Opini › Opini


Golput dari Pemikiran Golput

Rabu, 18/12/2019 14:25 WIB | Oleh : Latif Purnomo (Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah UIN IB Padang)

Indonesia adalah negara yang besar dan kaya akan keanekaragaman. Dari Sabang sampai Merauke hidup rukun dan damai dalam bingkai Pancasila dengan Bineka Tunggal Ika-nya. Perlu seni dalam mengelola perbedaan yang melekat dalam diri Indoensia. Suara dan aspirasi rakyat tidak boleh dibendung dan dihentikan lagi, karena ini sudah bukan zamannya.

 

Kebebasan berspendapat, berserikat dan berkumpul diakomodir dalam bingkai demokrasi. Sebuah sistem yang tidak sama dari asal negrinya, Paman Sam. Indonesia menganut Demokrasi Pancasila yang syarat dengan nilai-nilai Ketuhanan dan gotong-royong. Sementara demokrasi di Negeri Paman Sam, lekat dengan unsur liberal yang memberikan kebebasan kepada rakyatnya sebebas-bebasnya.

 

Lama sudah, kisaran 21 tahun kita baru bebas dari rezim otoriter dan menghirup oksigen demokrasi guna kebebsan berpendapat. Butuh pertumpahan darah dalam aksi mahasiswa dalam memperjuangkan reformasi syarat demokrasi. Rentetan perjuangan itu berlanjut dengan diamandemennya Konstitusi Indonesia. Presiden dipilih oleh rakyat dengan menghilangkan wewenang MPR.

 

Kabar ini menjadi angin segar dalam dunia demokrasi di Indonesia. Suara minoritas, suara sumbang, dan suara parau di ujung negeri bisa didengarkan dan terjamah elit pemerintah.

 

Lepas dari rezim otoriter dan menghirup oksigen demokrasi, tidak serta merta menjadikan warga Indoensia melek dengan hak dan kewajibannya dalam pemilihan umum. Kita mengenalnya dengan “golput” kependekan dari Golongan Putih. Virus golput tidak serta merta berkembang di Indonesia tempo dulu. UIN Imam Bonjol yang sudah sesepuh dan kokoh berdiri, tidak luput juga dari virus golput. Mereka yang golput menyebutnya “HAK”, saya menyebutnya golput adalah “PENGHIANATAN”.

 

Tanggal 19 Desember 2019, akan menjadi saksi bersejarah di kampus UIN Imam Bonjol Padang. Pemilihan Presiden Mahasiswa baru akan menandai kejumuda kinerja SEMA dan DEMA Universitas tiga tahun belakangan. Vakumnya lembaga sekelsa SEMA-U dalam kurun waktu tiga tahun terakhir meginisiasi dibentuknya Badan Pemilihan Umum Mahasiswa (BPUM) untuk mengkomandoi pemilihan umum.

 

Dibentuknya BPUM tidak serta memberi angin segar bagi mahasiswa. Suara riak dan parau mengema untuk menggiring opini publik, “suarakan GOLPUT, kami menolak pemira, jika hatimu bergetar melihat kemungkaran maka kita adalah kawan, tolak BPUM, jangan rusak demokrasi” dan masih banyak redaksi lainnya.

 

Kampanya golput yang marak disuarakan oleh barisan sakit hati, terkesan berantakan dan tidak solutif. Vandalisme dan menyamak pandangan mata yang itu tidak selaras dengan cita-cita kampus UIN Imam Bonjol Padang yang bersih dan tertata rapi. Menjaga kebersihan, ketertiban, dan arus demokrasi di UIN Imam Bonjol adalah kewajiban seluruh warga kampus.

 

Cita-cita mulia kampus untuk mewujudkan itu semua tidak akan terwujud jika hanya segelintir orang yang bergerak. Termasuk untuk mensukseskan PEMIRA (Pemilihan Mahasiswa Raya), butuh keberanian kita untuk melawan keinginan golput. Menjadi barisan abu-abu dan tak tau kemana aspirasi akan disuarakan.

