Opini › Feature


Abdullah Khusairi: Belajar dan Mengajar, Wajib Hukumnya

Sabtu, 07/09/2019 17:17 WIB | Oleh : Alif Ilham Fajriadi (Koordinator Liputan LPM Suara Kampus 2019)

“Kalau anda mau sukses, harus menguasai empat hal ini, pertama akademik yang bagus, wawasan yang luas dan link yang banyak,” ujar Abdullah Khusairi yang tempo lalu sudah mendapatkan gelar doktornya di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Dengan judul disertasi ‘Diskursus Islam Kontemporer di Media Cetak: Kajian Terhadap Radikalisme dalam Artikel Populer Surat Kabar Kompas dan Republika 2013-2017’.

 

Sontak ketika mendengar kalimat tersebut saya merasa bukan apa-apa di mata beliau. Menimbang dengan akademik saya yang kurang memadai, wawasan yang belum luas dan link yang tidak terlalu banyak. “Baik bang, terima kasih atas saran dan pelajarannya,” ucap saya pelan.

 

Beliau juga sering mengingatkan untuk menulis setiap hari dan membaca setiap saat, karena bagi dia, itu adalah hal utama untuk bisa sukses dalam dunia kewartawanan. “Jika kamu ingin jadi wartawan, bacaan dan kemahiran menulis harus diasah dari sekarang,” tuturnya di kantin Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, ketika saya bertanya bagaimana menjadi seorang wartawan.

 

Saya pernah bertanya lagi perihal bagaimana pendidikan itu di dalam hidupnya, melihat sepak terjang beliau dalam dunia pendidikan, bagi saya itu sudah sangat luar biasa. “Bang, kemarin itu sudah menjadi wartawan di Padang Ekspress dan Jawa Pos, serta pendiri Padang TV, menjadi presenter pembawa acara pula. Kok mau melanjutkan pendidikan, Bang?”. Beliau menjawab dengan singkat “Bagi saya mengajar dan belajar adalah wajib hukumnya,” tutur beliau singkat.

 

Beliau adalah dosen sekaligus teman bagi saya di kantin. Ketika selesai belajar di kelas bersama beliau, selanjutnya saya melanjutkan belajar di kantin dengan dia. “Sudah menulis apa hari ini?,” begitulah tanya beliau setiap saya duduk di sampingnya.

 

“Saya menulis setiap hari, baik untuk pegangan pribadi ataupun dikirim ke media cetak di seluruh Indonesia ini,” pungkasnya supaya saya termotivasi untuk menulis.

 

Beliau satu-satunya Dosen di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang saya panggil dengan sebutan ‘Abang’, baik di kelas ataupun di luar kelas. Dikarenakan pertama kali bertemu beliau bukan ketika mengajar di kelas, melainkan ketika memberikan materi jurnalistik di Lembaga Pers Mahasiswa Suara Kampus.

 

Selaku Pemimpin Suara Kampus pada era 1998-1999, Beliau rajin ke Redaksi (panggilan untuk Suara Kampus) untuk melihat ataupun memberikan arahan bagaimana baiknya untuk Suara Kampus ke depannya.

 

Di grub Whatsapp Keluarga Besar Suara Kampus, beliau mengirim foto memakai baju berwarna hitam dengan merah sebagai hiasannya, sembari mengenakan toga. Itu pertanda jika beliau telah selesai melaksanakan prosesi wisuda, dan tulisan ini bisa tercipta.

 

“Selamat wisuda bang, mohon berikan kami, adik-adikmu di Suara Kampus untuk bisa melanjutkan perjalanan sepertimu. Sekali lagi selamat bang, maaf hanya bisa mengirimkan selamat melalui sebuah tulisan.”  

 



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan feature ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Feature Terkait
Suarakampus