Opini › Opini


Kuliah Umum Tentang“Radikalisme”dan Sikap Kritis Intelektual

Rabu, 02/10/2019 18:56 WIB | Oleh : Anggi Rahmi, S.E

Saat ini kita hidup dalam lingkaran sekulerisme. Ketika islam hanya dipahami sabagai “agama ritual” semata,membuat kita sering terjebak dengan opini yang menyesatkan mengenai Islam itu sendiri.Tak terkecuali lingkungan akademik para intelektual sampai saat ini masih dihantui narasi sesat lagi menjerumuskan. Narasi-narasi Radikalisme yang digunakan untuk menyerang umat yang menginginkan pelaksanaan syariat islam secara kaffah, seolah menjadi agenda wajib tahunan pemerintah yang diselenggarakan di seluruh universitas di Indonesia.

 

Pada tanggal  26 September 2019, telah diadakan Studium General (kuliah umum) di UIN Imam Bonjol Padang tepatnya Aula Gedung Serba Guna,  dengan tema Islam dan Dinamika Radikalisme Pasca Reformasi. Pematerinya yaitu Bapak M. Adlin Sila, Ph.D.

 

Saat kuliah umum beliau berpesan kepada peserta pertama, hati-hati terhadap kelompok yang ingin menggantikan ideologi Pancasila dengan Khilafah (ideologi islam). Beliau mengatakan umat islam itu  melaksanakan ajaran islam secara kaffah, yang moderat. Kedua, contoh kelompok Role Model ajaran islam adalah Nahdlatul ‘Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Selanjutnya, beliau berpesan agar hati-hati terhadap kelompok yang ingin menggantikan Ideologi Pancasila, dan mengawasi pelaksanaan LDK di kampus. Sejenak kalimat Bapak Adlin membuat saya terdiam dan berpikir, akhirnya saya sadari bahwa, hal di atas merupakan sesuatu yang sudah biasa. Karena ini bentuk apel siaga rezim  yang memang tujuannya untuk mengkerdilkan sikap ktitis mahasiswa.

 

Jargon Radikalisme Karya Amerika

Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia (1990), radikal diartikan sebagai “secara menyeluruh”, “habis-habisan”, “amat keras menuntut perubahan, dan “maju dalam bepikir dan bertindak”. Dalam pengertian luas radikal mengacu pada pengertian hal-hal mendasar, pokok dan esensial. Dengan demikian dari sisi bahasa, istilah radikal sebenarnya netral, bisa positif dan bisa juga negatif. Kini, istilah radikal dimaknai lebih sempit sehingga memunculkan idom-idiom seperti “radikalisme agama”, “islam radikal”, dan sebagainya.

 

Pada tahun 2003, lembaga Think-Thank (gudang pemikir) Amerika serikat (AS), yakni Rand Corporation mengeluarkan sebuah kajian teknis yang berjudul Civic Democratic Islam. Secara terbuka, Rand Corporation membagi umat islam menjadi 4 kelompok, yakni Muslim Fundamentalis (radikal), Tradisionalis, Modernis, dan Sekularis (Victoria : 2019).

 

Setelah dilakukan pengelompokan tersebut, kemudian Barat memainkan politik belah bambunya dengan mengadu domba umat islam yang telah dikelompokan oleh Rand Corporation. Akhirnya, yang terjadi adalah umat islam yang satu terjebak dengan skenario Barat yang ingin merusak keharmonisan umat. Islam Fundamentalis (radikalisme) adalah target dari propaganda Think-Thank Amerika ini. Karena kelompok ini yang paling lantang menyuarakan pelaksanaan islam secara menyeluruh.

 

Dengan demikian jargon radikalisme bukanlah jargon yang bersifat objektif, namun telah dikemas untuk tujuan jahat, yaitu menghantam Islam dan kaum Muslim yang menginginkan tegaknya Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Untuk mewujudkan hal itu, Barat tidak bekerja sendirian, namun dengan meminjam tangan penguasa komprador di negeri-negeri Muslim termasuk Indonesia. Penguasa komprador negeri-negeri muslim senantiasa mengikuti arahan dari Barat dalam menghadang kebangkitan Islam melalui proyek radikalisme tersebut.

 

Sekulerisme Berlindung di Balik Jargon Radikalisme

Isu radikalisme yang marak di teriakan pada opini publik sejatinya adalah dalam rangka mengalihkan perhatian intelektual dari persoalan kegagalan sistem demokrasi dengan aturannya yang sekuler di negeri ini (Fathoni : 2019). Melihat kondisi perpolitikan dan nasib rakyat di Indonesia makin terpuruk. Komplikasi permasalahan menghampiri rakyat. Mulai dari kejanggalan pelaksanaan pemilu pada April lalu, berbagai elit politik yang dekat dengan pemerintah justru terjerat korupsi, RUU yang tidak memihak kepada rakyat, karhutla yang terabaikan.

