Opini › Feature


Stupid Mistake! Jadi Doktor Abang Itu

Sabtu, 06/09/2019 16:35 WIB | Oleh : Muhammad Iqbal (Pemimpin Redaksi LPM Suara Kampus Tahun 2018)

"Jangan jadi jurnalis stupid mistake," ujar kiriman yang saya terima dari grup Keluarga LPM Suara Kampus, seketika tekanan darah di tubuh saya naik, marah dan kesal saya dapatkan, dari ucapan tersebut, entah apa yang dipikirkan dari si pengirim saya tak tahu.

 

Yang jelas, kata-kata itu selalu terngiang ketika saya membuat kesalahan dalam penulisan berita. Tak jelas bagi saya, setiap menulis berita, kata "Stupid Mistake" selalu menghantuiku, ah sudahlah, saya terus mengetik berita itu, hingga berita itu dinaikkan ke portal, kata itu masih teringat.

 

Kata-kata semacam itulah yang juga membentuk karakter saya bagaimana menjadi seorang jurnalis yang profesional, kata "Stupid Mistake" bukan saja ditujukan kepada jurnalis yang membuat kesalahan dalam penulisan, namun juga untuk tingkah dan perilaku jurnalis di lapangan.

 

Kritikan yang ia lontarkan, bagiku adalah jamu. "Kritiknya adalah jamu, obat dari segala kesalahan," sautku setelah membaca grup yang membahas Stupid Mistake tadi.

 

Hingga kini, jujur saja, saya masih kesal dengan beliau, dengan kata yang tajam namun tetap santun mengajarkan. Kini orang yang membuat darah ku naik tadi, telah menjadi doktor. Tidak main-main disertasinya, banyak dimuat di media nasional, banyak judul berita yang mengangkat tentang dirinya.

 

"Diskursus Islam Kontemporer di Media Cetak, Kajian Terhadap Radikalisme dalam Artikel Populer Surat Kabar Harian Kompas dan Republika (2013-2017)". Begitulah judul disertasinya, keren bukan? Secara harfiah, ia telah berani menulis ke depan publik, bagaimana jati diri dari Harian Kompas dan Republika.

 

Dikutip dari Langgam.id, disertasi yang disusun oleh doktor ke-1.151 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah itu memaparkan, Kompas merupakan harian Cina-Jawa Katolik yang independen dan dikenal dengan jurnalisme akomodatif. Sedangkan Harian Republika dapat dipandang sebagai media cetak berhaluan ideologi Islam.

 

Hasil disertasinya menyimpulkan bahwa Harian Kompas menerbitkan artikel populer tentang radikalisme dengan perspektif moderatisme, humanisme, dan harmoni, namun bermuatan puritanisme dan liberalisme. Sedangkan Harian Republika menerbitkan artikel populer tentang radikalisme dengan perspektif, puritanisme, namun bermuatan liberalisme dan moderatisme.

 

Sudah jauh saya bicara, hingga disertasinya saya kenalkan, namun diriku belum memperkenalkannya, orang itu adalah senior saya di LPM Suara Kampus, Dr. Abdullah Khusairi, MA. pria yang akrab dipanggil Bang Dul ini lahir di Sarolangun, Jambi 16 April 1977.

 

Karirnya di dunia jurnalis sangat mentereng, khususnya di Sumatera Barat, dirinya pernah menjadi Redpel Edisi Minggu di Padang Ekspres, Manajer Program dan Produksi Padang Tv, Wapemred di Posmetro Padang hingga Pemred di Padang Today.

 

Selain di bidang jurnalis, beliau gemar membuat tulisan, dari buku hingga jurnal telah ia lahirkan. Sebut saja buku dengan judul Orang Meru yang juga laris di pasaran. Lihatlah kumpulan jurnalnya yang ada di Google Scholar, sangat banyak dan tentunya dibutuhkan oleh para sarjana untuk dikutip di skripsi.

 

Berkunjung ke rumah beliau, selain disambut dengan Wassalamualaikum, kita juga disambut dengan kumpulan buku yang tersusun rapi di rak-rak, ia sangat gemar membaca dan menulis. Ini perlu kita contoh sebagai kaum muda yang juga akan berkiprah di dunia jurnalis.

 

"Intinya kamu banyak membaca," ucapnya saat berkunjung ke LPM Suara Kampus untuk melihat adik-adiknya berjibaku dengan berita yang akan dinaikkan ke portal. Banyak pesan yang beliau sampaikan kepada adik-adiknya.

 

Usai dia menjadi seorang doktor, Bang Dul tetaplah guru bagi kawan-kawan saya di Redaksi. Eks Pemimpin Umum LPM Suara Kampus tahun 1998-1999 kini telah diwisuda sebagai doktor di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta, Sabtu (7/9/2019).

 

Beliau bukanlah dosen saya di UIN Imam Bonjol Padang karena beliau mengajar di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi sedangkan saya berasal dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Namun beliau sering saya jumpai di Redaksi LPM Suara Kampus, sebagai pembina dan senior yang selalu mendidik adik-adiknya bagaimana menjadi junalis yang hebat dari dirinya.

 

Selamat diwisuda Bang, semoga ilmu yang abang dapatkan berguna bagi orang-orang disekitar. Apa yang telah abang peroleh semoga diridhai oleh Allah SWT. Sekali lagi saya ucapkan selamat, banyak hal yang kami (kawan-kawan di redaksi) dapatkan dari ilmu yang telah abang sampaikan. Terimakasih banyak bang!



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan feature ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



Suarakampus