Opini › Opini


Pareidolia: Fenomena Kognitif yang Mistis atau Unik?

Kamis, 19/12/2019 11:49 WIB | Oleh : Khoirul Ansori Siregar (Mahasiswa Psikologi Islam UIN IB Padang)

Pernahkah anda menatap langit yang berawan, kemudian melihat sekumpulan awan yang mirip sekali dengan bentuk wajah seseorang, lengkap dengan ekspresinya? Nah, inilah yang dinamakan dengan pareidolia. Sebuah fenomena psikologis yang begitu unik namun juga terbilang aneh. Terus, apa sih yang dimaksud dengan pareidolia?

 

Pareidolia (Par-i-doh-lee-a) adalah sebuah fenomena psikologis yang dimana seseorang dapat mengenali suatu bentuk, pola, atau objek tertentu biasanya wajah padahal yang dilihat adalah benda mati atau tempat tidak biasa. Dalam ilmu kesehatan, fenomena seperti ini terkadang digolongkan ke dalam ilusi visual (keliru menangkap dan mengartikan suatu gambar) atau bahkan halusinasi visual (seolah-olah melihat wajah padahal tidak ada apa-apa).

 

Secara umum, belum ada data mengenai berapa banyak orang yang pernah atau sedang mengalami pareidolia. Namun, diperkirakan cukup banyak orang yang pernah merasakan fenomena tersebut, di mana kaum hawa lebih unggul daripada kaum adam yang merasakan fenomena tersebut. Banyak juga pertanyaan bahwa fenomena ini termasuk penyakit atau tidak. Secara umum, otak kita manusia memiliki area yang bertanggung jawab terhadap pengenalan dan persepsi akan wajah, yaitu pada bagian depan (frontal) dan samping (temporal) otak.

 

Beberapa ahli berpendapat bahwa sebagian orang memang terlahir dengan kecenderungan untuk langsung memproses suatu benda mati menjadi bagian-bagian wajah tertentu sehingga pareidolia dianggap sebagai sesuatu yang normal, tak perlu dikhawatirkan. Namun, ada beberapa peneliti yang berpendapat lain. Mereka berpendapat bahwa munculnya fenomena ini dapat menjadi salah satu gejala adanya penyakit lain dalam sistem kognitif manusia, terutama yang berhubungan dengan sistem saraf pusat manusia.

 

Akan tetapi, ini juga tergantung pada seberapa sering kita mengalami fenomena tersebut. Dan jika memang kita sangat sering mengalaminya atau saat mengalaminya kita benar-benar yakin melihat wajah seseorang, bisa jadi ada masalah tertentu dengan kesehatan anda. Beberapa penyakit yang sering dikaitkan dengan pareidolia adalah:

  1. 1.      Lewy Body Dementia

Yaitu suatu gejala yang cukup sering muncul kepada orang yang pikun atau sering juga diartikan orang sebagai halusinasi visual. Halusinasi visual sendiri terjadi karena degenerasi bagian tertentu serta terdapatnya penumpukan Lewy Body (sejenis plak berupa protein ) pada beberapa area dalam otak manusia.

  1. 2.      Penyakit Parkinson

Merupakan suatu penyakit yang sudah cukup banyak ditemukan dalam masyarakat. Ciri ciri penderita penyakit parkinson ini sendiri antara lain, penderita berjalan lambat disertai langkah kecil-kecil. Hal tersebut dipercaya terjadi karena adanya ketidak seimbangan zat-zat pengatur di dalam otak manusia.

Beberapa penelitian, sejumlah orang yang menderita penyakit parkinson sendiri melaporkan bahwa mereka sering melihat wajah atau sosok seseorang atau benda lainnya, padahal sebenarnya tidak ada. Dan para dokter yang mendalami akan penyakit ini beranggapan bahwa di beberapa area otak manusia yang khususnya berhubungan dengan persepsi pengelihatan dan halusinasi diyakini berperan dalam hal ini.

Seperti yang kita ketahui bahwasanya, pareidolia adalah sebuah fenomena yang terbilang unik yang terjadi hanya kebeberapa orang saja. Namun, dari bidang kesehatan sendiri, dokter mengatakan bahwa fenomena pareidolia bisa didiagnosis dengan melakukan berupa tes yang berisikan gambar-gambar tertentu. Subjek sendiri yang diuji nantinya akan ditanya pendapatnya tentang gambar-gambar yang telah disiapkan dan responnya nanti akan diberi rating (nilai), terutama ketika si subjek mengatakan bahwa ia melihat gambar menyerupai seseorang. Dan metode tes ini bersifat sangat subjektif, sangat tergantung pada respon subjek yang diuji. Dokter sendiri juga akan melihat gejala lainnya yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif otak seseorang.

 

Namun, selain dikaitkan dengan penyakit, pareidolia ini juga sering digunakan menjadi suatu kelebihan oleh orang yang memilikinya. Leonardo da Vinci seorang pelukis dan pemahat terkenal, sempat menuliskan pendapatnya tentang fenomena pareidolia, yang disebutnya sebagai suatu peranti artistik. "Saat kita menatap dinding yang ternoda atau terbuat dari gabungan banyak macam batu, kita akan menciptakan sebuah situasi di mana kita merasa dapat melihat kemiripan," tulisnya dalam buku catatannya. Selain itu, para seniman juga memanfaatkan fenomena ini. Mereka dapat memasang gambar-gambar tersembunyi dalam karyanya. 

 

Pada lukisan-lukisan bunga pelukis Amerika Georgia O'Keeffe (1887-1986) misalnya, para pengamat seringkali bisa menangkap gambar lain. Dan berbagai kejadian pareidolia yang berbau religius juga pernah ditemukan, yang paling terkenal atau paling terekspos adalah kain kafan dari Torini ( Shourd of Turin). Yang di mana sepotong kain memiliki gambaran seorang pria yang tampak menderita dan telah disiksa secara fisik dengan siksaan penyaliban pada dirinya (pria tersebut ). Dan sekarang kain kafan tersebut disimpan di Kapel kerajaan di Katedral Santo Yohanes Pembabtis di kota Torino, Italia.

 

Sampai saat ini, persoalan tentang benar atau tidaknya fenomena akan kain kafan tersebut masih menjadi perdebatan sengit di antara para ilmuwan dunia, sejarawan, dan beberapa penulis. Mereka masih memperdebatkan mengenai waktu kapan dan bagaimana gambaran di atasnya ( kain kafan itu ). Banyak  orang yang mempercayai bahwasanya kain itu adalah kain kafan dari Yesus Kristus pada saat ia dimakamkan. Selain itu, pada tahun 2007, di Singapura, kalus ( seperti lumut ) pada sebatang pohon yang dianggap mirip dengan wajah kera dipercayai orang yang melihatnya sebagai penjelmaan “Dewa Kera”, hingga kemudian banyak orang ataupun wisatawan yang memberi penghormatan kepada pohon tersebut.

 

Hingga saat ini fenomena pareidolia belum bisa disimpulkan menjadi sebuah jenis penyakit, karena belum ada bukti yang kuat. Oleh karena itu, bagi kita yang pernah mengalaminya tidak perlu takut atau khawatir. Namun, alangkah lebih baiknya untuk melakukan sekadar konsultasi dan menceritakan keluhan yang dirasakan kepada ahlinya.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Suarakampus