 

Kita harus bisa menangkap nuomena dari sebuah fenomena. Apa yang perlu kira pahami dari suara nyaring tentang golput pada PEMIRA 2019 ini? Kandidat yang akan mencalon hanya dua pasang. Pasangan nomor urut satu atas nama Febriyan dan Badi, kemudian pasangan nomor urut dua atas nama Wanda dan Jeni. Kedua pasangan adalah putra-putra terbaik bangsa. Kedua pasangan memiliki visi dan misi yang terarah guna UIN Imam Bonjol yang lebih baik kedepannya.

 

Kampanye sampai disuarakan di antara kedua pasangan. Tidak ada negative campaign dalam upaya menggaet suara. UIN Imam Bonjol perlu perubahan dan Kreativitas Tanpa Batas dalam upaya menggapai cita-cita 2037. Menjadi kampus yang kompetitif di ASEAN pada 2037 butuh Perjuangan Totalitas. Semua elemen perlu bersinergi untuk menjawab tantangan itu.

 

Cita-cita itu perlu dibangun dari dasar, dari tatanan lembaga terendah Himpunan Mahasiswa Jurusan, Senat Mahasiswa Fakultas, Dewan Mahasiswa Fakultas, Senat Mahasiswa Universitas, Dewan Mahasiswa Universitas, dan jajaran birokrasi UIN Imam Bonjol Padang. Semua perlu berkolaborasi, tidak bisa hanya beberapa lembaga yang pro-aktif. Menjadi kampus yang kompetitif tahun 2037 bukanlah sebuah bualan belaka ketika semuanya bersinergi.

 

Momentum ini yang sedang terpuruk di UIN Imam Bonjol Padang. Tiga tahun berturut-turut Senat Mahasiswa Universitas mandeg dari kewajiban dan tanggung jawab. Sumpah jabatan untuk tidak diwisuda selama menjabat hanya bualan belaka. Seperti yang disampaikan Donal Trump dalam sesi debatnya dengan Hillary, all talk no action, sounds good doesn’t work, never going to happen. Seklumit argumen ini menggambarkan sebagian penggurus yang ternyata tidak loyal dengan amanhnya dan terkesan melakukan sumpah “boongan”. Kevakuman SEMA-U ini yang melandasi dibentuknya BPUM.

 

Kondisi ini dianggap mematikan nilai demokrasi di tataran UIN Imam Bonjol Padang. Rabu 18 Desember 2019, spanduk bekas yang ditulis dengan pernyataan menolak PEMIRA bersliweran di beberapa titik. Blok M UIN Imam Bonjol Padang menjadi titik yang ramai dengan pajangan spanduk bekas yang bernuansakan suara golput. Selain Blok M, gedung empat Fakultas Syariah juga menjadi titik penempelan sapnduk bekas yang terkesan tidak ramah lingkungan dan menyakitkan mata.

 

Keinginan mahasiswa untuk berdemokrasi tidak bisa dibendung. Riak dan parau menolak PEMIRA yang seharusnya diminimkan suaranya dalam menggalakkan anti PEMIRA 2019 di UIN imam Bonjol Padang, bukan suara mahasiswa yang diminimkan dalam menyampaikan aspirasinya.

 

Perlu kita pahamai, memilih salah satu dari dua pilihan adalah sebuah hak. Golput itu adalah hak penghianatan. Kandidat yang terpilih harus dihormati dan dipatuhi jika aturannya membawa maslahah. Demo adalah hak mahasiswa apabila ada yang tidak sesuai degan aturan yang seharusnya. Ada sebuah analogi yang menarik dalam mengambarkan mahasiswa yang tidak mau menyalurkan haknya sebagai pemilih.

 

Kumpulan itu seperti anak kecil yang lapar tapi gengsi untuk menerima pemberian. Coba resapi, golput adalah hak. Jika nanti salah satu dari 01 atau 02 menang dan membuat kebijakan, anda tidak layak demo. Anda tidak ikut dalam proses. Mahasiswa yang golput kemudian ngeluh dan demo setelah ada pasangan calon yang terpilih, itu seperti anak kecil yang kelaparan. Teriak “lapar....lapar....lapar” tapi tidak mau dikasih makan.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Suarakampus