 

Karena permasalahan yang tak kunjung usai ditambah lagi permsalahan tersebut datangya dari pemerintah akibatnya menyulut kemarahan semua elemen rakyat Indonesia. Termasuk dari kalangan intelektual mereka sudah tidak tahan dengan kekejian perpolitikan yang  lahir dari Demokrasi berbuah konstitusi yang menghasilkan rancangan undang-undang (RUU) rusak dan cenderung membuat kacau tatanan kehidupan rakyat. Pemerintah yang seharusnya mengayomi justru malah main hakim sendiri menggunakan RUU prematur tanpa landasan yang jelas.Sehingga ini membuat seluruh mahasiswa bersatu menyuarakan mosi tidak percaya pada aksi demo beberapa waktu lalu.

 

Tak luput pula peristiwa pembakaran, perburuan dan pembunuhan sadis terhadap  etnis non Papua (perantau) semakin brutal dilakukan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Tiap hari korban berjatuhan.Sikap tegas dari pemerintah terhadap aksi brutal ini tak kunjung tampak. Semua itu menunjukkan bahwa rezim hari ini telah gagal mengayomi negara dan tidak pantas di pertahankan lagi. Sehingga lengkap sudah kegagalan kapitalismedi segala bidang kehidupan. Tentu saja semua itu akibat hukum sekulerisme yang dibuat oleh manusia yang lemah dan terbatas. Maka hari ini wajar jika umat semakin bingung dan mulai tidak percaya  terhadap demokrasi karena selalu menghasilkan kebijakan yang tak pernah mampu memberikan solusi hakiki bagi kehidupan umat dan bangsa ini.

 

Cerdas Dalam Menangkal Serangan Opini Radikalisme

Bagi para intelektual pada umumnya, terkhusus yang berkecimpung di dunia perkuliahan, seharusnya kita tidak terbawa arus propaganda-propaganda keji isu radikalisme yang nyata-nyata ingin menghancurkan umat islam dengan cara mengadu domba sesama muslim. Kita harus mengkaji terlebih dahulusegala sesuatu yang kita dengar hari ini tentang islam, agar kita tidak terjebak dengan opini-opini yang merusak aqidah kita sebagai muslim.

 

Seharusnya dengan adanya serangan gencar secara bertubi-tubi  dari propagandis moderat sekuler itu, intelektual semakin melek terhadap persoalan negara dan rakyat hari ini.

Sehingga tidak mudah terdikte begitu saja. Inilah saatnya millenials berpikir kritis untuk menyikapi segala persoalan. Dengan meluaskan cara pandang kita melihat sesuatu yang ada di balik isu-isu paradoks akhirnya akan membuat kita terhindar dari sikap islamophobia. Sehingga tidak ada lagi intelektual yang terdoktrin dengan isu-isu sesat lainnya.

 

Oleh karena itu serangan keji bertubi-tubi ini harus memunculkan sense of belonging for Islam. secara sunnatullah hal itu akan menguatkan jati diri muslim-muslimah dengan identitas khas serta menyolidkan umat denagn kesatuan pemikiran dan perasaan islamnya. Serangan itu meningkatkan imunitas dan itu ada pada keyakinan terhadap ideologi islam dan kebanggaannya menjadi muslim-muslimah. Ia yakin bahwa aturan Allah  SWT adalah benar dan menyelamtakan. Ia pun yakin bahwa kicauan kelompok moderat adalah salah dan menjerumuskan (Rachmayanti : 2019). Sebab ia memahami isi dari Q.S Al-Ahzab ayat 36 yang artinya :

 

“Tidaklah patut bagi Mukmin laki-laki dan perempuan, jika Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain etntang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan RasulNya, sungguh dia telah sesat secara nyata”.

 

Dengan fakta tersebut sudah saatnya mahasiswa bangkit dengan membangun kembali kepribadian yang islami dalam tiap-tiap diri intelektual dan mulai bergerak untuk sesuatu yang dapat membawa perubahan pada umat dan bangsa sesuai dengan tuntunan Rasululah SAW karena hanya itu solusi permasalahan umat hari ini. Untuk itu kepada segenap sivitas akademika mari kita hiasi setiap pikiran dan kecerdasan intelektual hanya dengan syariat islam secara kaffah,demiterwujudnya kehidupan yang bermartabat dan mulia.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Banner Lima