lain dan menahan diri untuk tidak menyebar Hoax selama bulan Ramadhan.


Semangat Perdamaian dan Persaudaraan

Banyak cara untuk mewujudkan perdamaian bangsa Indonesia baik itu dengan bersilaturahmi, menutupi keburukan sesama manusia dan memberikan kabar baik, terutama dalam hal bermedia sosial haruslah memperbanyak konten-konten positif dan memperbanyak postingan-postingan tentang perdamaian yang di ajarkan dalam Al-Quran dan Hadist. Sehingga semangat persaudaraan tetap terjalin dengan tidak melihat perbedaan antar umat manusia. Al-Quran Surat Al-Hujuraat ayat 13 menyatakan “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha.


Cukuplah jelas bahwa jangankan perbedaan dalam pilihan politik, ayat di atas pun sudah menyatakan bahwa manusia diciptakan dengan berbagai macama perbedaan. Namun dengan perbedaan, Tuhan tidaklah melihat semua itu. Hanya yang paling bertakwalah yang paling dekat di sisiNya. Maka marilah berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketakwaan. Semoga dengan menjalankan ibadah di bulan Ramadhan ini, umat muslim mampu saling memaafkan satu sama lain dan saling mengahargai perbedaan demi perbedaan sehingga mampu memberikan kesejukan bagi umat manusia seluruh indonesia dan masyarakat kembali bersama-sama ikut mensejaterakan negara Indonesia.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code: