Opini › Opini


Wajah Buram Perguruan Tinggi Islam

Jumat, 06/12/2019 22:50 WIB | Oleh : Nandito Putra

Sebanyak 481 Perguruan Tinggi Islam belum terakreditasi. Hal itu mencuat ke publik saat komisi VIII DPR RI mempertanyakan masalah inikepada Kementrian Agama dalam rapat kerja pada awal November lalu. Dilansir dari antaranews.com, ketua komisi VIII DPR-RI Yandri Susanto mempertanyakan 481 kampus islam yang belum terakreditasi adalah masalah serius yang  harus segera ditangani.

 

Sebagai negara dengan populasi penduduk islam terbesar di dunia, tidak heran Indonesia berada pada posisi teratas dengan jumlah perguran tinggi islam paling banyak. Dikutip dari Republika.co, mantan menteri agama Lukman Hakim Syaifudin mengatakan bahwa Indonesia memiliki lebih banyak perguruan tinggi islam jika dibandingkan dengan negara-negara yang selama ini menjadi pusat pendidikan islam seperti Mesir dan Arab Saudi. Sejauh ini Mesir memiliki 55 perguruan tinggi islam, Arab Saudi punya 60 perguran tinggi islam, Malaysia punya 35 perguruan tinggi islam. Sementara Indonesia memiliki lebih kurang 6.000 perguruan tinggi keagamaan Islam.

 

Namun dari 6.000 perguruan tinggi keagamaan Islam yang ada, hanya 846 perguruan tinggi islam yang hingga saat ini terdaftar di website Direktoral Pendidikan Tinggi Islam dengan rincian: Perguran Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sebanyak 58, yaitu 17 perguruan tinggi berstatus UIN, 24 berstatus IAIN, dan 17 berstatus STAIN. Sementara itu hanya ada 788 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) yang terdaftar dengan rincian: perguruan tinggi berstatus universitas sebanyak 105, berstatus insitut sebanyak 67, dan dengan status sekolah tinggi sebanyak 616.

 

Melihat besarnya jumlah perguruan tinggi Islam yang ada di Indonesia, kuantitas seakan-akan mengesampingkan kualitas. Jumlah yang terlalu menjamur tentunya menjadi permasalahan tersendiri dalam peningkatan kualitas perguruan tinggi tersebut. Apalagi hal itu ditambah dengan adanya stigma masyarakat terhadap kampus islam yanga bisa dikatakan ’kurang baik’. Hal itu tentu bukan dari segi pendidikan atau nilai-nilai yang diajarkan di kampus islam tersebut. Namun yang menjadikan kebanyakan masyarakat kita menganggap sebelah mata keberadaan kampus islam adalah dilihat dari segi kualitas dan prospek masa depan lulusannya.

 

Dahulunya universitas berlandaskan islam didiriakan dengan semangat ingin mencetak kiai dan ulama-ulama islam terdidik yang diharapkan bisa menjadi penyeimbang, bahkan penyelamat umat di tengah gempuran permasalahan dan godaan duniawi. Misi mulia itu dikoridor secara ketat dalam bingkai Al-Qur’an dan hadits, tanpa membatasi hak untuk melakukan ijtihad. Kiblat akademis ketika itu lebih dominan ke Al-Azhar Kairo, yang diamini sebagai pusat kajian islam terbesar dan terlengkap. ketika itu banyak bermunculan kiai-kiai dan ulama besar yang disegani karena konsistensinya dalam mempertahankan pemikiran keislaman yang muncul berdasarakan Al-Qur’an dan hadits.

 

Tampakanya, kini semua tinggal kenangan dan ekspetasi belaka. Apa yang terjadi hari ini malah sebaliknya. Cita-cita semula yang melatarbelakangi digagasnya kampus berlandaskan islam belum lagi tercapai secara maksimal setelah hampir setengah abad lebih berdiri. Hal itu mungkin disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya yaitu, rendahnya kualitas yang disuguhkan dan terlalu menjamurnya jumlah kampus islam. Banyak itu bagus, namun kualitas dan persaingan tetap harus diperhatikan, hal ini harus menjadi perhatian pemerintah agar perguruan tinggi islam tidak lagi dianggap sebelah mata (pelarian jika tidak lulus di PTN).

 

Pemerintah dalam hal ini diwakili oleh Kementrian Agama dan Kementrian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) sudah melakukan berbagai upaya dalam memajukan dan membangun kampus Islam yang ada. Seperti peralihan status dari IAIN menjadi UIN, yang mana kampus berlandasakan islam bisa membuka jurusan-jurusan umum seperti halnya di universitas negeri biasa.

 

Tetapi terlepas dari itu, perguruan tinggi islam masih saja dinomor duakan keberadaanya dibandingkan dengan keberadaan universitas umum. Adapun program studi yang paling banyak diminati tetap saja yang bernuansa umum, seakan-akan jurusan yang menjadi ciri khas dan urat nadi dari Universitas Islam itu tidak menjadi pilihan utama. Pada akhirnya sama saja, kampus islam kehilangan jati dirinya yang ditandai dengan sepinya peminat di Fakultas yang bernuanasa Islam, seperti Fakultas Ushuludin, Adab, Dakwah, Syari’ah dan lain sebagainya.

 

Seperti yang banyak terjadi pada PTKIN yang sudah beralih status dari IAIN menjadi UIN. Karena sudah berstatus UIN yang setara dengan Universitas umum lainnya dan diperbolehkan membuka jurusan umum. Yang terjadi malahan, peminat universitas itu meningkat tetapi itu disebabkan oleh daya tarik jurusan umum seperti teknik, pertanian, FMIPA dan sebagainya. Sedangkan jurusan yang kosentrasinya keilmuan Islam malah sepi dan berkurang. Sungguh ironi tentunya.

 

Apa yang telah dipaparkan di atas bisa disebut sebuah kemunduruan bagi dunia pendidikan tinggi islam. Pemerintah sangat diharapkan untuk lebih serius dalam membangun dan memperbaiki apa yang telah dijalankan selama ini. Jangan sampai kemajuan zaman dan teknologi membuat keberadaan dan eksistensi perguruan tinggi islam makin terkucilkan. Inovasi-inovasi harus selalu digagas dan diterapakan. Kita tidak bisa melupakan bahwa pendidikan yang berlandaskan Islam pernah membawa umat ini berada pada masa emasnya di abad pertengahan yang banyak melahirkan ilmuan dan cendikiwawan muslim dengan sumbangsih yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban. Apalagi Indonesia sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, sudah sepatutnya kita menjadi kiblat pendidikan islam.

 



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Banner Lima