Opini › Opini


Kontemplasi Kesaktian Pancasila

Rabu, 02/10/2019 19:14 WIB | Oleh : Gandi Putra (Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN IB Padang)

Setiap tahun dalam pusaran waktu pergantian masa, sejarah bangsa tidak boleh terlewatkan apalagi dilupakan dari pikiran-pikiran pendobrak masa depan bangsa. Jasmerah (Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah) begitu kata Bung Karno terkait itu pula ada juga unggkapan yang pernah di unggkapkan oleh seorang filosof yunani Cicero “Historia vitae magistra” bermakna “sejarah memberikan kearifan”. 1 oktober 2019 bukanlah hari yang bisa dilewatkan begitu saja, hari ini menjadi pembeda dari hari-hari sebelumya karena menyimpan sejuta kenangan tragis yang mengguncangkan sanubari dan jiwa bangsa, hari ini merupakan rentetan sejarah dari hari sebelumnya G 30 SPKI dimana saat itu terjadi insiden, enam jendral bersama orang lainnya dibunuh oleh antek-antek yang digambarkan pemerintah yaitu PKI sebagai upaya kudeta untuk memporak-porandakan dan menghancurkan eksistensi Pancasila sebagai dasar, falsafah bangsa indonesia,  pengibaran bendera merah putih  setengah tiang adalah wujud penghormatan pada pahlawan revolusi yang dibantai sadis oleh PKI.

 

Pengibaran bendera satu tiang penuh pada tanggal 1 oktober sebagai peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Surat keputusan Menteri Panglima Angkatan Darat kala itu yang dipimpin oleh Jendral Soeharto  pada 17 september 1966 sebagai permulaan dari peringatan Hari Kesaktian Pancasila dan 1 oktober 1966 menjadi peringatan pertama  di lakukan yang berlangsung di Lubang Buaya tempat dibuangnya para jendral oleh oknum-oknum PKI. Pembicaraan mengenai kesaktian pancasila tak terlepas dari ideologi negara itu sendiri sebagai arah, pedoman, dasar dan falsafah dalam hidup bernegara. Pancasila sebagai leimotive and leitstar (dorongan pokok dan bintang petunjuk) bagi rakyat indonesia, Pancasila dan kesaktian pancasila tidak bisa disematkan satu sama lain, melainkan punya hubungan yang integralistik, pancasila adalah dasar negara dimana 1 juni dianggap hari lahirnya, perdebatan panjang hingga 5 unsur yang menjadi kesepakatan secara kolektif dari para pendiri bangsa (the founding fathers), hari kesaktian Pancasila adalah hari dimana ideologi negara akan dihancur leburkan dan digantikan dengan ideologi komunis oleh PKI tapi berkat pertolongan Ilahi ideologi itu terselamatkan.

 

Pancasila merupakan satu-satunya ideologi negara yang memberikan kedamaian kepada orang yang mengamalkannya betapa tidak ke lima sila-sila yang ada ditubuhnya lahir dari tokoh-tokoh berhati mulia dan berjiwa besar, mengedepankan kepentingan bangsa dan negara ketimbang kepentingan individu serta golongan, ideologi negara yang tak akan ada duanya karena bisa menyatukan masyarakat dalam keberagaman dalam satu rumpun kesatuan, menurut hemat penulis pancasila sebagai pemberian yang amat besar dan anugrah yang indah dari yang maha kuasa untuk bangsa ini,  tinggal lagi bagaimana nilai-nilai yang terkandung didalamnya dapat diterapkan secara menyeluruh (kaffah) dalam kehidupan bernegara.

 

Kesaktian pancasila telah terbukti dalam kancah sejarah peradaban ideologi yang telah dan akan bertahan lama dari masa ke masa. Peringatan ini akan menjadi momentum dalam rangka mengembalikan paradigma bahwa pancasila sebagai lambang negara, dasar negara yang harus dijadikan pedoman bagi penerus bangsa, kesaktian yang ia miliki tak akan berbekas tanpa dorongan dan kemauan untuk menjadikan pancasila sebagai kompas dalam kehidupan. Ibarat kapal besar yang mengarungi lautan luas kendati diterpa angin dihembus gelombang diombang-ambing oleh badai lautan akan tetap dan terus melaju jika di nahkodai oleh seorang yang profesional dan berkemampuan tinggi, begitu juga dengan  bangsa  indonesia di era-era perkembangannya sebagai bangsa yang baru merdeka,  dirudung masalah dan diterpa badai kehidupan semua ituakan  aman terkendali dengan satu ideologi yaitu pancasila dimana itu dijadikan sebagai haluan dan kompas penunjuk arah dalam berbangsa dan bernegara.

 

Kesaktian pancasila tidak akan berarti dan bernilai jika tidak diwujudkan melalui karakter dan semangat pendirian bangsa yang memadai, pasalnya ia hanya akan menjadi sakti ditelan sejarah karena tidak mampu di teruskan oleh penerusnya dan kemungkinan akan menjadi tulisan indah, sakti diatas naskah tapi tak mampu mengaktualisasikannya dengan demikian pancasila sebagai ideologi negara yang di agung-agungkan akan menaruh asumsi tidak percaya dari generasi bangsa.

 

Saya berpandangan bahwa Kesaktian pancasila merupakan representasi dari sila-sila yang ada, adanya beberapa pemaknaan yang dapat diilhami dari ke lima sila pancasila tersebut, sila pertama berbicara mengenai religius (agama), kesaktian pancasila akan tampak sakti jika dalam penerapanya prinsip-prinsip agama diinterpretasikan sehingga menjauhkan rakyat dari sifat dan karakter yang  dapat merusak citra bangsa. Sila kedua, ketiga menyangkut soal kemanusiaan dan keadilan, bahwa negara harus menempatkan manusia dengan manusia lainnya pada tempat yang semestinya, dengan tidak melakukan diskriminasi yang berujung kepada kesenjangan sosial, bahkan keadilan secara ekplisit diartikan bahwa pada hakikatnya manusia harus adil untuk dirinya, adil untuk orang lain serta adil untuk lingkungannya. Silakeempat berbicara dalam konteks persatuan, Indonesia indah dengan keberagaman budaya, etnis, ras dan agama yang dipupuk dan disatukan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

 

Membinekakan dalam persatuan dan mempersatukan dalam kebinekaan untuk merajut tali persaudaraan dalam keberagaman. Persoalan-persoalan yang muncul baru-baru ini tentu berindikasi merongrong dan memperlemah tali persaudaraan sesama anak bangsa baik melalui permusuhan, pertentangan bahkan pembunuhan tentu sudah jauh dari nilai sakti persatuan yang diamanahkan oleh pancasila (jauh panggang dari api).Sila ke-lima mengenai demokrasi, mengutip pendapat dari abrahm lincoln bahwa demokarasi itu adalah  (goverment of the people, by the people, and for the people) pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Demokrasi diidentikkan dengan rakyat karena kedaulatan terletak ditangan rakyat.

 

Kesaktian pancasila akan terwujud dalam fragmen sejarah ketika hal itu mampu diwujudkan dalam realita berbangsa dan bernegara, tidak hanya menjadi angan-angan dan terbuai dengan kesaktian pancasila namun tak mampu diwujudkan. Memalukan dan memilukan jika nilai kesaktian pancasila ini tidak dilaksanakan.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Suarakampus