Opini › Opini


Mempersoalkan Ghirah Mahasiswa dalam Tatanan Dunia Intelektual

Senin, 02/09/2019 19:22 WIB | Oleh : Daniel Osckardo (Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara)

Sejatinya kampus berfungsi untuk menciptakan calon-calon cendekiawan, intelektual, dan pemimpin di masa depan yang mempunyai keahlian di bidang tertentu. Namun saat ini kampus tidak lebih dari sekedar tempat berkumpul dan menghabiskan waktu luang. Ini karena kampus gagal menciptakan sebuah situasi dimana nalar di asah untuk kritis. Alih-alih untuk hal seperti itu,tampaknya kampus sekarang lebih menekankan penyatuan persepsi. Dan hal ini berdampak pada jebolan-jebolannya. Banyak yang bahkan tidak paham dengan bidangnya masing-masing. Tentu di luar kampus yang mempunyai otoritas dalam mengambil kebijakan untuk menentukan arahnya juga disebabkan oleh masing-masing mahasiswa itu sendiri.

Ada opini yang menyatakan mahasiswa sekarang tidak lagi se-kritis mahasiswa tahun 98’. Tentu saja masing-masing mereka punya era nya sendiri. Tapi bukan berarti mahasiswa harus keluar dari jalur mereka. Dengan kata lain, nalar kritis masih dibutuhkan meskipun tidak lagi untuk melakukan suatu peristiwa semacam gerakan reformasi. Mahasiswa yang didapuk sebagai agen perubahan (agent of change) harus mengambil peran terdepan dalam garda kebangsaan. Setidaknya mahasiswa mempunyai fungsi controller, yaitu sebagai pengawas jalannya roda pemerintahan. Ini dapat dimaklumi karena mahasiswa adalah orang-orang yang diyakini masih memiliki idealisme murni,tidak terpengaruh oleh pihak manapun. Mahasiswa sejatinya dibutuhkan dengan ide-ide, gerakan-gerakan, dan kritik-kritik mereka untuk membawa negara tetap pada arah yang seharusnya dan memberikan suatu nafas baru untuk memunculkan gebrakan-gebrakan ke depan.


Namun saat ini, banyak pihak yang beranggapan bahwa mahasiswa telah kehilangan marwah mereka. Mahasiswa dipandang tidak lagi kritis dan bersikap tidak peduli terhadap masalah kebangsaan. Meskipun ada gerakan-gerakan dan geliat-geliat untuk melakukan suatu protes dan menyampaikan aspirasi (tentunya juga aspirasi rakyat) tapi saat ini intensitasnya sudah tidak setinggi dulu. Hanya terhitung sebagai sebuah skala kecil yang dilakukan oleh jumlah yang tidak bisa dikatakan besar. Itupun belum dihitung dengan kemungkinan hanya untuk mencari eksistensi dan pengakuan semata. Disini terlihat kebanyakan mahasiswa telah melepaskan idealisme mereka dan seakan-akan dengan sadar maupun tidak sadar telah melepaskan peranan mereka.


Sosiolog Ariel Heryanto yang pernah tercatat sebagai salah satu guru besar di school of culture, history and languange, the Australian Antional University merupakan salah seorang dari sekian banyak yang melemparkan kritik. “Yang melumpuhkan aktivisme mahasiswa bukan semprotan gas air mata brimob. Tapi semprotan parfum paris. Daya tahan pejuang Hak Asasi Manusia tidak lagi diuji di ruang interogasi markas Kodim atau Polres. Tapi di plaza coffe shop, diskotik, dan persaingan karir”. Kritik ini kalau kita lihat dari satu perspektif memang seakan-akan pergerakan jalanan bagian yang tidak terpisahkan dari tubuh mahasiswa. Tentu saja turun ke jalan bukanlah satu-satunya alternatif untuk melakukan perlawanan. Di samping itu juga bisa melakukan perlawanan dengan tulisan, gagasan, dan pemikiran. Namun sekali lagi, hal-hal seperti ini sangat jarang terlihat pada mahasiswa masa sekarang ini. Namun secara esensial ini menunjukkan bahwa mahasiswa telah kehilangan peran mereka hanya oleh suatu hal yang remeh temeh. Mahasiswa disibukkan oleh urusan-urusan pribadi mereka.

 

Ini mungkin saja disebabkan karena mahasiswa terjebak dalam zona zaman mereka. Seperti perkataan Ariel, mahasiswa disibukkan dengan mode, percintaan, kesenangan, persaingan untuk mendapatkan suatu pengakuan, dan tentunya sibuk mengejar IPK tinggi yang tercata di atas kertas.

 

Kita bisa menyaksikan para mahasiswa berkumpul di cafe dan kedai-kedai kopi. Namun arah pembicaraan mereka kebanyakan bukanlah masalah yang berhubungan dengan hajat sosial. Tema mereka tidak jauh dari sekedar hal-hal yang sifatnya personal ataupun hal yang tidak produktif. Selain itu-juga dalam tongkrongan-kebanyakan sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Tidak jarang terlihat dua atau sekelompok orang duduk bersama tapi fokus mereka ke layar gadget dan tidak membangun interaksi antar sesama. Disini jelas terasa dampak negatif dari teknologi.

 

Selain itu di dunia perkuliahan saat ini gagal terciptanya sebuah rangsangan untuk nalar kritis tadi. Mahasiswa sekarang menagih dengan belajar gigih untuk mendapatkan nilai tinggi. Tapi sayangnya itu tidak dibarengi dengan peningkatan potensial dan daya pikir. Akibatnya, segala cara dilakukan untuk mengejar IPK 4.0 dan wisuda tepat waktu atau lebih cepat dari yang seharusnya. Karena persepsi tadi, godaan akan dunia kerjaan. Tapi faktanya tidak semua dari mereka yang memiliki nilai tinggi dan lulus tepat waktu mendapatkan pekerjaan yang diharapkan, bahkan tidak jarang menjadi pengangguran. Ini karena kekurangan skill yang ada pada setiap individu mahasiswa. Hal ini disebabkan rendahnya minat literasi tadi.

 

Tentunya keadaan ini bukanlah suatu hal yang bersifat abadi dan bukan sesuatu hal yang diinginkan. Karena mahasiswa merupakan pemimpin-pemimpin masa depan. Tentunya kita menginginkan calon-calon intelektual, cendekiawan, ahli, dan pemimpin yang memiliki skill dan kemampuan hal yang mumpuni. Untuk mencapai hal ini, pihak kampus dan civitas akademika harus bersama-sama menciptakan suasana yang membawa ke arah itu. Mahasiswa harus mengubah cara pandang mereka dan cara mereka berpikir. Mahasiswa harus menyadari peranan mereka sebagai pemegang tampuk pimpinan bangsa dan juga sebagai penyalur aspirasi masyarakat.

 

Mahasiswa harus keluar meninggalkan kenyamanan mereka, menyingkirkan kepentingan pribadi di atas kepentingan sosial dan kebangsaan. Mahasiswa harus membangun nalar yang kritis dan mampu melihat dengan cermat. Untuk mencapai hal ini salah satu yang tidak bisa dikesampingkan adalah meningkatkan minat literasi.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait